Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari 11, 2015

Dimensi Keempat

Oleh: Firdaus Putra, HC. Albert Einstein mulai bicara soal dimensi keempat saat merumuskan Teori Relativitas Khusus (1905). Kemudian ada ilmuwan lain, PD. Ouspensky merilis buku The Fourth Dimension empat tahun setelahnya. Ambillah kubus kayu, rabalah; Ia punya sisi panjang, lebar dan isi. Kubus kayu itu kita sebut tiga dimensi. Lihatlah sebuah foto; Ia hanya punya sisi panjang dan lebar saja. Foto itu kita sebut dua dimensi. Buatlah satu titik; Ia hanya punya satu dimensi. Lantas apa itu dimensi keempat? Dimensi keempat merupakan penambahan dari wujud tiga dimensi dengan satu dimensi tertentu. Mari kita tengok kembali ihwal kubus kayu. Kita lupa satu hal, bahwa saat meraba kubus, kita berada dalam waktu tertentu. Dan itulah dimensi keempat: waktu. Bayangkanlah kita sedang di dalam ruang tunggu. Saat berada di ruang tunggu itu, pasti kita juga sedang berada dalam waktu tertentu: pagi, siang atau malam. Sulit membayangkan berada dalam ruang tanpa konteks waktu. Alhasil,...

Joker Seorang Anarkis?

Oleh: Firdaus Putra, HC. Sebagian para pengulas Batman: The Dark Knight melabeli Joker sebagai sosok anarkis. Dalam salah satu dialog, Joker (Heath Ledger) bilang, “Introduce a little anarchy, you upset the established order and everything becomes chaos. I’m an agent of chaos”. Joker menyebut dirinya sebagai aktor pengacau yang akan menyuguhkan sedikit anarkisme dan membalik segala yang mapan di kota Gotham. Jadi, adakah Joker seorang Anarkis, dalam makna penganut faham anarkisme? Film besutan Christopher Nolan tahun 2008 itu benar-benar fenomenal. Selain soal keuntungan yang diraupnya mencapai 1 milyar dollar, film ini juga banyak dikaji secara politik. Beberapa ilmuwan politik Youngjeen Choe, Vincent M. Gaine, John Ip dan masih banyak lainnya, mengaitkan film ini dengan kondisi dan kebijakan Amerika Serikat pasca 9/11. Ada pola yang sama antara apa yang dilakukan Batman dengan George W. Bush dalam melawan kejahatan/ terorisme. Tak berhenti pada pemeran protagonis, tok...

Konsumsi Sosial: Pemenuhan Motif Egoistik dan Altruistik Konsumen

Oleh: Firdaus Putra, HC. “It is not from the benevolence of the butcher, the brewer or the baker that we expect our dinner, but from their regard to their own interest” – Adam Smith. Nalar Fundamen Bangunan ekonomi kita selama ini selalu terilhami pernyataan Adam Smith di atas. Yang dapat kita terjemahkan, “Bukan karena kebaikan hati tukang hati, bir atau tukang roti yang kita harap menyediakan makan malam kita, tetapi karena kepedulian mereka pada kepentingan dirinya sendiri”. Dalam bukunya The Wealth of Nations , Smith mengungkapkan bahwa motif mengejar keuntungan pribadi itulah yang menggerakkan ekonomi. Bukan sebaliknya, motif untuk berbuat baik kepada orang lain. Pada tahap pertama, Smith tidak salah, pernyataannya itu hanya sekedar refleksi terhadap kondisi masyarakat. Sedang pada tahap kedua, pernyataan itu lambat-laun menjadi doktrin yang nampak menjadi pembenar bahwa segala ihwal adalah melulu kepentingan pribadi ( self interest ). Alhasil, dunia ini dipe...