Oleh: Firdaus Putra, HC. Saya menjadi kolumnis Kompas.com sejak Mei 2017. Sampai saat ini baru 77 kolom yang dibaca 800 ribu kali. Angkanya tidak sebanding dengan kolumnis kawakan lainnya yang sudah sampai jutaan kali dibaca. Seperti halnya kolumnis lainnya, saya menulis dengan tujuan tertentu. Pertama, membangun diskursus publik, misal soal perkoperasian dan ekonomi sosial pada umumnya. Kedua, untuk melakukan advokasi kebijakan. Yang pasti kolom-kolom saya berangkat dari kegelisahan seorang warga negara yang berusaha memaknai hal-ihwal kehidupan bersama. Apa yang saya maksud sebagai kehidupan bersama adalah soal kemasyarakat, kebangsaan dan kenegaraan. Singkatnya, ihwal res publica. Sebab saya meyakini dalam alam demokrasi, saya, satu dari 290.125.073 warga lainnya, memiliki hak yang sama untuk menyuarakan pandangan dan pendapat. Syukurnya, dilindungi konstitusi. *** Kompas.com memberi ruang bagi untuk itu. Bahkan bukan hanya ruang, lebih tepatnya menjadi amplifier, yang memungki...
Beberapa bulan sebelumnya, sekira empat tahun lalu, tiba-tiba saya menerima panggilan dari nomor asing. Itu lah momen pertama kali kami berkenalan. Beliau menyampaikan perlu dukungan dalam pengembangan suatu koperasi konsumsi tingkat sekunder. Saya menyapanya dengan “Pak Bi”. Beliau orang yang mau tahu detail. Bila sedang diskusi, akan mencecar habis sampai ke akar. Itu lah yang terjadi bila kami sedang rapat di kantornya, Jakarta. Presentasi akan dimulai saya dengan uraian konsep makronya. Lalu akan didetailkan oleh tim yang lain. Saat itu, Pak Bi dan Pak Firdaus, serta yang lain, menyimak dengan khidmat. Di tengah-tengah diskusi, beliau bisa langsung interupsi untuk bertanya atau memperjelas. Beliau sangat teliti menyimak, sehingga kadang saya dan teman-teman merasa grogi. Tambah, secara intelektual beliau terus berpikir. Seperti suatu tempo beliau hubungi saya untuk diskusikan soal bukunya “Sistem Ekonomi Pancasila”. Saya sampaikan secara obyektif, “Konstruksi ne...