Oleh: Firdaus Putra A. Kadang sesuatu yang remeh membuat hidup atau pandangan kita berubah. Beberapa bulan yang lalu saya habiskan buku antologi cerpen Jumpha Lahiri yang berjudul “Interpreter of Maladise” atau Penerjemah Luka. Salah satu daya tarik cerpen itu terletak pada kekuatan narasi yang detail, dan sederhana. Cerpen itu tak menyuguhkan narasi yang jauh dan muluk, tapi realitas yang dekat dan terjamah. Sehingga meski seting seluru cerita berada di Amerika, Inggris dan negara Eropa lainnya, saya sebagai pembaca di Indonesia bisa mengimajinasikan bagaimana detail peristiwanya. Menurut saya, cerpen ini ditulis dari sudut pandang seorang imigran yang mengalami keterasingan hidup di rimba modernitas. Sebagian kisahnya berakhir dengan pilu dan pesimistik. Lantas apa hubungannya dengan “mimpi saya selanjutnya” seperti pada judul di atas? Selama mendekati masa lulus, saya tak pernah bermimpi untuk melanjutkan studi S2. Tentu saja alasan klise, masalah biaya. Rencana yang sudah saya ...