Oleh: Firdaus Putra A. Saya sering heran ketika membaca ulang tulisan-tulisan karya saya sendiri. Saya heran kok saya bisa menulis seperti itu. Dengan berbagai pilihan kata, gabungan frasa, dan talian kalimat. Kadang saya sendiri tak menyangka, kok bisa ya ... Padahal, semua tulisan—apalagi narasi-narasi kecil—saya tulis secara bebas-mengalir langsung di depan komputer. Tentu saja, saat mengetik tulisan itu saya sembari berpikir, mengembangkan ide pokok, dan mempertajam analisis, dan sebagainya. Sebelum saya menulis, memang saya sudah mempunyai tema atau judul tertentu. Namun, belum sampai pada pengembangan ide, apa yang akan ditulis, analisisnya seperti apa, dan sebagainya. Saya heran, seakan-akan tulisan saya muncul dari “bawah sadar” dan tanpa perencanaan. Mengapa, karena sebelum menulis, sebenarnya di otak saya tidak ada stok kata, situasi, ikon, setting waktu, kronologis, engel, dan berbagai hal yang membangun sebuah tulisan. Namun, saat menulis, seakan-akan stok-stok itu k...