Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember 28, 2008

Surprise

Oleh: Firdaus Putra A. Sudah berapa minggu saya tidak menulis untuk blog. Akhir-akhir ini agenda padat. Selain juga keteteran menyiapkan proposal penelitian untuk skripsi. Otomatis, saya juga jarang ke warnet untuk up load tulisan atau sekedar cek e-mail. Dan malam itu, malam tahun baru, sepulang dari kafe Loja saya bersama Wahyu ke Leon Net. Saya cek e-mail dan tentu saja, cek blog siapa tahu ada komentar baru pada beberapa tulisan. Saat halaman blog tampil, kali pertama yang saya cek adalah “Buku Tamu”. Wah ternyata banyak sekali komentar yang masuk. Dan saya mulai penasaran, karena beberapa komentar isinya ucapan selamat. “Selamat ya … memang Kapan Lagi”. Saya mulai ingat, jangan-jangan memang benar saya memenangkan kontes pemasangan banner iklan www.kapanlagi.com . Cepat-cepat saya klik in-box email. Dan benar, ada surat masuk dari pihak KapanLagi.Com. Saya baca dan begitu senangnya, di sana nama saya tercatat sebagai salah satu pemenang dari 10 pemenang lainnya [klik di sin...

Kimpoi

Oleh: Firdaus Putra A. Malam tahun baru 2009 saya mengalami banyak kejadian menarik. Salah satunya ini, kimpoi. Kejadian ini berawal ketika saya membeli sebungkus rokok di warung tak jauh dari kafe Loja, tempat saya dan Wahyu nongkrong malam itu. Di sana saya bertemu dua teman mahasiswa. Ia menanyakan mau beli apa? Saya jawab rokok. Lalu saya tanyakan, kalian beli apa? Ia tidak menjawab, karena selang beberapa detik kemudian si empunya toko menyajikan barang pesanannya, bir dan anggur merah. Saya sentil, “Rame-rame neh, banyak banget”. Di sela-sela obrolan pendek ia bertanya, “Kimpoi gak malam ini (tahun baru)?” Saya jawab, “Ya … biasanya kalo lagi sehat iya. Cuma sekarang aku lagi flu, jadi enggak”. Terus dia melanjutkan, “Aku juga biasanya ma cewekku”. Sontak saya kaget, saya mulai khawatir kalau telah terjadi salah tafsir. Dengan ragu saya tanyakan, “Eh, kimpoi itu ML (making love)?” Ia mengangguk. Langsung saya bilang, “Oh maaf, aku salah tafsir. Kirain kimpoi itu minum. M...

2-(-2) = 4, How?

Oleh: Firdaus Putra A. Malam itu, 30 Desember 2008, pikiran saya mengawang-awang. Pukul dua dini hari, rumus matematis itu menganggu istirahat. Lihatlah, 2-2 = 0, -2-2 = -4, 2+2 = 4, 2-(-2) = 4. Tiga bentuk penjumlahan di awal (2-2 = 0, -2-2 = -4, 2+2 = 4) sama sekali tidak mengganggu logika. Namun bentuk penjumlahan di akhir (2-(-2) = 4) itu sangat menganggu logika saya. Saya yakin dulu saat SD sampai SMA, pasti saya akan menjawab dengan betul bentuk penjumlahan seperti yang terakhir. Hanya saja, bagaimana logikanya mengapa 2-(-2) = 4. Saya sulit menerima logika hukum min minus min sama dengan plus. Jelas-jelas min, mengapa berubah menjadi plus. Dulu, di sekolah saya tidak diajarkan bagaimana logika di atas bisa bekerja. Yang saya tahu hanya seperti itu saja. Seolah-olah saya tinggal memasukkan angka-angka itu ke kalkulator (baca: otak) dan dengan sendirinya keluar hasil. Prosesnya sama sekali saya tak pernah tahu. Sampai akhirnya, malam itu hal yang tidak pernah saya temukan...

Parfume

Oleh: Firdaus Putra A. Malam itu seperti biasa saya dan Wahyu memilih tempat duduk paling pojok. Soalnya tempat itu jauh dari alat pengeras suara yang mendendangkan hit-hit popular. Ikut di meja kami, seorang cewek dan cowok SMA. Kami berdua sepakat kalau cewek SMA tersebut sangat manis. Nampaknya si cowok sedang PDKT. Dan nampaknya pula, si cewek sedang merajuk, meminta jalan-jalan ke GOR Purwokerto, tempat dimana pesta akhir tahun digelar dengan berbagai kembang api. Wahyu bertanya ke cewek tersebut, “Mbak dari SMA mana?” Si cewek menjawab dengan halus, “SMA 5”. Wahyu melanjutkan, “Semuanya sama, teman-temannya?” Dia menjawab, “Bukan, ada yang SMA 3”, sembari menunjuk cowok yang sedang PDKT itu. Selang berapa menit, entah karena merasa terganggu atau ingin lebih intim, si cowok mengajak pindah meja. Tak selang lama, meja samping kami terisi orang. Dua orang laki-laki dan seorang perempuan dewasa. Saya duduk di sebelah kursi perempuan itu. Tiap angin berhembus, saya rasakan aro...

Hingar Bingar 2008

Oleh: Firdaus Putra A. Jalanan penuh, motor lalu lalang ke sana kemari tak tentu arah. Seperti laron yang memburu cahaya. Beberapa kafe menyajikan live music. Beberapa lagi hanya menyajikan MP3 dibantu speaker active. Salah satu yang paling menarik, kafe Kongkow yang lokasinya tepat di depan patung Jenderal Soedirman UNSOED. Kafe itu menyuguhkan live music dari band-band dalam dan luar Purwokerto. Menarik, bukan karena suguhannya. Lebih karena tepat di sebrang jalan lainnya, sekelompok mahasiswa melakukan refleksi akhir tahun dengan berbagai pembacaan puisi. Seperti akhir tahun sebelumnya, malam itu ratusan mahasiswa memadati Jl. HR. Boenyamin. Sembari melihat isi kafe. Memperhatikan, meski sepintas lalu, aksi damai mahasiswa. Juga tak kalah serius, memonitor keadaan jalan yang ramai. Dengan berbagai alasan semuanya “turun ke jalan”. Hingar bingar menjadi tak terelakan. Ada pembacaan puisi dengan nilai-nilai virtus tertentu. Ada juga suara gitar, drum dan vokalis yang mendayu-...

Islam & Non-Islam

Oleh: Firdaus Putra A. Melafalkan “Islam dan non-Islam” nampaknya sudah kadung membudaya di masyarakat kita. Tentu saja, si pelafal adalah seorang Muslim. Kadung membudayanya, atau karena alasan lain, seorang Muslim lebih sering menyebut non-Islam daripada, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan seterusnya. Apakah sekedar alasan teknis, yakni mempermudah penyebutan? Karena dalam istilah non-Islam terkandung beberapa macam istilah lain sebagaimana di atas? Atau jangan-jangan nalar oposisi biner kadung mendarah daging di benak masyarakat (Muslim) Indonesia? Dan bagaimana implikasi penggunaan istilah tersebut? Meminjam analisis Derrida, tentang dekonstruksi, nampaknya alasan terakhir lebih mencukupi daripada sekedar alasan teknis. Opisisi biner sedari awal sudah “diajarkan” turun-temurun melalui sejarah budaya Islam. Lihatlah bagaimana Islam menandai secara tegas sekuel sejarah dengan pra-Islam dengan term “Jahiliyah”. Dalam konteks lain, Islam menandai komunitas beriman dengan “Mukmin”...

Kejujuran Diri

Oleh: Firdaus Putra A. Ketika menyaksikan film ini, saya tertegun bagaimana Ary Ginanjar Agustian membeberkan bagaimana bekerjanya “kecerdasan emosi”. Film itu berdurasi 30 menit. Sebelum memasuki tema “kecerdasan emosi”, pada bagian awal Ary Ginanjar menjelaskan “kecerdasan intelektual”. Pada sesi “kecerdasan emosi” ia memberikan contoh “Kisah Safety Box”. Di bawah ini saya kutipkan beberapa kalimat kunci yang ia ceritakan. (... di depan saya ada koran, kebetulan ia baru saja di lantik sebagai ketua organisasi tertentu yang di hormati ...) “Boleh saya minta waktu dua menit saja untuk bertanya secara pribadi kepada Bapak. Karena saya jujur saya mengagumi Bapak. Pertama kali saya ingin ucapkan selamat Bapak dipilih sebagai ketua suatu organisasi sosial”. “Lho Anda tahu dari mana?” (Dia-pemilik hotel-mulai terpancing). “Ah saya kan senantiasa mengamati juga ... bla bla bla ...” Lantas apa yang perlu kita analisis? Telitilah kalimat, ”... di depan saya ada koran, ternyata di...