Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari 17, 2008

Nalar Post-Ideologis

Oleh: Firdaus Putra Aditama Ideologi, sebuah term yang acap kali sulit untuk diungkapkan. Namun mudah untuk dikenali dan diidentifikasi. Tidak jarang kita mengatakan, Si A berideologi sosialis, Si B berideologi liberal dan seterusnya. Dan seringkali pembicaraan ideologi mengantarkan kita pada pembicaraan politik. Atau minimalnya sebuah diskusi tentang harapan ideal suatu masyarakat atau zaman. Memang benar, ideologi tidak jauh dari hal-hal tersebut. Dan juga benar, bahwa satu sisi kita memandang ideologi—apapun itu—secara optimis. Dan pada sisi lain secara pesimis atau peyoratif. Perdebatan ideologi sendiri dari awal mulanya memang sudah penuh dengan noktah hitam, putih pun yang buram. Bagi sebagian ahli memandang ideologi secara pesimis. Seperti yang dilakukan oleh Romo Haryatmoko, bahwa ideologi seringkali bersifat doktriner, lamban, tidak kritis, disimulasi, dan cenderung distortif. Sedangkan sebagian praktisi, memandang ideologi secara positif. Lebih jauh, mereka membutuhkan...

Dayat & Makassar

Oleh: Firdaus Putra A. Saya tertegun ketika mendengarkan cerita seorang teman asal Makassar. Dengan intonasi suara yang khas Makassar, Dayat menceritakan bagaimana kondisi masyarakat yang dihadapinya. Tidak berbeda jauh dengan apa yang saya saksikan melalui televisi. Kekerasan di mana-mana. Kekerasan merupakan bahasa sehari-hari. Katanya, orang Makassar sudah terbiasa dengan budaya ini. Apalagi jika menyangkut masalah siri’ atau harga diri, nyawa sekalipun akan menjadi taruhannya. Tak ketinggalan, kekerasan akan selalu mewarnai dalam masalah etnis. Makanya, masih menurutnya, berbicara agama di Makassar masih relatif aman. Tapi, kalau sudah menyangkut etnis, menjauhlah. Sensitif sekali. Saya tidak bisa membayangkan masyarakat Makassar yang sesungguhnya. Praktis, saya belum pernah sama sekali bertandang ke propinsi itu. Mengenal satu sosok Makassar pun, adalah seorang Dayat, yang tabiatnya ramah, sopan dan tidak bringas. Jadi, bayangan saya tentang masyarakat Makassar lebih merupak...