Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April 6, 2008

3.5% Religius dan 96.5% Religiusitas

Oleh: Firdaus Putra A. Judul di atas saya ambil dari pernyataan Cak Nun (Emha Ainunnadjib), tentang komposisi ayat-ayat dalam Al Quran. Menurutnya, dari 6.000 ayat, hanya 3.5% yang berbicara tentang religius dalam makna sempitnya ibadah mahdloh; salat, puasa, zakat, haji, dan seterusnya. Selebihnya, sebanyak 96.5% berbicara tentang religiusitas atau lebih enak saya bahasakan menjadi ibadah dalam arti seluas-luasnya. Poin pentingnya adalah, bahwa tindakan religius merupakan tindakan yang diperintahkan oleh Allah. Sedangkan religiusitas merupakan tindakan-tindakan yang tidak melanggar aturan-aturan Allah. Pemahaman di atas memberikan makna yang baru bagi kita, sekurang-kurangnya bahwa sebagian besar dari ayat-ayat yang ada berbicara tentang kehidupan manusia. Artinya, bilamana kita posisikan Quran sebagai repesentasi Islam, maka Islam merupakan agama manusia, untuk kini dan kedi-sini-an. Memang benar Quran mengakomodir ayat-ayat tentang ibadah mahdloh yang merupakan cerminan dari ad...

Diam Menandakan Iya

Catatan Kritis untuk Ke-diam-an KAMMI Oleh: Firdaus Putra A. Sedikitnya tiga kali saya menulis surat terbuka yang ditujukan secara langsung maupun tak langsung pada Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) di Purwokerto. Namun ketiga-tiganya berakhir sama, yakni tanpa tanggapan, klarifikasi, atau justru disclaim, bilamana pernyataan-pernyataan yang saya buat adalah salah. Saya khawatir bilamana kawan-kawan KAMMI menganggap, bahwa menanggapi atau merespon, pernyataan atau pertanyaan yang saya ajukan merupakan masalah. Dan tentunya mereka tidak ingin masuk dalam lingkaran masalah tersebut. Dulu, untuk kali pertama, secara tidak langsung saya pernah mengkritik KAMMI, hanya saja lebih tertuju pada lembaga intra kampus, yakni Unit Kerohanian Islam (UKI), yang nota benenya mayoritas dikelola oleh anak KAMMI atau yang se-frame dengan KAMMI. Kritik tersebut saya layangkan melalui surat terbuka yang ditempel di mading-mading kampus. Sama sekali tidak ada tanggapan atau sanggahan...

Stop Islamisation

Catatan Kritis untuk Masyarakat Muslim Indonesia Oleh: Firdaus Putra A. Ketika hendak menonton film ini, saya sarankan Anda untuk tetap berkepala dingin. Lantaran apa yang disuguhkan benar-benar provokatif. Jangan sampai kita menontonnya dengan penuh sentimen. Ada beberapa hal yang ingin saya komentari, pertama terkait dengan penggunaan “ayat-ayat perang” dalam film itu. Kedua, terkait dengan slide-slide gambar yang disuguhkannya. Ketiga masalah data yang ditawarkan. Dan terakhir, maksud dari film itu sendiri. Poin pertama, sedikitnya ada lima ayat pada surat berbeda yang digunakan oleh Geert Wilder untuk melakukan penghukuman bahwa Islam melegitimasi praktik-praktik kekerasan, bahkan teror. Pertama, Surat al Anfaal ayat 60 yang terjemahannya, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu t...

Praktik Homoseks?

Sebuah Pandangan Sementara Oleh: Firdaus Putra A. Beberapa hari saya mampir ke blog Nong Darol Mahmada. Rilis tulisan terbaru adalah komentarnya tentang si Irshad Manji. Penasaran dengan apa yang diceritakan, kemudian saya membuka situs irshadmanji.com. Lantas saya download bukunya “Beriman tanpa Rasa Takut”, versi Indonesia. Saya belum bisa memberi komentar terhadap buku tersebut lantaran belum selesai membaca. Yang ingin saya komentari adalah orientasi seksual dari Irshad Manji. Dia adalah seorang lesbian. Dan dia adalah seorang Muslimah. Mungkin Anda akan merasa tersentak mengetahui hal itu, seperti juga saya. Tulisan ini saya arahkan lebih untuk membuka ruang dialog antara saya, para pembaca, aktivis sosial dan seterusnya, terkait dengan hubungan antara Islam dengan homoseksualitas. Jadi, perlu saya sampaikan di awal, tulisan ini bukan dalam rangka memprovokasi, justru berangkat dari rasa penasaran saya bagaimana sebenarnya Islam memandang homoseksual. Perlu saya utarakan ...

Cinta, Jender, & Empowering

Refleksi atas Kegelisahan Oleh: Firdaus Putra A. Tulisan ini berangkat dari masalah yang sering kali membuat kekasih saya minder bahkan sakit hati. Seringkali kawan-kawan kampus saya meledek kekasih saya, Wahyuningsih, “Kamu kok mau pacaran sama Firdaus? Kamu diperdayai sama dia ya?”. Mungkin bagi mereka lontaran-lontaran semacam dimaksudkan hanya sebagai candaan. Atau mungkin juga serius. Dengan gusar, Wahyu lantas bertanya kepada saya, “Memang salah atau tidak pantas ya kalau aku jalan sama mas?”. Dulu ketika saya jadian dengan Wahyu, yang notabenenya satu kampus, banyak kawan-kawan yang tidak percaya. Persoalannya mereka melihat di antara kami konon katanya sangat jauh berbeda. Firdaus yang aktivis kampus—sebenarnya saya bimbang menggunakan istilah itu. Wahyu yang mahasiswa biasa. Firdaus yang MAPRES (Mahasiswa Berprestasi). Lagi, Wahyu yang mahasiswa biasa. Firdaus yang dikenal banyak orang lantaran kecerdasannya. Untuk kesekiankalinya, Wahyu, yang mahasiswa biasa saja. Say...