Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember 23, 2007

Friendster dan Narsisme

Oleh: Firdaus Putra A. Hari ini siapa yang tidak mengenal friendster atau biasa disingkat dengan fs. Mungkin hari ini juga fs sudah menjadi gaya hidup, khususnya bagi muda-mudi, tidak hanya di Eropa, Amerika atau negara maju lainnya, tetapi juga sebagian muda-mudi Indonesia. Pernah saya secara sengaja masuk ke fs teman, dan saya lanjutkan masuk ke fs temannya teman saya, kemudian ke temannya temanya teman saya, sampai ada tujuh orang lebih saya masuki tanpa pernah kenal. Saya kagum terhadap jaringan interaksi yang dibangun oleh fs. Benar-benar tanpa batas. Jika kita fs sebagai perumahan, saya secara bebas masuk ke satu pintu rumah. Kemudian dari pintu belakang saya keluar. Di pintu belakang, ada pintu depan dari rumah orang lain. Saya masuk. Dan seterusnya sampai tidak terbatas. Pengalaman eksperimen di atas memberikan saya gambaran bagaimana interaksi pada fs terbentuk. Yakni semacam open web, sebuah jaringan interaksi terbuka. Apa yang perlu kita lakukan adalah menentukan titi...

Matinya Si Bang-Jo, Mau?

Oleh: Firdaus Putra A. Judul di atas sebenarnya kalimat yang saya petik dari sebuah papan yang dimaksudkan sebagai iklan layanan masyarakat. Iklan tersebut dipasang di satu batang pohon, hanya berjarak kurang dari satu meter dari tiang lampu traffic light, yang akrab disebut dengan ‘lampu bang-jo’ (red: dalam bahasa Jawa, maksudnya lampu abang-merah dan ijo-hijau). Iklan yang bernuansa kritik sosial tersebut dipersembahkan oleh Teater SiAnak, FISIP. Sedangkan sasaran dari iklan tersebut yakni para pengguna jalan, khususnya pertigaan kampus FISIP dari arah Karangwangkal. Memang benar, para pengguna jalan dari arah Karangwangkal seringkali menerabas, meskipun sudah jelas traffic light menunjukan warna merah. Biasanya mereka menerabas dengan cara berhenti di tengah-tengah pertigaan. Setelah dirasa aman, mereka akan menerabas ke kanan ke arah Baturraden dan ke kiri ke arah Kota. Traffic light pada pertigaan itu sepenglihatan saya tidak pernah terganggu. Mati pun jarang. Hanya saja...

Membunuh Merah

Oleh: Firdaus Putra A. Hari itu begitu merah. Semburat senja di ufuk Barat nampak memerah. Tidak seperti biasanya, kuning ke merah-merahan. Semua orang di kota Merah Silau cemas, was-was, khawatir kalau-kalau supernova datang pada hari itu. Sebuah akhir dari segala peristiwa dunia. Orang mulai trauma dengan warna merah. Pengalaman beberapa minggu yang lalu begitu membekas. Bagaimana tidak, matahari surup dari langit dengan warnanya yang kemerah-merahan, seperti akan meledak. Semua warna merah menjadi haram untuk diperlihatkan, dipertontonkan. Seakan-akan warna merah adalah bencana, adalah kekacauan atau tragedi peradaban yang luar biasa besarnya. Nama kota pun mereka ganti. Aspirasi masyarakat mulai berdatangan dari seluruh penjuru kota. Spanduk-spanduk di bentangkan. Gedung wakil rakyat penuh dengan teriakan anti-merah. Anggota dewan tak mampu meredam. Akhirnya pada hari yang dijanjikan, para wakil rakyat mengumumkan perubahan nama kota, Kuning Gading. Perda pun dikeluarkan seba...

Dangdut is Music My Country

Oleh: Firdaus Putra A. Kali keduanya aku menonton film layar lebar Indonesia, “Mendadak Dangdut”. Kali pertama aku menontonnya di bisokop Rajawali 21 bersama pacar. Kali keduanya aku menontonnya di salah satu stasiun televisi swasta. Ada yang menarik perhatianku, bukan kecantikan Titi Kamal, atau si Kipli yang melirih buah dada Titi Kamal. Tapi bagaimana eksplorasi filosofis antara musik pop dengan musik dangdut yang dilakokan oleh si Yati Asgar. Dangdut adalah musik rakyat. Sebagai penembang dangdut, ia dituntut untuk menghibur para penontonnya. Minimalnya, penonton dapat melupakan sejenak beban hidupnya dengan berbagai masalah. Inilah yang membedakan musik dangdut dengan lainnya. Pop, dia hanya mengekspresikan ke-aku-an penulis lirik atau penembangnya. Ekspresi dari individu yang bebas berkreasi. Tidak mempedulikan apakah masyarakat suka atau tidak. Apalagi rock, lebih-lebih yang ber-genre hard rock. Meskipun sama-sama memberi kenikmatan, hiburan dan juga melenakkan, musik...

Chat On-Line: Dunia Tanpa Batas?

Oleh: Firdaus Putra A. Kalau kita seorang netter, pasti kita kenal beberapa layanan chat on-line, sebut saja mIRC sebagai media mengobrol paling sederhana, Yahoo Messenger yang akrab disebut netter YM atau Yahomes, Google Talk juga tidak ketinggalan Skype. Chat on-line biasanya dilakukan oleh para netter hanya sebagai pengisi waktu luang ketika mereka melakukan surfing atau mungkin men-download pada situs layanan tertentu. Namun, tidak sedikit juga netter yang sengaja datang ke sebuah Warnet hanya untuk melakukan chat on-line, yang demikian, biasanya dalam rangka membunuh waktu luangnya di dunia nyata. Meskipun sebenarnya chat on-line sangat bebas tak terbatas, tapi jika kita jeli, maka ada batas-batas tertentu yang “mengharuskan” kita untuk berlaku demikian. Jarang saya menemukan seorang netter laki-laki dengan nick name laki-laki membuka mencari teman bicara perempuan. Jika ada, peluangnya sangat sedikit. Karena biasanya ketika awal kali kita membuka obrolan, pertanyaan pertama...

Idealisme, Memaknainya Secara Kontekstual:

Telaah Kritis terhadap Dana Sponsor dan Branding di Kampus Oleh: Firdaus Putra A. I Coretan ini berangkat dari masalah yang cukup krusial di kampus saya. Masalah ini terkait dengan pembiayaan lembaga-lembaga mahasiswa, seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) atau lembaga-lembaga sejenisnya. Artinya coretan ini tidak bisa dipahami secara lepas dari akar kesejarahannya. Di kampus saya sedikitnya terdapat empat HMJ, sepuluh UKM, serta satu BEM. Artinya ada 15 lembaga mahasiswa yang harus dihidupi dengan sumber pembiayaan fakultas—Rencana Anggaran Belanja—RAB Fakultas. Ironisnya, fakultas hanya mendisposisikan dana kegiatan mahasiswa (untuk selanjutnya kita singkat sebagai DKM) sebesar kurang-lebih 40 juta untuk 15 lembaga selama satu tahun. Bisa dibayangkan, dengan perhitungan yang disederhanakan, maka selama satu tahun satu lembaga maksimal hanya bisa mengakses 2,6 juta rupiah. Yang artinya selama satu bulan hany...

Merry Christmas December 25th 2007

Dalam kejernihan nalar, keheningan nurani, kita semua adalah satu; Manusia yang senantiasa berlomba mewujudkan peri kehidupan yang lebih baik. Dalam damai Natal, semoga kita mampu merefleksikan kembali praksis kemanusiaan yang selama ini tercerai-berai; Perbedaan tak harus menjadi sekat. Pada tapal batas kemanusiaan, kita semua bertemu. [Firdaus Putra, Muslim Indonesia]

Kosmetik, Obat, Jamu Palsu

Oleh: Firdaus Putra A. Beberapa minggu terakhir kita menyaksikan bagaimana media elektronik kita secara kontinyu menayangkan informasi tentang beredarnya barang palsu. Bukan hanya uang pecahan ratusan ribu. Melainkan produk kosmetik “abal“ atau palsu. Saya cukup tertegun ketika menyaksikan tayangan tersebut. Bagaimana seseorang tega-teganya melakukan tindak pemalsuan yang tentu saja sangat merugikan. Coba bayangkan bagaimana rasanya ketika wajah kita memakai produk pembersih muka yang terbuat dari campuran alkohol, air serta pewangi tanpa memberikan atrak kesegaran tertentu. Dan apakah yang akan terjadi ketika wajah kita memakai krim pemutih palsu yang secara gegabah dibuat dari salah satunya adalah KOH atau lebih terkenal dengan soda api. Dalam dunia perbengkelan, larutan soda api biasanya digunakan untuk mengelupaskan atau mengikis cat mobil. Dan larutan itu, sekali lagi mampir di wajah kita. Ketika diinvestigasi, orang yang melakukan pemalsuan tersebut mengatakan bahwa produ...