Oleh: Firdaus Putra A. Secara kultural sulit bagi mahasiswi (perempuan) menyetarai aktivitas/ pengalaman mahasiswa (laki-laki). Lihat saja, pada pukul sembilan malam, mereka sudah harus kembali ke kos/ pondokan/ asrama. Melebihi jam itu, pintu terkunci dan bersiaplah menanggung resiko. Tanggal 23 November yang lalu, saya menyelenggarakan diskusi hingga larut malam. Pukul 23.30 diskusi tentang “Koperasi dan Modal Sosial” itu selesai. Akhirnya, Wahyu, tidak memperoleh pintu masuk. Dia hubungi beberapa teman, hasilnya nihil. Dengan baik Kang Suroto mempersilahkan Wahyu tidur di tempatnya, Perumahan Teluk, bersama adiknya Lastri. Untuk sampai ke sana, Wahyu memesan satu taksi di depan Unsoed. Itulah sepenggal cerita jam malam bagi mahasiswi yang menurut saya menghambat mereka. Bandingkan dengan saya (laki-laki) yang pulang jam berapapun adalah sah. Entah untuk diskusi, ngobrol ngalor-ngidul, internetan di hotspot kampus, mengikuti pembekalan tertentu, dan seterusnya. Tidak ada hambat...