Langsung ke konten utama

Pak Bi, Orang yang Mau Tahu Detail

Beberapa bulan sebelumnya, sekira empat tahun lalu, tiba-tiba saya menerima panggilan dari nomor asing. Itu lah momen pertama kali kami berkenalan. Beliau menyampaikan perlu dukungan dalam pengembangan suatu koperasi konsumsi tingkat sekunder. 

Saya menyapanya dengan “Pak Bi”. Beliau orang yang mau tahu detail. Bila sedang diskusi, akan mencecar habis sampai ke akar. Itu lah yang terjadi bila kami sedang rapat di kantornya, Jakarta. 

Presentasi akan dimulai saya dengan uraian konsep makronya. Lalu akan didetailkan oleh tim yang lain. Saat itu, Pak Bi dan Pak Firdaus, serta yang lain, menyimak dengan khidmat. Di tengah-tengah diskusi, beliau bisa langsung interupsi untuk bertanya atau memperjelas. 

Beliau sangat teliti menyimak, sehingga kadang saya dan teman-teman merasa grogi. Tambah, secara intelektual beliau terus berpikir. Seperti suatu tempo beliau hubungi saya untuk diskusikan soal bukunya “Sistem Ekonomi Pancasila”. Saya sampaikan secara obyektif, “Konstruksi negara pasca reformasi sudah berubah Pak Bi. Hal itu yang akan menjadi tantangan untuk mengimplementasikan konsep itu”, kata saya.

Saat itu saya belum membaca persis bukunya. Saya minta untuk dikirimi. Betul, seminggu kemudian bukunya datang. Tiga buah. Saya baca dengan seksama. Pikiran makro beliau yang mendudukkan para pelaku ekonomi, termasuk BUMN dan tentu saja mendudukkan koperasi secara strategis di perekonomian Indonesia. Koperasi sebagai soko guru, dengan membayangkan seluruh elan vital ekonomi masyarakat bergerak dan digerakkan melaluinya.

Saya mengenalnya lebih sebagai seorang intelektual yang terus mencari dan berpikir. Mencari pendekatan, model serta skema yang tepat untuk membangun dan mengembangkan koperasi. Beliau sangat aware dengan itu, sehingga berbagai proyek sosial didanainya untuk mencari model yang fit. Semangatnya masih menggebu-gebu untuk melihat koperasi sukses di negeri ini.

Tak banyak orang yang purna tugas dan masih concern pada apa yang dulu dikerjakannya. Toh masa beliau sebagai Menteri Koperasi telah lewat, jauh di masa Orde Baru dulu. Namun aktivitasnya sampai saat ini masih concern di dunia koperasi. Saban harinya digeluti dengan tema itu.

Tak heran ketika kabar  itu viral di grup-grup WA, banyak orang berduka. Sebab sosoknya banyak hadir di ruang-ruang pemberdayaan dan pengembangan koperasi. Koperasi sektor riil khususnya, pertanian dan konsumsi. Juga Koperasi Unit Desa (KUD). 

Pada yang terakhir, beliau pernah hubungi saya panjang-lebar setelah membaca kolom saya di Kompas.com tentang KUD. Beliau protes, “Kamu ingin membubarkan KUD?” Buru-buru saya klarifikasi. “Bukan Pak Bi, di beberapa forum (provinsi/ kabupaten), saya temui bahwa KUD sebagian besar telah keluar dari core business awalnya. Secara negatif itu bisa dibaca sebagai keluar dari khittahnya. Secara positif, itu bisa dibaca sebagai bentuk adaptasi menyesuaikan dengan zaman. Nah apa yang saya tawarkan adalah re-engineering Pak Bi, bukan membubarkan”, terangku.



Betul, beliau sangat concern pada KUD. Di beberapa proyek kerjasama di mana saya, melalui Kopkun Institute terlibat, sasarannya adalah KUD. Proyek pendampingan itu berlangsung selama satu tahun. Alhamdulillah, ritel-ritel KUD yang kami dampingi masih berjalan dan berkembang sampai sekarang. 

Tiga kali kami terlibat dalam beberapa proyek pengembangan. Seperti biasa presentasi itu dimulai konsep makronya. Lalu turun ke skema detail sampai hitung-hitungan. Apa yang saya masing ingat sampai sekarang adalah bagaimana beliau secara tepat menembak soal efektivitas dan efisiensi. “Kita bicara efektivitas programnya dulu. Bagaimana yang kita deliver bisa memberi manfaat dan dampak nyata. Efisiensi itu nanti”, tuturnya.

Tak jarang kami harus debat panjang. Itu membuat peserta yang lain terdiam. Lalu biasanya Pak Firdaus dan Pak Arsad menengahi. Itu membuktikan beliau tidak main-main, benar-benar jeli menyimak serta memberi feedback suatu konsep. Rapat seperti itu berlangsung berjam-jam. Hal itu rasanya seperti sedang ujian. Bikin dag-dig-dug.

Entah saya yang sok tengil atau tak tahu sopan santun. Namun saya merasa nyaman dan aman saja saat berdebat dengan beliau. Mempertahankan konsep yang apa menurut kami tepat. Tak gentar dengan serangan tajamnya. Itu karena sikapnya yang obyektif dan terbuka. Menerima ide baru dan juga kritik. Ya, saya pernah mengkritiknya dalam suatu momen pada proyek kerjasama itu.

Beliau orang yang terbuka pada wawasan baru. Suatu tempo kami rapat dan diskusi, tiba-tiba beliau melempar tanya, “Firdaus, jadi bagaimana koperasi di zaman abundance ini?” Hah, beliau mengikuti diskursus soal abundance juga. Saya tersentak saat itu. Saya katakan, “Ya kita harus lakukan adaptasi Pak Bi. Transformasi digital adalah salah satunya”.

Ternyata beliau merespon. Sembilan koperasi primer yang didampinginya, sebagian KUD, lakukan transformasi digital. Pada rapat berikutnya saya diminta mempresentasikan teknologi yang dimaksud. Pak Bi suka dengan tawaran teknologi yang sampaikan, yang memungkinkan pelayanan dilakukan secara digital bagi anggota-anggota koperasi. 

Saya melihatnya dalam forum diskusi di sebuah webinar dua bulan lalu. Ternyata itu adalah yang terakhir saya mengikuti diskusi beliau. Malam-malam Pak Firdaus mengirim WA bahwa beliau meninggal dunia. Salah satu stafnya, Mbak Ari, mengonfirmasi Pak Bi terpapar corona dan dirawat sejak 17 Desember 2020 yang lalu. 

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Pak Bi, njenengan orang baik. Semoga husnul khotimah dan amal ibadah njenengan diterima Allah. Semoga legacy njenengan akan terus tumbuh dan membawa manfaat besar bagi masyarakat. Selamat jalan Pak Bi. Suatu ketika kita akan bertemu lagi untuk sekedar diskusi atau debat kecil. []

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Ide itu Bermula dari Vacuum Cleaner

Dikisahkan secara subyektif oleh: Firdaus Putra, HC.  Beli Vacuum cleaner Pagi ini saya dapat pesan WA dari Pak Hadi, tukang gorengan yang mangkal di pinggir kampus FISIP, Unsoed. Ia mengirim, “Halo, Mas. Mohon maaf mengganggu waktunya, saya mau balikin vacuum cleaner punya PEDI, harus ketemu siapa?”. Lalu vacuum cleaner itu tiba di Kopkun. Dan pertama kalinya saya lihat dan menyobanya sejak pertama kali dibeli. Jadilah saya ingat memori yang menempel pada  vacuum cleaner itu. Tak ada yang spesial dari bentuk vacuum cleaner di atas. Dibeli sekitar tahun 2017 sebagai inventaris Kopkun Institute. Sebabnya, saat itu Kopkun Institute punya ruang pelatihan beralaskan karpet. Jadilah butuh vacuum cleaner agar bersih dari debu. Lalu Kopkun beli gedung di depan Unsoed, yang sekarang menjadi Kantor Pusat. Aktivitas direlokasi semua ke Kantor Pusat dari sebelumnya di Kopkun 3, Teluk, Purwokerto Selatan. Ruang pelatihan itu jadi tak terpakai, begitu juga si vacuum cleaner . Lahir Ped...

Omnibus Law Koperasi, Pendirian Cukup Tiga Orang

Oleh: Firdaus Putra, HC. Pemerintah sedang menyiapkan undang-undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. Tujuannya ciptakan lapangan kerja baru dengan membangun regulasi yang memudahkan masyarakat berbisnis. Pasal pada undang-undang yang dinilai menghambat akan dihapus. Diprediksi omnibus law akan menyelaraskan 82 undang-undang lainnya. Ini terobosan yang luar biasa. Saat ini bila masyarakat ingin mendirikan koperasi, maka harus mengumpulkan sedikitnya 20 orang. Itu mengacu UU 25/ 1992 tentang Perkoperasian. Artinya 20 orang itu harus sepemikiran untuk membangun perusahaan bersama. Tentu tidak mudah, bukan? Bandingkan dengan Perseroan Terbatas (PT) yang cukup dua orang. Menurut saya pasal tentang 20 orang ini perlu dimasukkan dalam omnibus law mendatang.   Mengapa 20 Orang Penjelasan pasal 6 UU 25/ 1992 menyebutkan alasannya karena masalah kelayakan usaha. Mari kita rekonstruksi kondisi pada saat undang-undang itu lahir. Tahun 1990an kondisi ekonomi Indonesia sangat ...

Dunia Banyak Belajar dari "Chicken Soup":

dari DiaryBlog ke JournalBlog Oleh: Firdaus Putra A. Anda pasti pernah membaca buku Chicken Soup Series pada sekuel hidup tertentu, bukan? Saya membaca buku seperti itu saat duduk di bangku SMA. Cerita-cerita di dalamnya sungguh inspiratif dan membangkitkan semangat. Seringkali, cerita di dalamnya adalah true story , meski tidak harus succes story . Di Indonesia, tetralogi Laskar Pelangi yang dihelat Andrea Hirata bisa digolongkan dalam konteks serupa. Laskar Pelangi dengan kisah pilu dan heroiknya, merupakan teladan nan inspiratif bagaimana si Hirata kecil berusaha menggapai mimpinya ke Paris. Oleh komunitas penulis, buku itu dikategorikan sebagai literary non-fiction . Yakni sebuah karya sastra yang berbasis kisah nyata (non-fiksi). Di luar negeri, banyak buku kisah yang kaya inspirasi serupa Chicken Soup . Salah satu penulis yang termasyhur adalah Paulo Coelho dengan The Alchemist nya. Buku itu berkisah bagaimana seseorang (Santiago) yang ingin mencari dan membangun Per...