Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November 25, 2007

Nadia, Shasha, Donat, Entrhee

Oleh: Firdos Putra A. Seharian aku di luar kota, Banjarnegara. Berangkat dari Purwokerto sekitar jam sembilan pagi. Meskipun rencana awal rombongan akan berangkat pukul 07.30. Tapi karena kita hidup di Indonesia, akhirnya waktu yang molor menjadi semacam kewajaran. Atau pun, memang kita sudah menyediakan toleransi beberapa jam untuk mundur. Keberangkatanku ke Banjarnegara bukan dalam rangka liburan, melainkan dalam rangka menunaikan ‘tugas suci’, yakni mempererat tali silaturrahmi. Dulu, aku dan rombongan pernah Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sana. Tepatnya di sebuah desa yang unik, Kandang Wangi. Dulu kala, konon katanya ada seorang Putri yang terdesak dalam sebuah pengejaran. Lantas ia memasuki sebuah wilayah, atau lebih tepatnya lagi ‘terkandang’ di wilayah itu. Putri itu lantas menjadi tokoh panutan. Terbentuklah sebuah desa dengan nama Kandang dan karena Putri, lantas ekspresi Wangi dimunculkan sebagai pertanda keperempuanan. Seperti juga Goenawan Mohammad menyebut perempuan penu...

Aku, Amerika dan Green Card Lottery [GCL]

Oleh: Firdos Putra A. Sebagai sosiolog, aku tidak kekurangan referensi tentang Amerika berikut cerita hitam yang melingkupinya. Mulai dari infansi Amerika ke Irak yang menurutku melanggar cita-cita perdamaian dunia, isu terorisme yang sengaja dihembuskan sebagai bentuk religiofication insecurity dunia, negara adidaya yang interventif terhadap kebijakan dalam negeri negara lain, atau kepongahan yang rapuh ketika WTC ternyata dapat ditabrak oleh pesawat secara sengaja. Dan seringkali aku mengkritik Amerika terkait dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya. Yang aneh, pernah suatu ketika seorang teman bertanya, "Menurutmu negara mana yang paling hebat?" Jawabku, "Amerika, terlepas dari segala kekurangannya". Sistem jaminan sosial yang mencukupi, lihat saja di film-film Hollywood, jika kita merasa terusik dengan tingkah tetangga sebelah, kita cukup men-dial 911—anehnya saya lebih hafal 911 daripada 110—beberapa menit kemudian, LAPD, NYPD, atau kepolisian negara...

Aku dan Black Bibble

Oleh: Firdos Putra A. Seperti sebagian kos cowok lainnya, sirkulasi compac disk (CD) film biru di kosku juga lumayan marak. Mungkin di kos lah setiap cowok seperti aku menemukan keleluasaan untuk menjelma sebagai bad boy. Tidak seperti di rumah, yang aku kira relatif ketat. Pernah suatu malam di rumah, aku memutar film American Pie 5, kebetulan sampai pada adegan naked miles-nya. Kebetulan juga keponakanku lewat—karena posisi televisi berada di ruang tengah—kontan membuatku kaget, dan kupercepat adeg an itu. Namun, tetap saja malu. Sedangkan di kos, aku bisa seleluasa mungkin, dengan komputer bututku yang kadang ngadat satu film aku putar. Black Bibble, aku dapatkan dari teman kos ku yang rajin meng-up date perkembangan perbiruan film. Menurutku Black Bibble adalah klimaks dari imajinasi seseorang tentang kesempurnaan telanjangnya tubuh manusia. Tidak ada yang kurang, payudara besar, kuning bahkan semu putih, pubis yang putih kekuning-kuningan, otot kemaluan yang menonjol, tidak ad...

Aku, Tukul dan Empat Mata

Oleh: Firdos Putra A. Banyak perbedaan antara aku dan Tukul. Aku pernah menyaksikan acaranya di salah stasiun televisi swasta. Sedang Tukul belum pernah menyaksikan ketika aku memimpin diskusi atau orasi. Tukul gak ganteng-ganteng amat, minimalnya semua pemirsa Empat Mata setuju. Sedangkan aku, cukup ganteng, minimalnya pacarku setuju. Tukul sok tolol, sok lugu. Sedang aku, sok narsis, sok tahu. Dan bla bla bla ... Beberapa kali aku tonton Tukul di Empat Mata, aku heran kenapa ratingnya begitu tinggi? Sampai-sampai seorang temanku mengambilnya sebagai bahan skripsi. Apa karena gigi tonggosnya? Padahal lebih tonggos si Boneng di Warkop DKI. Apa mungkin karena ketololan, keluguannya? Kalau iya, mengapa orang banyak begitu terpesona dengan ketololan dan keluguannya? Dengan caci makinya, dengan bahasa tubuhnya? Dan sebagainya. Seperti Inul Daratista, Tukul meroket hanya dalam hitungan bulan. Inul sempat masuk di pemberitaan TIMES, majalah kaliber internasional. Sedang Tukul pernah un...

Seekor Kucing Cemani

Oleh: Firdaus Putra A. I SUATU malam, saya lupa kapan tepatnya, ketika berkunjung ke kosan pacar, kompleks Sumampir, saya bertemu dengan seekor kucing berbulu hitam utuh. Mungkin jika ia adalah ayam, ia akan disebut dengan ayam cemani. Ayam yang bulu, kulit dan matanya hitam semua. Tidak jadi soal saya kira untuk menyebut si kucing dengan sebutan kucing cemani. Seperti biasa, saya berjalan berdua menyusuri jalanan Sumampir. Tepat di dekat kosan pacar, sesekor kucing cemani sedang me-ngeong-ngeong. Saya kaget. Ada kucing ternyata di rerimbunan tanaman Melati. Tapi, kenapa terus me-ngeong? Ternyata ia diikat oleh siempunya di depan rumah. Diikat pas di lingkar panggulnya. Ikatan a la Cowboy, paham maksud saya? Ikatan, ketika kita meronta atau melawannya, ikatan itu akan semakin kencang melilit tubuh kita. seperti itulah si kucing cemani diikat. Tidak salah jika ia me-ngeong. Pasti sakit rasanya. Pasti ngilu panggulnya, daerah selangkangan atau kelaminnya. Kami berhenti sejenak, me...

Spätmodernismus

Oleh: Firdaus Putra A. Pukul 11:14 di bawah pohon Akasia Seperti biasa hari begitu terik. Sun block yang aku pakai tetap saja sama, tidak mampu menghalau sengatan ultra violet yang menusuk keras ke kulit ku. Sedari tadi aku tertegun melihat kanak-kanak bermain di tengah terik tanpa mengindahkan kemungkinan terburuk. Lihat lah, mereka aysik sekali bermain ayunan. Seperti masa kecilku dulu. Anak-anak belia itu mungkin belum tahu tentang panasnya matahari yang bisa menghanguskan kulit mulusnya. Juga belum tahu suatu ketika akan menemukan kesulitan saat mereka menginjak dewasa. Ya … seperti aku ini. Hari ini aku termenung sendiri, di tengah taman kota yang hampir gersang. Hanya tiga pohon Akasia besar yang ada. Dengan dedaunan yang mulai berguguran. Termasuk satu pohon di mana aku berteduh untuk menghindarkan screen Black Berry-ku terkena cahaya langsung. Tiba-tiba, PDA-ku berbunyi. Satu panggilan via VOIP. Dari siapa gerangan? Aku terima. "Ya Nel, emmm.... aku masih di Indone...

Kehambaran Ragawi

Semacam Imaji Oleh: Firdaus Putra Aditama Seperti biasa, sehabis bercumbu rayu, di antara kenikmatan-kenikmatan ragawi yang mengalir deras pada lidah, bibir, mulut, telinga, dagu, leher, payudara, perut, selangkangan dan seterusnya, tubuh kita bergetar ketika sampai pada orgasme ragawi. Entah itu sebatas cumbu rayu, atau lebih dari itu. Yang jelas sebatas atau lebih tadi adalah masalah pilihan. Pilihan ketika hasrat biologis kita menginginkan semacam sublimasi. Apakah akal kita masih cukup mendapat asupan gizi dari nurani ketika cumbu rayu itu terjadi. Atau pilihan akan gugur menjadi sebatas logika yang mengalir, ketika akal sehat kita beristirahat dan melakukan interupsi, "Tuan, aku juga ingin menikmati energi sensasional ini. Biarkan aku beristirahat, dan Tuan akan menikmatinya, selaras dengan itu, aku juga akan kecipratan bagian yang nikmat itu. Sekali lagi biarkan aku beristirahat sebentar, aku sudah lelah ketika harus bekerja di dunia ide, yang menghasilkan imajinasi, dan ...

The Street on The Jakarta City

Sebuah Potret Mekanisasi Manusia Oleh: Firdaus Putra Aditama “Ketika ilmu pengetahuan melahirkan anak; teknologi. Ketika akhirnya manusia menggauli dengan sangat sang anak tersebut. Maka separuh gennya adalah teknologi mekanis, dan separuh yang lain merupakan manusia organis.” Jalan raya itu … Sesak, pengap, gumpalan asap kendaraan bermotor mengepul bergantian, putih-hitam memadati relung-relung jalan Ibu Kota. Berjubel motor, mobil, pejalan kaki terlihat bernafsu mengejar sang waktu, tanpa mempedulikan keadaan di sisi kanan-kiri, depan-belakangnya. Mereka maju, maju dan maju terus dan sekali lagi tanpa memperdulikan berapa jengkal jarak darinya (yang hanya dalam hitungan nol koma … meter saja) kendaraan macam apa yang di depan, belakangnya. Atau manuver-manuver yang menggetarkan dada, berselang-seling dalam hitungan detik, ketika secara tiba-tiba sebuah motor, mobil atau pejalan kaki berhenti. Menukik, berbelok, lincah, dan mengikuti satu alur yang berjalan. Tidak ada kata be...

Purwokerto Book Fair 2006

Ketika Masyarakat Haus akan Pengetahuan Oleh: Firdaus Putra Aditama Avant-propos Saya hanya akan bercerita tentang sebuah acara yang begitu luar biasa ramainya, dipadati pengunjung, hingga udara di sekitar ruangan menjadi hangat, bahkan panas nan menyesakkan, Purwokerto Book Fair 2006. Book Fair yang digelar di Pascalis Hall kawasan Jalan Gereja Purwokerto. Diramaikan oleh banyak penerbit tentunya, dari yang berkelas; Gramedia, Kanisius, Mizan, Jalasutra sampai penerbit muda; Galang Press, atau pun stan-stan pribadi yang menjual buku dengan harga obralan. Pada stan inilah saya paling betah, melihat harga yang ditawarkan hanya berkisar Rp. 5.000 – Rp 20.000 yang tentunya pas untuk kocek mahasiswa. Dari Book Fair itu tepatnya saya membeli sedikitnya tujuh buku, yang sedikit-banyak untuk persiapan menyusun skripsi, kalau relevan! Minimalnya apa yang saya lihat di Book Fair adalah hal yang menggembirakan. Bagaimana stan-stan penerbit buku dipadati pengunjung. Tidak hanya itu, bahu jal...

Mendambakan Unit Kerohanian Islam Warna-Warni

Sebuah Surat Terbuka Oleh: Firdaus Putra A. Lihat kebunku penuh dengan bunga Ada yang merah, dan ada yang putih Setiap hari kusiram semua Mawar, melati, semuanya indah [kearifan keragaman di masa kanak-kanak] Yang terhormat Pembina UKI FISIP Pengurus UKI FISIP Mahasiswa FISIP Salam sejahtera, Mungkin sebuah kelancangan ketika saya yang bukan siapa-siapa ini mencoba mengutarakan uneg-uneg yang sudah setahun lebih terpendam. Dulu, ketika awal saya masuk kuliah, saya ingin bergabung dengan kawan-kawan muslim lainnya, berorganisasi bersama dalam satu lembaga, Unit Kerohanian Islam. Namun, harapan itu pupus ketika di awal, apa yang dikembangkan oleh UKI menurut saya kurang akomodatif dan representatif. Saya tidak akan membodohi diri sendiri dengan mengatakan Islam itu satu. Ya, pada titik tertentu saya sepakat. Namun, pada kenyataannya—menurut pemahaman saya—Islam berwajah banyak. Saya percaya, Islam yang ada di Arab—sewaktu Nabi hidup bahkan sampai sekarang—berbeda dalam kontek...

Ketika BEM FE Yasinan: Kritik Kebijakan dan Otokritik Keislaman

Ketika BEM Yaasinan Ketika BEM Yaasinan: Kritik atas Kebijakan dan Otokritik atas Keislaman[1] Oleh: Firdos Putra Aditama[2] I Tulisan ini berawal dari cerita teman kos saya yang kebetulan seorang aktivis kampus. Dan kebetulan juga, dia adalah seorang Nahdliyyin dan muslim yang taat. Tidak seperti saya yang sedikit nakal dan liberal. Suatu malam dia bercerita—atau tepatnya berkeluh kesah—tentang perdebatan yang terjadi di lembaganya. Perdebatan yang terjadi dalam sebuah "forum silaturrahmi" antarlembaga kampus. Tepatnya forum yang difasilitasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi. Keluar dari kebiasaan, forum malam itu tidak sedang mendikusikan tentang sistem BHP sebagai representasi atas komersialisasi pendidikan. Melainkan sedang menggugat format kegiatan silaturrahmi itu sendiri. Format kegiatan yang dimaksud adalah pembacaan Yaasin dan Tahlil. Cerita teman saya, pembacaan Yaasin dan Tahlil sebagai pembuka kegiatan silaturrahmi malam itu digugat o...

Berorganisasi di Usia Dini: Semacam Kritik-Otokritik

Oleh: Firdaus Putra A. I Saya masih ingat ketika kita dulu sempat ngobrol santai tentang pilihan organisasi ekstra kampus yang cocok bagimu. Sempat juga saya ‘promosikan’ Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), ketika melihat back ground-mu adalah seorang Nahdliyyin,dan mungkin lebih Nahdliyyin daripada saya sendiri. Paling tidak, saya sempat utarakan, antara kultur Nahdliyyin dengan PMII tidak akan terlalu berbeda jauh. Yasin-tahlil, takzim kepada kyai, kajian kitab kuning dan seterusnya. Mau tidak mau, bisa saya katakan PMII adalah organisasi underbow dari Nahdlatul Ulama (NU). Meskipun hal ini tidak bisa di gebyah uyah dalam konteks pemikiran, pemahaman serta penghayatan pergerakan serta keilmuan. Tentu saja, konteks antara keduanya berbeda jauh; NU sebagai organisasi Islam kemasyarakatan yang cenderung berada di pedesaan—implikasinya, harmonisasi dinomorsatukan, atmosfir feodal sedikit-banyak masih kentara—sedangkan PMII adalah organisasi massa yang berada di lingkungan perg...