Oleh: Firdos Putra A. Seharian aku di luar kota, Banjarnegara. Berangkat dari Purwokerto sekitar jam sembilan pagi. Meskipun rencana awal rombongan akan berangkat pukul 07.30. Tapi karena kita hidup di Indonesia, akhirnya waktu yang molor menjadi semacam kewajaran. Atau pun, memang kita sudah menyediakan toleransi beberapa jam untuk mundur. Keberangkatanku ke Banjarnegara bukan dalam rangka liburan, melainkan dalam rangka menunaikan ‘tugas suci’, yakni mempererat tali silaturrahmi. Dulu, aku dan rombongan pernah Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sana. Tepatnya di sebuah desa yang unik, Kandang Wangi. Dulu kala, konon katanya ada seorang Putri yang terdesak dalam sebuah pengejaran. Lantas ia memasuki sebuah wilayah, atau lebih tepatnya lagi ‘terkandang’ di wilayah itu. Putri itu lantas menjadi tokoh panutan. Terbentuklah sebuah desa dengan nama Kandang dan karena Putri, lantas ekspresi Wangi dimunculkan sebagai pertanda keperempuanan. Seperti juga Goenawan Mohammad menyebut perempuan penu...