Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei 27, 2018

Mau Menulis tapi Berat

"Mau menulis tapi rasanya berat", demikian banyak orang bilang. Biasanya yang paling susah adalah mencari kata dan membuat kalimat pertama. Bila sudah terketik satu kata dan kalimat, biasanya, lancar. Selain itu biasanya adalah soal ide tulisan. Sudah dapat ide, namun bingung mengembangkannya agar menjadi tulisan yang padu. Beberapa waktu terakhir ini saya sedang memotivasi kader saya untuk rajin menulis. Saya sampaikan bahwa menulis yang paling mudah itu menggunakan gaya bahasa bertutur. Ya, seperti yang sedang saya gunakan sekarang ini. Karena bertutur, maka seperti yang sedang bicara atau ngomong, bedanya adalah saya tuliskan. Ini merupakan cara paling mudah, selain juga punya kelebihan tersendiri, renyah. Buat pembaca gaya bertutur ini juga asik diikuti. Tak seperti artikel yang kaku atau bahkan tulisan akademik. Gaya bertutur ini enak dibaca karena mengalir. Bagi pembaca, rasanya seperti mendengarkan dongeng. Alhasil, tidak capai. Kader tersebut sedang saya lati...

Makaryo, Myelin dan Anti Medioker

Saya suka istilah makaryo atau berkarya. Dalam penggunaannya di tradisi Jawa makaryo itu sama dengan bekerja. "Mangkat makaryo, lik?" Misalnya begitu ketika satu orang berpapasan dengan yang lain di pagi hari. Namun makaryo ini memiliki makna yang lebih dalam melampaui bekerja. Kedalaman makaryo terletak pada pemaknaan hasilnya: karya. Sedang bekerja hasilnya akhirnya adalah: gaji. Sehingga makaryo memiliki potensi progresif daripada bekerja. Dalam makaryo orang atau manusia sedang mengejawantahkan dirinya melalui ritus pekerjaan tertentu. Dalam bekerja orang mengerjakan apa-apa yang sudah dikontrakkan kepadanya dengan sebaik-baiknya. Makaryo membawa makna spiritualitas bagaimana ejawantah itu memberi manfaat bagi banyak orang. Mengapa demikian? *** Bila kita rujuk teori hirarki kebutuhan Maslow, yang dulunya tujuh kemudian diperbaharui menjadi delapan, puncaknya tak lain adalah transendensi. Ketika masih tujuh, puncak tertinggi dari kebutuhan manusia adalah aktual...

Notasi Demokrasi Ekonomi ala Koperasi

Demokrasi ekonomi secara letterlijk tersebut dalam Undang-undang Dasar 1945, tepatnya Pasal 33 Ayat 4, "Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi ...". Sederhananya istilah kunci itu dapat dijelaskan sebagai perekonomian yang diselenggarakan oleh, dari dan untuk rakyat. Kata kuncinya yakni "oleh, dari dan untuk" sebagai modus demokratik di ruang ekonomi. Konsepsi besar itu biasanya paralel dengan istilah lain seperti: ekonomi kerakyatan atau ekonomi populis, ekonomi Pancasila, ekonomi gotong-royong, ekonomi koperasi dan lain sebagainya. Dalam jargon besar kita bisa menerimanya sebagai norma ekonomi bangsa ini begitu saja. Namun, dalam kerja-kerja keseharian, bagaimana metode mewujudkan demokrasi ekonomi perlu kita detailkan. Lebih-lebih, bila masyarakat adalah tulang punggung aktornya, apa yang bisa dilakukannya secara taktis? Tujuh Prinsip Koperasi   Koperasi sebagai perusahaan kolektif secara internasional terwadahi dalam...

Merekayasa Ulang Koperasi Unit Desa

Masyarakat mengenal koperasi biasanya dari dua model: Pertama Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan kedua Koperasi Unit Desa (KUD). Yang pertama berkembang massif, dimana hampir 80% koperasi di Indonesia adalah KSP atau menyelenggarakan Unit Simpan Pinjam (USP). Yang kedua massif sejak 1978 sebagai instrumen swasembada pangan era Orde Baru. Yang pertama berkembang massif selaras dengan liberalisasi pasar dan yang kedua mulai rontok saat deregulasi pasar diberlakukan. Ibnoe Soedjono, Dirjend Koperasi era Orde Baru mencatat, "Selama 20 tahun terakhir, KUD telah dikembangkan dan dibiarkan berkembang sebagai organisasi yang salah. Karena itu, investasi negara yang jumlahnya trilyunan rupiah menjadi pemborosan, tidak meningkatkan kesejahteraan petani dan tidak memperkuat KUD. Justru sebaliknya, hanya dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang ada dan dalam posisi ikut ambil keputusan-keputusan".     Sebagai mantan Dirjend, Ibnoe Soedjono menginsyafi ternyata pola pengembangan KUD ...

Aksi No One Left Behind Koperasi

Maklumat International Cooperative Alliance (ICA) 1 Juli 2017 kemarin bagus untuk kita resonansikan. Dalam rilisnya, ICA menyatakan, "Co-operative ensure no one is left behind" sebagai tema Hari Koperasi Internasional ke-95. Koperasi wajib memastikan tidak ada yang tertinggal di belakang. Tentu saja siapa yang sering tertinggal adalah kelompok-kelompok miskin, marginal dan minoritas. Koperasi, katanya, harus hadir di tengah-tengah mereka. Sebagai sebuah perusahaan, visi koperasi merupakan model perusahaan masa depan. Yakni perusahaan yang menempatkan modus demokrasi sebagai fundamen tata kebijakannya dan berorientasi pada keadilan akses serta distribusi kekayaan. Menurut ICA, dalam rilis itu, koperasi sebagai perusahaan berbasis orang (people-centered) tak perlu gemar memupuk modal. Jauh lebih penting adalah memastikan kekayaan koperasi dapat diakses anggotanya. Imbasnya, kesejahteraan anggota meningkat. Dengan skema seperti itu, koperasi hadir sebagai jawaban atas k...

Melepaskan Koperasi dari "SMEST Syndrome"

SMEST Syndrome   Menurut laporan, negeri ini dikhawatirkan tak bisa keluar dari jebakan middle income trap country (World Bank, 2014) . Tak beda jauh, koperasi Indonesia mengalami gejala yang mirip. Saya sebut sebagai   sindrom Small and Medium Scale Trap (SMEST). Kondisi itu tak kunjung berubah meski berbagai cara sudah ditempuh. Misalnya lewat revitalisasi, akses modal murah dan jurus ini-itu lainnya. Namun hasilnya tetap sama, skala koperasi di situ-situ saja. Saya berharap soal SMEST Syndrome ini jadi perhatian khusus di Konggres Koperasi III, Juli 2017 mendatang di Makassar. Mari kita tengok data nasional yang dipublikasi Kementerian Koperasi dan UKM lewat websitenya. Tahun 2015 anggota koperasi rata-rata sebanyak 178 orang/ koperasi. Tak beda jauh dengan lima tahun sebelumnya yakni 163 orang/ koperasi (2011) dan 196 orang/ koperasi (2006). Dalam rentang lima tahunan itu, volume usaha koperasi secara nasional pun hanya dalam kisaran 1 milyar rupiah. Angka itu...

Menjejak di Bumi

Akhir-akhir ini saya harus merefleksikan dengan sungguh-sungguh bagaimana proses menjadi. Kisahnya, seorang kader yang begitu getol mengikuti kegiatan internasional. Maklum, yang bersangkutan menjadi Pengurus di salah satu organisasi internasional. Dalam satu tahun, ia bisa ke luar negeri sampai 3-4 kali. Suatu capaian yang mengagumkan, bukan? Saya ingatkan agar yang bersangkutan lebih menjejak di bumi, bukannya melulu melihat langit nun jauh. Sebab, seringkali kegiatan internasional itu selalu membincangkan praktika yang di lokal. Sehingga yang pertama-tama adalah bagaimana kerja keras kita untuk mengawal praktik demi praktik sehingga hasilkan karya yang pantas pajang. Kegiatan internasional itu, sampai titiknya, seperti ruang pajang dari puluhan karya-karya di lokalnya masing-masing. Dengan begitu, saat kita hadiri atau ikuti, kita hadir dengan penuh percaya diri dan kepuasan. Bukan puas karena telah ikuti kegiatan itu, melainkan puas atas kerja keras kita di lokal dan siap tu...