Oleh: Firdaus Putra A. “Dalam kelebihan dan kekurangannya, saya merasa bangga pernah bergumul erat sebagai putra beliau”. Kutipan itu pernah terlintas dalam “imajinasi nakal” pidato pemakaman ayah saya. Pidato pemakaman di desa dan kota di Indonesia, sebagian besar membosankan. Diwakili oleh orang tertentu—biasanya sesepuh atau kyai—keluarga akan menyampaikan sambutan tertentu. Kalau almarhum Muslim, beliau akan membuka dengan berbagai “ayat kematian”. Di tengahnya, berbagai petuah suci tentang takdir Tuhan ini dieksplorasi secara normatif. Pada bagian akhir, atas nama keluarga beliau mohon maaf atas segala kesalahan almarhum. Tak lupa beliau mengingatkan masalah hutang-piutang almarhum ditanggung sepenuhnya oleh keluarga. Demikian biasanya pidato pemakaman yang sempat beberapa kali saya saksikan. Pidato pemakaman normatif nan membosankan seperti ini tak beda jauh dengan pengajian mingguan di langgar atau masjid. Bahasanya cenderung melangit dengan berbagai cantolan ayat suci. Ek...