Oleh: Firdos Putra A. Malam itu semua muda-mudi keluar dari rumah untuk memenuhi sebuah undangan pesta. Sebuah pesta melepas, menyobek atau mengganti kalender. Pesta itu digelar di sebuah lapangan, lapangan Mataram namanya. Posisinya di tengah-tengah kota. Meski bukan alun-alun, lapangan itu kini sudah sedemikian ramai. Tidak kalah dengan alun-alun kota. Motor berjalan pelan. Klakson dinyalakan, membuat pekak telinga. Knalpot dimodif, agar mengeluarkan suara yang nyaris seperti knalpot rusak. Bunyi terompet juga tidak absen. Di sana-sini muncul suara. Benda-benda bersuara, juga dari atas panggung. Sound system besar meneruskan gelombang suara sampai beberapa ratus meter. Di bawahnya, banyak orang berjingkrak-jingkrak menikmati alunan musik. Berganti penyanyi, satu petasan besar disulut. “Duor ...!!!”. Perempuan berteriak. Laki-laki bersorak. Anak-anak terdengar menangis dari kejauhan. Malam itu waktu menunjukan pukul 11.30. 30 menit lagi untuk menyambut awal tahun 2005. Tanpa di...