Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November 1, 2009

Pidato Pemakaman Nan Membosankan

Oleh: Firdaus Putra A. “Dalam kelebihan dan kekurangannya, saya merasa bangga pernah bergumul erat sebagai putra beliau”. Kutipan itu pernah terlintas dalam “imajinasi nakal” pidato pemakaman ayah saya. Pidato pemakaman di desa dan kota di Indonesia, sebagian besar membosankan. Diwakili oleh orang tertentu—biasanya sesepuh atau kyai—keluarga akan menyampaikan sambutan tertentu. Kalau almarhum Muslim, beliau akan membuka dengan berbagai “ayat kematian”. Di tengahnya, berbagai petuah suci tentang takdir Tuhan ini dieksplorasi secara normatif. Pada bagian akhir, atas nama keluarga beliau mohon maaf atas segala kesalahan almarhum. Tak lupa beliau mengingatkan masalah hutang-piutang almarhum ditanggung sepenuhnya oleh keluarga. Demikian biasanya pidato pemakaman yang sempat beberapa kali saya saksikan. Pidato pemakaman normatif nan membosankan seperti ini tak beda jauh dengan pengajian mingguan di langgar atau masjid. Bahasanya cenderung melangit dengan berbagai cantolan ayat suci. Ek...

Inilah “Gaya Krikitiuw”

Oleh: Firdaus Putra A. “Krikitiuw…!”, seru Rangga menirukan Sule dalam lakon Opera van Java. Bersweater Che Guevara, Rangga tampak kontras dengan Fakhri yang berkaos Bart Simpson. Siang itu, tampilan dua anak belia ini terlihat mencolok di antara kerumunan belasan anak-anak SMA RHS, Megamendung Bogor. Rangga dan Fakhri sedang menjalani hukuman. Rangga lebih suka sweater Che-nya ketimbang kaos biru-hijau-putih, seragam olahraga sekolahnya. Kalau Fakhri lebih suka Bart Simpson. “Makanya dijemur”, kata Rangga. Meski memakainya, ia tak tahu siapa sebenarnya si Comandante itu. “Itu kan penyanyi?”, tegasnya dengan mata berbinar. Seperti halnya Fakhri, ia tak tahu siapa ikon Bart Simpson. Hal itu membuat Penulis merasa geli. Rangga dan Fakhri adalah remaja yang hidup di kawasan Megamendung. Daerah yang hanya beberapa kilometer sebelum Puncak Bogor. Di akhir pekan, jalur itu dipadati warga Jakarta yang berlibur. Wajarlah, mereka tidak memahami ikon-ikon itu. Mereka hidup di kawas...