Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari 22, 2017

Menyongsong Purwokerto Kota Koperasi 2022

Oleh: Firdaus Putra, HC.  Jangkar Historis Cikal bakal koperasi di Indonesia bermula dari Purwokerto, Banyumas. Tepatnya dulu pada 1896 di masa Hindia Belanda. Kisah itu bermula dari Raden Aria Wiriaatmadja yang menginisiasi Bank Priyayi bermodalkan kas masjid. Tujuannya untuk melepaskan kalangan priyayi dari jerat rentenir. Bank Priyayi itu didukung penuh oleh Asisten Residen Belanda, E. Sieburgh. Selisih tahun berikutnya, de Wolf van Westerrode menggantikan Sieburgh. Sepulang dari Jerman, de Wolf bersemangat kembangkan model koperasi pertanian ala Reiffeissen. Lalu sejarah mencatat, Bank Priyayi Wiriaatmadja itu direorganisasi oleh de Wolf menjadi Bank Petani mengadaptasi model Reiffeissen. de Wolf saat itu memperoleh mandat langsung dari Menteri Kolonial Cramer: memerangi lintah darat yang menyengsarakan masyarakat (Furnivall, 2009). Kronik sejarah itu menggambarkan tiga hal: Pertama, sedari dulu rentenir atau lintah darat selalu menjadi musuh pemerintah dan masyarak...

Revolusi Mesir dan Pernikahan

Oleh: Firdaus Putra, HC. Kadang revolusi tak selalu dekat dengan jargon heroik. Di Mesir sana, sekira 2011 yang lalu, teriakan itu berbunyi "Aku Ingin Menikah". Itu bukannya dibentangkan oleh para jones-jones, namun para revolusioner Arab Spring saat itu. Bila ingin membayangkan semembahana apa revolusi Mesir, putarlah Emel Mahtlouti, My Word is Free.  Jauh dari kata main-main, semuanya serius; Seserius menggulingkan rezim Mubarak. Lantas mengapa slogan itu justru berbunyi "Aku Ingin Menikah"? Apa yang herois adalah yang, sebenarnya, dialektis. Heroisme sebagai sebentuk pembelaan pada hak-hak sipil warga barang tentu berasa manusia sekali. Ia tak perlu dibalut dengan "Hancurkan Mubarak yang otoriter" atau "Tegakkan demokrasi" dan sejenisnya. Ia hanya perlu dialektis atawa hadap masalah. Dan, ihwal menikah di sana adalah soal serius. Itu, lagi-lagi, tak main-main. Dikisahkan oleh Shereen el Feki dalam Seks dan Hijab,  bagaimana kondisi...

Hamna, Sebuah Refleksi

Oleh: Firdaus Putra, HC. Bila ditanya apakah sedari dulu saya pernah memilih koperasi sebagai jalan hidup serius? Tidak. Pun di masa awal inisiasi idealisme di zaman kuliah. Alih-alih memilihnya, memandangnya pun dengan picingan mata. Ya, saya sini dengan koperasi. Bahkan dulu di saat kali pertama Kopkun Grand Opening, saya sengaja duduk di luar habiskan rokok dan nikmati gorengan. Tentu maksudnya untuk hindari obrolan serius di ruang dalam. Yang saat itu ada Pak Arsad, Mas Ilham, Mas Dani, Mas Herli dan lainnya. Itupun yang saya kenal saat itu hanya Mas Ilham, karena sama-sama Sosiologi FISIP. Awal mula saya gabung di Kopkun bukanlah sebuah pilihan serius. Saya sampaikan itu ke Pak Arsad, selaku ketua, ketika screening saya sebagai Manajer. Saya diminta menjadi Manajer Organisasi, tepat tiga bulan sebelum lulus. Saya nyatakan padanya, "Boleh jadi ketika ada beasiswa, saya akan resign, Pak". Deal! Itu dulu September 2009. Sampai kemudian tawaran pekerjaan silih ber...