Oleh: Firdaus Putra A. Saya mulai bertanya-tanya, mengapa ketika waktu Maghrib tiba, keadaan berubah menjadi “sakral atau magis”. Berbeda ketika misal waktu Isya—yang sama-sama gelap, atau waktu Subuh. Tengoklah, sedikit orang yang keluar di waktu Maghrib atau petang. Padahal, bila sekedar saat itu matahari terbenam dan situasi menjadi gelap, lampu-lampu dengan aneka cahanyanya sudah bisa menerangi jalanan.Amat berbeda misal ketika adzan Isya berkumandang, banyak orang melenggang dengan santainya di jalanan. Televisi nampaknya juga menangkap nuansa sakral atau magis waktu Maghrib. Lihatlah, hanya adzan Maghrib saja yang ditayangkan di televisi. Selain Subuh di waktu-waktu tertentu, misal bulan Puasa. Selebihnya, Dzuhur, Ashar dan Isya, jarang atau bahkan tidak pernah ditayangkan. Bukti lainnya, kita akan dinilai tidak sopan ketika bertamu saat Maghrib. Akan tetapi, penilaian yang sama tidak muncul di waktu Isya, Dzuhur atau Ashar. Bahkan yang lebih mensakralkan lagi, tidur dan ...