Oleh: Firdaus Putra A. Malam itu (10/2) sehabis pulang dari kampus ekonomi, saya mengisi perut di warung hik pertigaan Jl. Madrani. Ada seorang laki-laki yang sedang menikmati rokok. Dan saat saya datang, ada seorang perempuan (mungkin 20an tahun) yang sedang menerima telepon. Di sebelahnya ada seorang laki-laki yang nampak menunggu si perempuan. Ia duduk di jok motor, bukan di bangku panjang. Saya makan sebungkus nasi kucing berikut mendoan. Sembari ngobrol dengan si pemilik, saya sruput jahe susu panas. Beberapa saat si perempuan ngobrol dengan si laki-laki di atas motor. Sedang membahas pacar yang tak mau diputus. Ia bercerita, meski pelan, namun saya tetap bisa mendengar dengan jelas. Tak berapa lama, si pemilik warung menawarkan, “Ta LA masih ada neh”. Entah Ita, Nita, atau Mita, perempuan itu disapa pemilik warung. Dia hanya menjawab, “Enggak lah beh (mungkin babeh maksudnya) jangan rokok ah”. Tak berapa lama, perempuan itu memanggil sepasang lelaki yang berkendara melinta...