Langsung ke konten utama

Chat On-Line: Dunia Tanpa Batas?


Oleh: Firdaus Putra A.

Kalau kita seorang netter, pasti kita kenal beberapa layanan chat on-line, sebut saja mIRC sebagai media mengobrol paling sederhana, Yahoo Messenger yang akrab disebut netter YM atau Yahomes, Google Talk juga tidak ketinggalan Skype. Chat on-line biasanya dilakukan oleh para netter hanya sebagai pengisi waktu luang ketika mereka melakukan surfing atau mungkin men-download pada situs layanan tertentu. Namun, tidak sedikit juga netter yang sengaja datang ke sebuah Warnet hanya untuk melakukan chat on-line, yang demikian, biasanya dalam rangka membunuh waktu luangnya di dunia nyata.

Meskipun sebenarnya chat on-line sangat bebas tak terbatas, tapi jika kita jeli, maka ada batas-batas tertentu yang “mengharuskan” kita untuk berlaku demikian. Jarang saya menemukan seorang netter laki-laki dengan nick name laki-laki membuka mencari teman bicara perempuan. Jika ada, peluangnya sangat sedikit. Karena biasanya ketika awal kali kita membuka obrolan, pertanyaan pertama yang akan diajukan adalah asl pls, yang di antara pertanyaan padat makna itu, jenis kelamin akan menjadi salah satunya.

Beberapa kali saya menemukan kejadian yang menggelikan terkait dengan nick name atau ID saya. Jika menggunakan YM, maka saya akan menggunakan Yahoo ID saya, yakni el_ferda85. Oleh sebagian netter, ID el_ferda85 diduga sebagai ID perempuan. Setelah saya jawab pertanyaan pembuka, asl pls, biasanya dalam hitungan detik kemudian, dia akan berkata, “Ooo ternyata laki-laki ya”. Kejadian semacam ini tidak hanya untuk netter asal Indonesia, tetapi juga asal negara asing lainnya. Mereka akan langsung berucap salam, “Bye bye”.

Jadi batas pertama dalam chat on-line, saya jarang menemukan dua netter yang sama sekali tidak kenal berjenis kelamin laki-laki. Yang artinya, sebebas-bebasnya tata nilai dalam dunia maya, orang tidak serta-merta juga berlaku bebas atau ngasal. Minimalnya seorang chatter berangkat dari motivasi tertentu, mencari lawan bicara beda jenis kelamin. Kecuali pada beberapa chat forum yang sudah terafiliasi atau terlembaga, semisal forum gay, forum lesbi, forum berdasar hobi dan sebagainya.

Selain itu, sebebas-bebasnya dunia maya, sedikit orang yang mencaci maki, mengumpat, memperolok lawan biacaranya yang baru ia kenal. Padahal, bila ia mau, sama sekali ia tidak akan menerima resiko apapun, kecuali si lawan bicara menutup window kita. Maksudnya, resiko itu tidak akan sebesar ketika peristiwa semacam itu terjadi di dunia nyata, mungkin akan sampai berkelahi. Jika ia mau, padahal sedikit kemungkinan posisinya terlacak. Kecuali oleh orang-orang yang menguasai IT secara baik.

Saya meyakini, sebebas-bebasnya logika dalam chat on-line, di sana tetap masih menyisakan nilai-nilai atau sopan-santun tertentu ketika seseorang berkenalan, berbicara dengan yang lain. Isi pembicaraan memang seringkali bebas, terserah keinginan pasangan chat, mulai dari bisnis, tukar pengalaman, fantasi seks, ajakan kencan, sampai mungkin provokasi atau hanya sebatas tebak-tebakan. Tidak ada badan sensor yang mampu memasuki hubungan di antara pasangan chat. Pada sisi itu, menurut saya chat room merupakan wujud sosiabilitas di dunia maya. Menunjuk pada pemaknaan Georg Simmel, sosiabilitas yakni merupakan bentuk interaksi, bukan isi dari interaksi tersebut.

Mari kita bandingkan logika dalam chat room di internet dengan suatu ketika kita secara iseng menemukan nomor handphone. Kita kirim SMS untuk berkenalan, saya yakin hanya sedikit orang akan meresponnya dengan baik. Rata-rata mereka akan mempertanyakan siapa kita dan dari mana kita mengetahui nomor tersebut serta kepentingan kita mengontak orang tersebut. Dan pada titik ini, sebenarnya pembicaraan sudah riskan untuk dilanjutkan. Mengapa? Saya melihat bahwa HP merupakan ruang privat yang tidak semua orang mengetahuinya. Hanya orang-orang yang sudah dikenal yang berhak tahu. Sedangkan pada sisi lain, chat on-line berada pada ruang publik, yakni chat room, di mana masing-masing chatter berangkat dari keterbukaan diri untuk saling bertegur sapa. Berbeda konteks tentunya jika kita mengikuti program chat para pengguna HP yang marak akhir-akhir ini.

Berbeda chat on-line sebagai bentuk sosiabilitas di mana nilai sosial yang disepakati bersama masih melekat kuat, maka kualitas isi pembicaraan hanya akan terjadi ketika jika masing-masing chatter berlaku secara jujur. Nick name merupakan bentuk anonimitas interaksi sosial, orang secara arbriter dapat mengganti nama panggilannya. Hal semacam ini akan membuat kesulitan bagi kita, minimalnya untuk mengetahui siapa dan bagaimana lawan bicara kita. Anonimitas interaksi ini tidak menutup kemungkinan untuk melakukan manipulasi. Misal jenis kelamin, kota asal, usia dan sebagainya.

Untuk itu, chat on-line dalam isi pembicaraan benar-benar bebas tanpa batas. Orang menjadi Tuhan bagi dirinya sendiri saat memberi nick name tertentu dengan karakter tertentu pula. Kesewenang-wenangan (manipulasi jawaban) dapat terjadi kapan saja selama itu. Pada sisi ini, chat on-line memiliki sifat sangat artifisial. Hal ini senada dengan motif awal netter memasuki chat room, hanya sekedar memanfaatkan waktu luang atau mencoba keberuntungan nasib, iseng-iseng berhadiah. Dan hanya menyisakan sedikit keseriusan untuk merajut interaksi menjadi lebih dalam. []

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Ide itu Bermula dari Vacuum Cleaner

Dikisahkan secara subyektif oleh: Firdaus Putra, HC.  Beli Vacuum cleaner Pagi ini saya dapat pesan WA dari Pak Hadi, tukang gorengan yang mangkal di pinggir kampus FISIP, Unsoed. Ia mengirim, “Halo, Mas. Mohon maaf mengganggu waktunya, saya mau balikin vacuum cleaner punya PEDI, harus ketemu siapa?”. Lalu vacuum cleaner itu tiba di Kopkun. Dan pertama kalinya saya lihat dan menyobanya sejak pertama kali dibeli. Jadilah saya ingat memori yang menempel pada  vacuum cleaner itu. Tak ada yang spesial dari bentuk vacuum cleaner di atas. Dibeli sekitar tahun 2017 sebagai inventaris Kopkun Institute. Sebabnya, saat itu Kopkun Institute punya ruang pelatihan beralaskan karpet. Jadilah butuh vacuum cleaner agar bersih dari debu. Lalu Kopkun beli gedung di depan Unsoed, yang sekarang menjadi Kantor Pusat. Aktivitas direlokasi semua ke Kantor Pusat dari sebelumnya di Kopkun 3, Teluk, Purwokerto Selatan. Ruang pelatihan itu jadi tak terpakai, begitu juga si vacuum cleaner . Lahir Ped...

Omnibus Law Koperasi, Pendirian Cukup Tiga Orang

Oleh: Firdaus Putra, HC. Pemerintah sedang menyiapkan undang-undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. Tujuannya ciptakan lapangan kerja baru dengan membangun regulasi yang memudahkan masyarakat berbisnis. Pasal pada undang-undang yang dinilai menghambat akan dihapus. Diprediksi omnibus law akan menyelaraskan 82 undang-undang lainnya. Ini terobosan yang luar biasa. Saat ini bila masyarakat ingin mendirikan koperasi, maka harus mengumpulkan sedikitnya 20 orang. Itu mengacu UU 25/ 1992 tentang Perkoperasian. Artinya 20 orang itu harus sepemikiran untuk membangun perusahaan bersama. Tentu tidak mudah, bukan? Bandingkan dengan Perseroan Terbatas (PT) yang cukup dua orang. Menurut saya pasal tentang 20 orang ini perlu dimasukkan dalam omnibus law mendatang.   Mengapa 20 Orang Penjelasan pasal 6 UU 25/ 1992 menyebutkan alasannya karena masalah kelayakan usaha. Mari kita rekonstruksi kondisi pada saat undang-undang itu lahir. Tahun 1990an kondisi ekonomi Indonesia sangat ...

Dunia Banyak Belajar dari "Chicken Soup":

dari DiaryBlog ke JournalBlog Oleh: Firdaus Putra A. Anda pasti pernah membaca buku Chicken Soup Series pada sekuel hidup tertentu, bukan? Saya membaca buku seperti itu saat duduk di bangku SMA. Cerita-cerita di dalamnya sungguh inspiratif dan membangkitkan semangat. Seringkali, cerita di dalamnya adalah true story , meski tidak harus succes story . Di Indonesia, tetralogi Laskar Pelangi yang dihelat Andrea Hirata bisa digolongkan dalam konteks serupa. Laskar Pelangi dengan kisah pilu dan heroiknya, merupakan teladan nan inspiratif bagaimana si Hirata kecil berusaha menggapai mimpinya ke Paris. Oleh komunitas penulis, buku itu dikategorikan sebagai literary non-fiction . Yakni sebuah karya sastra yang berbasis kisah nyata (non-fiksi). Di luar negeri, banyak buku kisah yang kaya inspirasi serupa Chicken Soup . Salah satu penulis yang termasyhur adalah Paulo Coelho dengan The Alchemist nya. Buku itu berkisah bagaimana seseorang (Santiago) yang ingin mencari dan membangun Per...