Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli 6, 2008

No.9 & No.13

Oleh: Firdaus Putra A. Sebagai orang Jawa kedua nomor itu (9 dan 13) kita percayai (bagi yang percaya) sebagai angka yang keramat. No. 9 dianggap keramat dan pembawa keberuntungan. Sedangkan nomor 13, dianggap angka keramat yang membawa kesialan. Sampai-sampai, sedikit hotel yang menyedikan nomor kamar 13. Terlepas dari benar-tidaknya, secara psikologis kekeramatan itu bisa muncul dari proses sugesti. Ada istilah the self fullfilling prophecy, yakni sebuah ramalan yang akan terjadi dengan sendirinya, lantaran yang bersangkutan tersugesti, sehingga sadar atau tidak mengusahakan proses ke arah itu. Nampaknya kekeramatan angka ini juga diidap dan diperhatikan oleh para politikus. Di Seputar Indonesia (9/7) Muhaimin Iskandar, Ketua PKB versi Ancol, berharap agar memperoleh nomor urut sembilan. Terlepas dari rumor keramat, menurutnya, dengan nomor urut sembilan, maka PKB akan mudah dalam melakukan sosialisasi. Bagi yang percaya nomor itu keramat, tentunya konstituen akan memilih secara...

Not-HMI DIPO

Oleh: Firdaus Putra A. Kalau tidak salah ingat majalah dinding (mading) bulanan HMI MPO Komisariat FISIP sudah kedua atau ketiga kalinya terbit. Langkah dan usuha ini harus diapresiasi dengan baik di tengah-tengah pergulatan wacana gerakan mahasiswa yang mulai surut. Dari segi kemasan, mading yang ditempel di beberapa papan mading kampus FISIP ini tergolong eye cathcing. Enak dilihat, tidak membosankan dan menarik perhatian untuk dibaca. Dari segi isi, sudah mencukupi. Beberapa rubrik menawarkan berbagai informasi atau wacana yang berbeda. Terlepas dari usaha pencerdasan publik itu, nampaknya ada satu yang masih mengganjal. Memang tidak terlalu substansial, menyangkut masalah eksistensi atau kedirian organisasi. Sayangnya, titik ini nampaknya kurang diperhatikan oleh para penggagasnya. Lihatlah alamat e-mail yang digunakan sebagai kotak pos mading; hmigue_bukanhmidipo@yahoo.co.id. Kalau tidak salah begitu bunyinya. Saya pernah menyampaikan kritik ini langsung pada salah satu kad...

Timur dan Barat

Oleh: Firdaus Putra A. Sudah ketiga kalinya ini saya membaca “Si Parasit Lajang” karya Ayu Utami. Belum juga membuat saya bosan. Bahasanya renyah, mudah dipahami, dan yang terpenting lontaran-lontaran narasi kecilnya sangat menyentil. Beberapa hari yang lalu saya sempatkan membeli buku ini. Saya hadiahkan pada seorang teman, Muhajir, yang melangsungkan pernikahan. Buku kecil ini merupakan kumpulan esai Ayu Utami yang pernah dimuat di majalah “Djakarta”. Terdiri dari tulisan-tulisan lepas yang mengupas berbagai isu dari sudut pandang subyektif Ayu Utami. Meski sekedar narasi kecil dan bersifat opini, namun data atau fakta tetap Ayu gunakan. Alhasil, buku ini tetap memiliki bobot tertentu. Bacalah satu judul, “Timur dan Barat”, hal 107. Membaca judul ini kita akan mendapatkan pemahaman baru terkait dengan perdebatan kebebasan (liberalisme). Bagi orang seperti Ayu, yang gaya hidupnya bebas, akan mudah distigma orang sebagai “kebarat-baratan”. Padahal, menurut Ayu, dulu Barat justr...

Janji Politik?

Oleh: Firdaus Putra A. Janji, sebuah penangguhan sementara atas kewajiban yang pemenuhannya di masa mendatang. Tidak banyak perbedaan antara janji partai dengan janji perorangan. Yang mendasar, janji partai selalu bersifat politis dan mempunyai syarat tertentu, misal, menunggu kemenangan partai bersangkutan. Pada dasarnya tidak ada persoalan partai mengeluarkan “janji politik” berupa program atau berbagai macam tawaran perbaikan. Bahkan, dalam rangka pendidikan “janji politik” harus diberikan. Yang justru patut dipermasalahkan, pertama, sejauh apa janji itu realistis untuk diwujudkan. Kedua, bagaimana atau dalam situasi apa janji itu disampaikan. Dan ketiga, komitmen partai bersangkutan dalam menepati janjinya. Sebutlah beberapa janji yang sering diobral partai saat kampanye; penyediaan lapangan kerja, pendidikan murah bahkan beberapa partai tidak tanggung-tanggung menyebut gratis, layanan kesehatan murah, fasilitas publik diperbaiki dan dikembangkan, dan seterusnya. Janji-janji...

Posmo - Setuju?

Oleh: Firdaus Putra A. Tulisan ini merupakan hasil diskusi saya dengan beberapa kawan, salah satunya dengan Gery Sulaksono. Kami memasuki diskusi posmodernisme setelah terpancing oleh lontaran-lontaran Francisco Budi Hardiman dalam sebuah pelatihan History of Thought (HoT) di Yogyakarta. Sebutlah di satu pihak, Gery, membela posmodernisme sampai titik eksistensialisme ekstrem. Meski tidak terlalu tepat, kita sederhanakan dengan frasa any thing goes. Semuanya boleh dilakukan, boleh diperbuat. Mengapa? Karena dalam posmodernitas, segala sesuatu dikembalikan pada keinsyafan individu. Maka dari sinilah berbagai macam narasi kecil lahir. Praktik-praktik hidup individu yang unik satu dengan lainnya lahir. Persoalannya kemudian, sejuah apa kebebasan individu itu? Gery membela, bahwa kebebasan itu tidak harus dibatasi. Serahkan kepada individu. Individu cukup cerdas untuk mengatur hidupnya, tingkah-lakunya masing-masing. Saya tidak terlalu bermasalah dengan pernyataan itu. Hanya saja, b...

Bermain Air

Oleh: Firdaus Putra A. Untuk kali pertamanya dari sepuluh tahun yang lalu, aku bermain air di kolam renang. Awalnya sama sekali tak terpikirkan untuk ikut beberapa teman yang nongkrong di warteg depan FISIP. Siang itu listrik padam. Maklum beberapa minggu terakhir PLN sering memadamkan listrik bergiliran. Krisis energi terjadi di mana-mana. Aku pikir lebih baik gabung bersama delapan teman cowok lainnya, daripada harus borring di kos sendirian. Tidak ada yang bisa aku lakukan saat semua alat elektronik mati. Membaca buku? Entahlah, beberapa hari terakhir aku rada malas. Lebih suka menikmati suasana kos yang sepi dengan menonton film. Tidak ada teman kos, mudik ke kampung masing-masing. Hanya aku sendirian. Pacarku, Wahyuningsih, juga tidak ada di Purwokerto. Selama satu minggu ia mengikuti pelatihan History of Thought di KAS SATUNAMA Yogyakarta. Aku tidak ikut serta, karena aku sudah mengikuti pelatihan serupa enam bulan yang lalu, Februari 2008, angkatan ke-12. Siang itu, set...