Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September 25, 2016

Mengapa Saya Menulis?

Oleh: Firdaus Putra, HC. Saya seorang blogger karenanya saya sering menulis. Lebih mendasar dari itu, saya memang suka menulis. Buat saya pada momen tertentu menulis merupakan mekanisme penyembuhan diri (self healing). Saat menuliskan sesuatu, terutama yang terkait dengan hal yang telah lampau, mau tak mau saya harus berani untuk memeriksa ulang diri saya. Memeriksa dalam konteks ini adalah mengingat kembali, meneguhkan, merefleksikan dan tentu saja memaknainya kembali. Dengan cara seperti itu, menulis memberikan sebuah cermin besar dan saya akan berdiri di depannya. Kadang pada momen dimana saya mengalami suasana hati yang buruk, saya akan menulis untuk menumpahkan begitu saja apa yang saya rasakan atau hayati. Penghayatan atas situasi ini yang kadang sulit untuk digambarkan, namun dengan menuliskannya, saya menjadi tahu bagaimana situasi itu terjadi. Penghayatan situasi membuat saya menjadi bagian dari situasi (part in). Dengan menuliskannya, saya akan berposisi se...

Insentif dan Payback

Oleh: Firdaus Putra, HC. Saya pernah bilang ke seseorang, “Kedirian kita yang sesungguhnya baru akan terlihat bila berbagai insentif itu tak ada. Di sisi lain, saat kemudian kita menerima disinsentif yang tentu saja tak menyenangkan”. Namun itulah ujian terbesar dari apa yang kita sebut sebagai idealisme. Secara psikologis orang akan mudah melakukan sesuatu bila menerima insentif tertentu. Dalam Sosiologi ini diterangkan dalam Teori Pertukaran Sosial. Insentif ini bisa apapun bentuknya: pujian, fasilitas, honor dan berbagai hal bisa material atau immaterial. Dalam konteks dunia kerja profesional, insentif adalah mekanisme yang biasa dilakukan. Sebaliknya, bila melakukan suatu kesalahan maka ia akan menerima disinsetif atau sanksi. Namun dalam konteks perjuangan-kaderisasi-pergerakan sosial, insentif dan disinsentif relevansinya menjadi rendah. Karena dalam konteks seperti itu yang menjadi hakim sebenarnya diri kita sendiri. Kita sebut sebagai kecenderungan untuk bersika...

Attitude Harga Mati

Oleh: Firdaus Putra, HC. Saya punya kisah yang menarik bagaimana attitude itu benar-benar penting. Attitude atau terjemahnya adalah sikap mental atau pendirian merupakan ekspresi dari apa yang ada di hatinya. Attitude tak bisa dimanipulasi dan muncul dalam tingkah laku, bahasa tubuh dan lainnya. Ia benar-benar sesuatu yang menubuh dan mendarah daging. Saya punya kolega yang “dijauhi” oleh teman-temannya. Saat itu saya bersimpati dan merasa kasihan atas kondisi itu. Saya pikir kenapa komunitas ini begitu “kejam” sehingga tak memberikan “maaf” baginya. Sampai kemudian suatu ketika saya benar-benar memahami mengapa ia “dikucilkan”. Momen itu adalah ketika dia melakukan perbuatan tak etis pada saya. Sehingga dalam hati saya bilang, “Owww bener kata teman-teman, memang ular ne orang”. Cara main dia memang berbeda sekali dengan kolega saya lainnya. Ia cenderung bermain jangka pendek (short term) yang berorientasi keuntungan secepat mungkin. Seringkali, di banyak kasus, dia...