Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari 20, 2008

Indonesia, Skulerisme dan Demokrasi

Oleh: Firdaus Putra A. Seperti kata ‘liberal’, skuler atau skulerisme juga cenderung dimaknai secara peyoratif. Padahal, jika kita mau jujur, semenjak dideklarasikan, Indonesia termasuk dalam negara skuler. Kedaulatan di tangan warganya, bukan Tuhan. Yang untuk menyelenggarakannya didelegasikan kepada para wakil rakyat—bila term ini masih mencukupi—melalui mekanisme pemerintahan presidensil. Anehnya, menggunakan term skuler atau skulerisme seakan-akan tabu. Ada juga yang mengartikan skulerisme merupakan paham yang memisahkan kehidupan dengan agama. Pernyataan itu tidak sepenuhnya, hanya saja yang perlu diperjelas adalah konteksnya. Pernyataan itu menjadi benar jika kita tempatkan dalam konteks hubungan antara negara dengan agama. Meskipun, sebenarnya tidak ada satu negara pun yang benar-benar skuler dalam artian mengasikan agama. Yang ada seringkali nilai-nilai universal agama ditransformasikan dalam sebuah kebijakan publik bagi seluruh warga negara tanpa membedakan asal usul agam...

Pak Slamet Warteg:

Semacam Testimoni Oleh: Firdaus Putra A. Saya mulai mengenal beliau awal tahun 2004. Raut mukanya dan tubuhnya masih sama, tidak terlalu berubah. Meskipun aslinya beliau sudah lanjut usia. Beliau lahir tahun 30-an. Saat ini mungkin sudah memasuki usia 70 tahunan. Meskipun sudah lanjut, tubuhnya masih sehat dan tidak layu. Tatap matanya masih tegas. Tutur katanya masih saja sama, menyentak. Aktivitas beliau sebagai seorang penjual nasi rames. Tempat berdagangnya di depan kampus FISIP UNSOED. Oleh kawan-kawan kampus tempat itu dikenal sebagai Warteg depan FISIP. Secara fisik tidak ada perbedaan antara warteg milik Pak Slamet dengan warung tegal yang lain. Hanya saja, warteg Pak Slamet sering dijadikan tempat kumpul kawan-kawan pegiat kampus, wartawan, dan sebagainya. Biasanya juga dijadikan posko ketika hendak melakukan aksi massa, atau mencari sumbangan untuk bencana alam. Dalam usianya yang sudah lanjut beliau tetap berorganisasi. Saat ini beliau dipercaya sebagai Ketua Paguyuga...

Mengapa Saya Menulis?

Oleh: Firdaus Putra A. Sebagian kawan saya pesimis terhadap apa yang saya lakukan. Mereka beranggapan bahwa pemikiran dan tentunya juga tulisan, tidak terlalu siginifikan dalam memberdayakan mahasiswa atau masyarakat. Pandangan semacam ini merupakan pandangan yang deterministik, bahwa pemberdayaan mengharuskan keterlibatan secara fisik. Keterlibatan fisik, pada titik tertentu saya sepakat. Tetapi memutlakkan pandangan semacam ini saya kira tidak tepat. Sampai hari ini saya masih meyakini bahwa pemikiran atau tulisan masih signifikan sebagai salah satu media perjuangan. Perjuangan di sini saya maksudkan dalam maknanya yang paling luas, yakni berusaha dengan sungguh-sungguh mengupayakan kehidupan yang lebih baik dan beradab. Pemikiran dan tulisan, menurut saya merupakan semangat dari perjuangan itu sendiri. Sejatinya, tidak ada di dunia ini, dimana kita berjuang tanpa berpikir dengan serius. Saya memaknai pemikiran dan tulisan sebagai media perjuangan. Untuk itu, saya selalu berus...