Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni 11, 2017

Membaca Pancasila Secara Dialektik: dari Sila Kelima ke Sila Pertama

Oleh: Firdaus Putra, HC.  Banyak diskusi Pancasila seringkali tertuju pada Sila Pertama, "Ketuhanan yang Maha Esa". Memang ada presedennya, yang terkini adalah merebaknya sikap intoleran dan sentimen antar agama. Meskipun hal itu sebenarnya bukan fenomena yang berdiri sendiri melainkan berkelindan dengan anasir ekonomi-politik. Sinyalemen itu dibaca oleh beberapa intelektual Indonesia dalam Jurnal Maarif, "Setelah Aksi Bela Islam: Gerakan Sosial Islam, Demokratisasi dan Keadilan Sosial", rilis Desember 2016 lalu. Di sisi lain, OXFAM (2017) beberapa bulan lalu merilis laporannya tentang ketimpangan sosial-ekonomi di Indonesia. Dalam keterangannya OXFAM menyebut bahwa kekayaan 4 milyader Indonesia sejumlah 25 milyar dolar, setara dengan kekayaan 100 juta penduduk miskin. Belum lagi ditambah dengan data Indonesia peringkat ke tujuh dalam indeks kapitalisme kroni dunia (2016).  Dalam konteks seperti itulah kita perlu membaca Pancasila secara dialektik ...

Perlunya Meremajakan Logo Koperasi Indonesia

Oleh: Firdaus Putra, HC. Beringin atau Teratai Pada tahun 2012 logo koperasi, yang akrab kita lihat, "Pohon Beringin" hasil kongres Tasikmalaya 1947 dirubah oleh Menteri Koperasi. Dalam Permen No. 02/Per/M.KUKM/IV/2012 tujuan perubahan itu untuk tingkatkan citra dan kepercayaan masyarakat pada koperasi. Logo besutan Menteri Syarif Hasan itu berupa "Bunga Teratai" dengan warna dominan hijau.  Selepas tiga tahun, Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) menganulir penggunaan "Bunga Teratai" versi Pemerintah. Surat bernomor SKEP/03/Dekopin-E/I/2015, menyatakan bahwa melalui Munas Dekopin 2014 gerakan koperasi kembali kepada logo "Pohon Beringin". Maju mundur perubahan logo itu memberi sinyal: gerakan koperasi gamang mendefinisikan diri. Satu sisi ada aspirasi tentang perubahan yang harus dilakukan agar adaptif dengan zaman; Di sisi lain, ada romantisisme sejarah koperasi yang harus dipertahankan.  David Airey, brand designer dunia b...

Menyempurnakan "Sharing Economy"

Oleh: Firdaus Putra, HC. Februari lalu Prof. Rhenald Kasali kembali luncurkan buku, Disruption: Tak Ada yang Tak Bisa Diubah Sebelum Dihadapi, Motivasi Saja Tidak Cukup (2017). Disruption atau disrupsi , katanya, telah membuat Blue Bird alami penurunan laba bersih dari 629,1 miliar menjadi 360,8 miliar atau 42,3% pada tahun 2016. Sedang Taksi Express rugi sampai 81,8 miliar dari tahun sebelumnya untung 11,8 miliar. Kedua perusahaan itu terdisrupsi oleh Uber, yang konyolnya, tak memiliki armada, pangkalan dan mesin argometer. Beda Model Bisnis Perkembangan teknologi informasi membuat model bisnis berubah. Blue Bird dan Express memiliki model bisnis yang berbeda dengan Uber meski sama-sama memiliki layanan taksi. Yang pertama sebuah perusahaan transportasi yang memiliki armada, pangkalan, bengkel dan izin operasional layanan taksi; Yang kedua perusahaan aplikasi yang menghubungkan antara orang yang memiliki mobil (supply) dengan orang yang membutuhkan layanan (demand). Ya...