Saya teringat masa dimana pagi-pagi buta kami melaju di atas bus jurusan Kajen – Kalibening. Bersamanya saya ikut jualan baju di pasar Kalibening (perbatasan Kab. Banjarnegara – Kab. Pekalongan). Yang saya ingat adalah energinya begitu luar biasa. Tengah hari badan saya sudah letih. Sedangkan ia, masih tetap terjaga. Sampai akhirnya kami pulang pukul lima sore, ia masih bertahan. Sedangkan malamnya, saya meriang karena kaget dengan hawa dingin dan panas. Saya ingat betul masa dimana dia selalu memanjakan saya. Mulai dari balita, sekolah dasar dan mungkin sampai beberapa waktu lalu. Saya juga ingat masa dimana kami tidur bersama. Ia kisahkan berulang-ulang tentang diri dan suaminya yang hidup di tanah rantau, Jakarta, Palembang dan Pekanbaru. Meski berulang kali, saya selalu mendengarkannya. Ada rasa haru-pilu-takjub. Saya kenang tanggal 2 Januari lalu di saat saya pamitan berangkat ke Purwokerto. Ia menangis. Saya ingat, hari-hari setelahnya saya selalu berdoa, semoga Tuhan be...