Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember 30, 2007

Ranilla Muncul di Pekalongan

Oleh: Firdos Putra A. Malam itu semua muda-mudi keluar dari rumah untuk memenuhi sebuah undangan pesta. Sebuah pesta melepas, menyobek atau mengganti kalender. Pesta itu digelar di sebuah lapangan, lapangan Mataram namanya. Posisinya di tengah-tengah kota. Meski bukan alun-alun, lapangan itu kini sudah sedemikian ramai. Tidak kalah dengan alun-alun kota. Motor berjalan pelan. Klakson dinyalakan, membuat pekak telinga. Knalpot dimodif, agar mengeluarkan suara yang nyaris seperti knalpot rusak. Bunyi terompet juga tidak absen. Di sana-sini muncul suara. Benda-benda bersuara, juga dari atas panggung. Sound system besar meneruskan gelombang suara sampai beberapa ratus meter. Di bawahnya, banyak orang berjingkrak-jingkrak menikmati alunan musik. Berganti penyanyi, satu petasan besar disulut. “Duor ...!!!”. Perempuan berteriak. Laki-laki bersorak. Anak-anak terdengar menangis dari kejauhan. Malam itu waktu menunjukan pukul 11.30. 30 menit lagi untuk menyambut awal tahun 2005. Tanpa di...

Refleksi Pesta Akhir Tahun

Oleh: Firdos Putra A. Tawangmangu, Karanganyar, Kuta, Bojonegoro, mengingatkanku pada tahun di mana gelombang Tsunami meluluhlantakkan Aceh. Memang Tsunami terjadi di bulan Desember, bulan penghujung tahun. Tapi dampaknya aku yakin belum pupus sampai awal tahun menjemput. Dan benar. Sedangkan di kota lain, gemerlap kembang api, tiupan terompet mengawali tahun di mana negeri ini sebenarnya belum pantas untuk bersuka-cita. Aku tertegun, kenapa kita kurang peduli terhadap masyarakat lain yang masih menangis. Saat itu aku ingat, beberapa event acara, baik live maupun di televisi mengingatkan para penontonnya untuk jangan berlebihan. Akhir tahun ini pun sama. Bencana menjadi catatan dalam kalender yang akan berganti. Aku rasa hampir sama seperti tahun di mana Tsunami terjadi. Satu masyarakat menangis, sedang yang lain berlebihan dalam bersuka-cita. Sama sekali toleransi, empati tidak mewujud di sebuah perayaan awal tahun. Lihatlah para muda-mudi yang berpasang-pasangan memacu motor...

Heli di Tengah Sawah

Oleh: Firdos Putra A. Aku membayangkan siang itu aku berjalan kaki dari Sidabowa sampai ke Patikraja. Hanya berjalan kaki, melepas rutinitas yang menjebakku dan seakan-akan membunuhku dengan waktu yang itu-itu saja, dengan aktivitas yang itu-itu juga. Aku berjalan menyusuri tepi jalan. Tidak kuhiraukan berbagai macam kendaraan yang lalu lalang di tengah jalan raya. Pandanganku hanya tertuju pada padi yang menghijau di sawah, di samping kiriku. Menikmati waktu luang tanpa ada gangguan dari sekretarisku, agenda meeting, pertemuan dengan customer, malam amal atau seabrek seremonial yang benar-benar membuatku muak. Aku benar-benar ingin menikmati ketidakbiasaan, sampai pakaian pun aku pilih yang benar-benar berbeda, kaos singlet warna putih seharga 20.000 ribuan. Dan tidak memakai sepatu seperti biasanya, hanya sandal jepit yang ku kenakan. Benar-benar di luar kebiasaanku, dengan segala kemewahan, kelengkapan fasilitas. Hari itu aku benar-benar tidak ingin diganggu. Di tengah-teng...

Demokrasi Minimalis untuk Pemerintahan Mahasiswa:

Studi Kasus PEMIRA KMFE UNSOED Oleh: Firdos Putra A. I Jargon demokrasi begitu rupa dipercaya oleh mahasiswa sebagai sistem yang par excelence. Sistem itu juga yang akhirnya dipilih oleh kawan-kawan mahasiswa untuk mengkreasi sistem pemerintahannya. Layaknya dalam demokrasi negara, pemerintahan mahasiswa juga tidak ketinggalan dengan melaksanakan hajat besar yang kita kenal dengan PEMIRA (Pemilihan Umum Raya), guna menentukan siapa yang pantas menduduki kursi pemerintahan. Tidak sekedar mengimitasi prosedur suksesi kepemimpinan dalam negara, mekanisme pemungutan suara pun nyaris sama, yakni mahasiswa sebagai voters memberikan suaranya di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Mereka berpikir bahwa mekanisme ini akan menjaga azas LUBER dan JURDIL seperti yang diterapkan negara dari dulu sampai sekarang. Alhasil, sampai saat ini banyak fakultas di UNSOED, yang menggunakan TPS sebagai mekanisme pemungutan suara. Hanya sayangnya, ada masalah yang selalu mengganjal setiap PEMIRA digelar, ya...

Kala Sungsang

Oleh: Firdos Putra A. Orang Jawa dulu ternyata mempunyai kearifan yang luar biasa. Hanya berbekal kelinuwihan mata hati, mereka dapat membaca gerak zaman dalam berapa ratus ke depan. Tengok lah ramalan untuk hari ini, bukan lagi zaman Kala Bendu, melainkan zaman Kala Sungsang. Tanda-tanda munculnya Kala Sungsang (Topeng Malaikat: 2005) antara lain, musim yang tidak bisa diramal, bencana alam datang beruntun tanpa bisa dicegah atau dideteksi, banyak pemimpin yang terjungkal dari kursi kekuasaan, banyak pemimpin yang mulai dilecehkan oleh rakyat kecil, banyak perempuan ternama terbuka rahasianya, rasa malu sudah tidak dimiliki oleh panutan masyarakat, para tokoh agama mulai diragukan kesalehannya, dan tingkat kejahatan naik secara tajam. Tanda mana yang tidak muncul di tengah-tengah masyarakat kita? Nyaris tidak ada bukan. Zaman Kala Sungsang konon katanya ‘sengaja’ diturunkan oleh si-empunya kehidupan. Mungkin hari ini Tuhan sudah bosan melihat tingkah kita, kata Ebiet. Mari kita ...

Menulis di Komputer

Oleh: Firdos Putra A. Pernahkan Anda merasa bahwa otak Anda menjadi beku, pikiran berhenti, ide tersendat ketika tidak menyentuh keyboard komputer? Saya sering merasakannya. Sudah menjadi kebiasaan, saya menuliskan ide, gagasan, imajinasi langsung melalui keyboard. Akhirnya kebiasaan menulis dengan tangan, pena, dan kertas menjadi hilang. Saya merasa bahwa dengan menyentuh keyboard, ide menjadi semakin lancar keluar. Sayangnya, hal semacam ini menganggu bila di suatu ketika komputer saya ngadat (error), listrik padam dan sebagainya. Bisa dibilang saya sudah kecanduan dengan komputer. Adiksi komputer membuat saya meninggalkan cara menulis konvensional. Dan parahnya, hari ini saya menemukan bahwa tulisan tangan saya menjadi tidak rapi, tidak seperti dulu kala. Menulis satu lembar di atas kertas A4 menjadi melelahkan dan tidak optimal. Menulis di komputer benar-benar telah merubah kebiasaan (habbit) saya yang lain. Seringkali saya becanda dengan teman, “Tolong suratnya ditulis pa...

Muslim Muda dan Ikhtiar Menata Perubahan

Oleh: Firdos Putra A. “Muslim muda adalah komunitas epistemis dimana darinya lahir gagasan-gagasan yang diharapkan mampu menyelesaikan masalah umat. Gagasan-gagasan yang ada tentunya harus mempertautkan antara teori dan aksi, yang membumi dan berpihak pada fakta kemanusiaan. Mereka adalah martir untuk mewujudkan kehidupan menjadi lebih mencukupi untuk kini dan di sini.” I Menulis ‘Muslim muda’ dengan mendasarkan pada kata ‘muslim’ yang disifati ‘muda’, saya ingin membedakannya dengan ‘pemuda Islam’. Secara mendasar menurut saya perbedaan itu terletak pada term pertama yang bersifat khusus dan yang terakhir adalah term yang bersifat umum. ‘Muslim muda’ saya definisikan sebagai konstruksi keberagamaan seseorang yang senantiasa muda-up to date. Dimana ajektif muda merujuk pada sifat dan/atau sikap kedinamisan, eksperimentatif, trial and error, berani mengambil resiko, energik dan sebagainya. Sikap keberagamaan semacam ini tidak terperiodisasi oleh usia, melainkan oleh langgam kebe...

Potret Buram Pluralitas Aliran Islam

Oleh: Firdos Putra A. Beberapa minggu terakhir kita disuguhkan dengan realitas yang kurang enak untuk dilihat. Soal munculnya berbagai aliran, seperti Quran Suci atau al-Haq, al-Qiyadah al-Islamiyyah dan konflik horizontal terkait dengan jemaat Ahmadiyyah. Di lain pihak, MUI sebagai representasi otoritas keislaman mengeluarkan ‘fatwa sesat’ untuk beberapa aliran tersebut. Imbas dari ‘fatwa sesat’ ini dapat kita rekam dalam realitas sosial hari ini. Para anggota jemaat atau aliran tertentu terpaksa menyerahkan diri ke pihak yang berwajib karena takut diamuk massa. Atau yang sudah kali keduanya terjadi adalah kasus Ahmadiyyah yang anggotanya dimassa, tempat tinggal atau gedung pengajiannya dirusak oleh masyarakat. Sekali lagi, perusakan dan juga tindak kekerasan yang terjadi seakan-akan terlegitimasi oleh fatwa tersebut. Bahkan klimaksnya beberapa bulan yang lalu, Ahmadiyyah pernah mengajukan suaka politik ke Australia terkait dengan rasa tidak aman yang mereka rasakan sebagai pem...

Rethinking Apatisme Mahasiswa

Oleh: Firdos Putra A. Sebenarnya saya tidak terlalu suka memakai frasa ‘apatisme mahasiswa’, karena ketika memakai frasa itu, seolah-olah saya berada pada posisi sebaliknya. Di mana ‘apatis’ itu buruk dan ‘aktivis’ itu baik. Untuk itu, saya akan mengganti term ‘apatis’ dengan ‘apolitis’. Konotasi selanjutnya ‘politis’ adalah pilihan politik seseorang dengan motif tertentu, dan ‘apolitis’ adalah pilihan politik yang lain dengan motif tertentu pula. Dengan menggunakan term ini, saya tidak perlu memasuki konstruksi kuasa yang menjerembabkan saya pada relasi elit-massa. Politis dalam konteks ini saya maknai sebagai berpartisipasinya mahasiswa dalam agenda demokratisasi kampus. Apolitis saya maknai sebagai tidak berpartisipasinya mahasiswa dalam agenda demokratisasi kampus dengan alasan-alasan tertentu. Saya akan memberikan satu gambaran, mahasiswa yang politis—dalam makna positif—adalah mahasiswa yang berpartisipasi pada Pemilihan Umum Raya (PEMIRA) Presiden BEM. Dan sebaliknya, bagi ...

Benazir Bhutto dan Sisi Gelap Demokrasi

Oleh: Firdaus Putra A. Satu malam, saya terhenyak kaget ketika menonton satu tayangan yang memberitakan bahwa sore/malam tadi Benazir Bhutto tewas dalam pembunuhan. Saya sendiri tidak pernah mengenal lika-liku siapa sesungguhnya Benazir Bhutto. Hanya saja saya heran dengan dunia politik yang ternyata sungguh kejam. Memang percobaan pembunuhan pejabat publik/aktivis partai/aktivis sosial telah banyak terjadi di banyak negara. Hanya saja, kenapa sampai hari ini cara semacam itu masih ada di masyarakat kita. Hari di mana kita selalu dengan tegas menolak kekerasan, pelanggaran HAM, dan mewujudkan kualitas hidup yang lebih baik. Saya hanya bisa menarik benang merah, ternyata dunia politik memang sungguh kejam. Penghilangan nyawa seakan menjadi salah satu siasat untuk memuluskan kepentingan. Bagi orang sipil semacam saya, saya yakin hanya gumam emosi yang lahir dari tragedi di Pakistan itu. Kok bisa ya? Saya rasa tidak perlu menjadi warga negara Pakistan untuk dapat merasakan traged...