Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari 3, 2008

Mengkultuskan Soeharto

Oleh: Firdaus Putra A. SMPN 5 Purwokerto menyelenggarakan lomba melukis dan membuat puisi untuk Selasa (29 Januari 2008), tujuan mengenal Bapak Soeharto sebagai Bapak Pembangunan. Kompas edisi Jawa Tengah, Rabu 30 Januari 2008. Satu paragraf di atas dapat kita lihat di head line Kompas Edisi Jawa Tengah. Sebuah momen untuk mengenang sosok Presiden RI ke-2 yang meninggal 27 Januari 2008. Kegiatan tersebut ironisnya digelar oleh institusi pendidikan. Menjadi lebih ironis ketika tujuan dari kegiatan untuk ‘mengenal’ almarhum. Apakah misi tersebut akan sampai pada siswa-siswinya? Atau justru akan semakin mengkaburkan sejarah Indonesia ketika almarhum memimpin? Saya heran kenapa proses mengenal dijabarkan melalui kegiatan melukis dan membuat puisi? Bukankah itu lebih mengarah pada kenangan. Atau lebih tepatnya lagi dalam rangka mengkultuskan almarhum. Saya khawatir, ada semacam usaha sistematis dalam rangka ‘memutihkan’ nama almarhum. Pemutihan nama ini melalui rekayasa sejarah. Si...

Ikhtiar Marajut Asa

Oleh: Firdaus Putra A. Kemarin malam (31 Februari 2008), saya mendapat undangan syukuran beberapa kawan yang udah lulus. Syukuran seperti ini memang sudah menjadi tradisi di angkatan saya. Sedikitnya lima kawan akan di wisuda bulan Maret mendatang. Dan sedikitnya 35 kawan sudah diwisuda tahun-tahun sebelumnya. Praktis, dari 80-an orang, tersisa 45 orang yang sibuk dengan skripsi. Tidak ada kata yang lebih baik untuk mengapresiasi kelulusan mereka, “Selamat atas kelulusannya. Semoga harapanmu paska kuliah cepat terwujud”. Kelulusan sepenggal cerita sejarah mahasiswa. Ia bukan lagi mahasiswa. Ia sudah menyandang gelar sarjana. Momen ini tercipta melalui proses yang panjang. Tidak sedikit biaya dikeluarkan. Dan banyak mental emosional harus disediakan. Momen penyematan tali pada topi toga merupakan momen yang sangat dinantikan. Setimpal dengan jerih payah yang sudah dikeluarkan. Sepeninggalnya mereka dari dunia kampus, mereka akan memasuki dunia riil kehidupan. Dunia di mana untuk...

“Budaya Banjir”

Oleh: Firdaus Putra A. Terhitung dari hari Jumat (1 Februari) pekan lalu, hujan mengguyur Ibu Kota – Jakarta dengan deras. Tidak salah lagi, banjirpun datang sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada yang berbeda, selain konon katanya, banjir kali ini lebih disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, begitu penuturan Pemprov Jakarta, Fauzie Bowo. Seperti sudah menjadi tradisi, untuk beberapa saat, pada beberapa titik vital Jakarta mengalami kelumpuhan. Yang paling terlihat jelas yakni lalu lintas penerbangan pada Bandara Soekarno-Hatta, sebuah bandara bertaraf internasional. Pesawat terbang tidak bisa landing dan/atau take off. Ironis. Tapi lebih menyengsarakan lagi bagi masyarakat miskin. Banjir yang datang tiap tahun harus menjadi “musibah tahunan” yang mengganggu. Penanganan berupa bantuan makanan, tenda tempat berteduh dan seterusnya masih kurang. Sedikitnya masalah itu yang terekam ketika beberapa media televisi swasta mendatangi tempat pengungsian. Tak habis pikir, bera...

Menyoal Kemiskinan - Agama

Oleh: Firdaus Putra A.[1] Agama adalah untuk manusia, bukan Tuhan. Sehingga agama harus membumi, untuk kini dan di sini; Bukan melangit, untuk lusa dan di sana. (sepertinya bijak) Avant phropos Dalam beberapa bulan terakhir kita dibuat heran dengan banyak berita yang mennyuguhkan berbagai macam bencana. Bukan hanya bencana alam saja seperti banjir yang setiap tahunnya sudah menjadi tradisi. Atau tanah longsor akibat pembukaan, penebangan hutan yang semena-mena. Tetapi, bencana yang saya maksud adalah bencana kemanusiaan. Bencana yang setiap hari, bahkan setiap saat mampir di sekitar kita, bahkan mungkin di keluarga kita sendiri. Kemiskinan, busung lapar, gizi buruk, atau makan nasi aking yang sebenarnya tidak laik makan, dan seterusnya. Bencana kemanusiaan yang selalu menghinggapi negara di belahan Dunia Ketiga. Ketaktersediaan air bersih[2], minimnya pelayanan kesehatan, atau pun angka pengangguran yang semakin meningkat selaras dengan angka kemiskinan yang terus me...