Oleh: Firdaus Putra A. SMPN 5 Purwokerto menyelenggarakan lomba melukis dan membuat puisi untuk Selasa (29 Januari 2008), tujuan mengenal Bapak Soeharto sebagai Bapak Pembangunan. Kompas edisi Jawa Tengah, Rabu 30 Januari 2008. Satu paragraf di atas dapat kita lihat di head line Kompas Edisi Jawa Tengah. Sebuah momen untuk mengenang sosok Presiden RI ke-2 yang meninggal 27 Januari 2008. Kegiatan tersebut ironisnya digelar oleh institusi pendidikan. Menjadi lebih ironis ketika tujuan dari kegiatan untuk ‘mengenal’ almarhum. Apakah misi tersebut akan sampai pada siswa-siswinya? Atau justru akan semakin mengkaburkan sejarah Indonesia ketika almarhum memimpin? Saya heran kenapa proses mengenal dijabarkan melalui kegiatan melukis dan membuat puisi? Bukankah itu lebih mengarah pada kenangan. Atau lebih tepatnya lagi dalam rangka mengkultuskan almarhum. Saya khawatir, ada semacam usaha sistematis dalam rangka ‘memutihkan’ nama almarhum. Pemutihan nama ini melalui rekayasa sejarah. Si...