Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober 14, 2018

Surat dari Anak Muda untuk Menteri Koperasi

Pak Menteri, Kondisi koperasi tanah air ini mirip organisasi massa (ormas). Lihat saja, syarat minimal untuk mendirikannya harus 20 orang kata UU No. 25 Tahun 1992. Hasilnya, lebih dari 80 persen koperasi di negeri ini bentuknya simpan pinjam. Apakah salah? Tidak. Apakah tepat? Juga tidak. Bagi anak muda seperti saya dan kawan-kawan saya, koperasi simpan pinjam tak lagi menarik, Pak. Paling tidak citranya sudah kadung menua yang berisi orang-orang tua. Layanannya itu-itu saja yang kalah dengan kemahahebatan teknologi finansial besutan perbankan. Anak muda seperti saya, Pak, yang lahir tahun 85 sampai 90an demen otak-atik otak kanan, suka hal yang kreatif. Saya dan 35 persen dari total populasi negeri ini harusnya bisa berkreasi lewat perusahaan koperasi. Ya, bagi saya yang gandrung koperasi, sulit rasanya untuk memilih Perseraon Terbatas. Saya dan para milenial itu butuh disokong kebijakan yang baik. Yang membuat saya dan kawan-kawan dapat bangun start up berbasis ...

Utopia Ekonomi Sosial 4.0

Oleh: Firdaus Putra, HC. Bayangkan lah suatu area atau kota dimana kita bekerja di perusahaan milik sendiri. Menabung di bank milik sendiri. Akses rumah sakit yang kita miliki juga. Konsumsi sayur mayur dari petani yang kita ikut biayai. Melanggan asuransi kesehatan yang juga kita miliki. Tinggal di perumahan yang dibangun secara kolektif. Ya, suatu ekosistem yang hubungkan multi pelaku. Utopia seperti itu nampak seperti mustahil, di Indonesia. Utopia itu sendiri, meminjam istilah sosiolog kawakan, Karl Meinheim, merupakan suatu idealitas yang dibangun dari sistem nilai yang berbeda dari sistem nilai dominan. Di sebelahnya, Meinheim menyebutnya sebagai ideologi, yakni sistem nilai yang sedang beroperasi secara massif. Itu yang membuat banyak orang menyebut utopia sama dengan hayalan. Lalu menyebut “utopis” sama dengan mustahil, dalam makna peyoratif. Utopia yang saya suguhkan di muka nyatanya sudah terjadi di beberapa belahan dunia. Salah satunya di Korea Selatan ketika...

Bahaya Glorifikasi Generasi Milenial

Oleh: Firdaus Putra, HC. Bagaimanapun modus hidup generasi milenial saat ini masih hipotetis. Generasi ini dikenal cerdas, kreatif, multi tasking, techno savvy dan segudang kecakapan non-konvensional lainnya. Berbagai kecapakan itu ia peroleh dari zaman yang berlimpah ruah atau abundance ini. Di sisi lain, milenials punya kerentanan justru karena ia hidup dan dibesarkan di zaman itu. Sebuah ironi. Era abundance ini memberikan berbagai fasilitas dengan mudah, yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi pendahulunya, X, nikmati fasilitas dengan proses panjang, contohnya dalam karirnya. X beradaptasi dalam keterbatasan sampai kemudian masuk ke era abundance. Sebaliknya, milenials langsung masuk dalam pusaran abundance tadi tanpa lewati masa keterbatasan. Milenials dapat akses berbagai informasi, jejaring sosial, event-event bergengsi lewat internet. Internet membuat sekat, batas dan jarak menjadi tak lagi relevan. Dengan cara begitu milenials dapat merengkuh berba...

Melindungi Kepemilikan Pendiri “Start Up” supaya Tak Terdepak

Oleh: Firdaus Putra, HC. Tak sedikit para pelaku  start up  terjebak dalam dilema. Satu sisi membutuhkan suntikan modal dari investor untuk kembangkan bisnisnya. Sisi yang lain khawatir keberadaannya tergeser dan bahkan terdepak dari perusahaan yang dirintisnya. Bagi beberapa orang, merintis  start up  bukan sekedar “bikin dan jual”. Sebaliknya sebuah proses panjang berdarah-darah dengan berbagai pertaruhan dan mimpi. Bayangkan saja, para pelaku  start up  bekerja dengan cara  sprint  yang tak kenal waktu. Siang-malam mereka bangun dan kembangkan bisnisnya. Tak jarang sebagian besar yang berangkat dari tahap  bootstrap  atau modal pribadi, pertaruhkan kekayaannya. Sampai titik di mana butuh lakukan  scaling up,  mereka datangi para investor atau  venture capital.  Di situlah dilemanya, tetap kecil tapi milik sendiri atau besar namun dimiliki orang lain. Di dunia ada beberapa kisah yang bisa dirujuk. Pendiri ...