Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus 24, 2008

Membaca Ulang

Oleh: Firdaus Putra A. Saya sering heran ketika membaca ulang tulisan-tulisan karya saya sendiri. Saya heran kok saya bisa menulis seperti itu. Dengan berbagai pilihan kata, gabungan frasa, dan talian kalimat. Kadang saya sendiri tak menyangka, kok bisa ya ... Padahal, semua tulisan—apalagi narasi-narasi kecil—saya tulis secara bebas-mengalir langsung di depan komputer. Tentu saja, saat mengetik tulisan itu saya sembari berpikir, mengembangkan ide pokok, dan mempertajam analisis, dan sebagainya. Sebelum saya menulis, memang saya sudah mempunyai tema atau judul tertentu. Namun, belum sampai pada pengembangan ide, apa yang akan ditulis, analisisnya seperti apa, dan sebagainya. Saya heran, seakan-akan tulisan saya muncul dari “bawah sadar” dan tanpa perencanaan. Mengapa, karena sebelum menulis, sebenarnya di otak saya tidak ada stok kata, situasi, ikon, setting waktu, kronologis, engel, dan berbagai hal yang membangun sebuah tulisan. Namun, saat menulis, seakan-akan stok-stok itu k...

Jakarta Sentris

Oleh: Firdaus Putra A. Kalau Anda bertanya, televisi (TV) mana yang paling nasionalis, saya akan jawab, TVRI. Kemarin malam saya mulai menyadari bahwa sajian program TV-TV selain TVRI cenderung monolitik-homogen. Hanya TVRI lah yang mengakomodasi perbedaan budaya melalui jaringan berita nasionalnya. Lihat saja, hanya di TVRI yang terdapat program pementasan kebudayaan daerah, drama. Juga hanya di TVRI yang menyuguhkan beberapa lagu daerah. Sedangkan TV swasta lain, benar-benar sesuai dengan statusnya, swasta, isinya sekedar market oriented. Lebih dikhususkan lagi, market yang seakan-akan hanya pulau Jawa bahkan hanya Jakarta. Jarang atau bahkan saya tak pernah melihat TV swasta yang menyajikan drama daerah, misal Kalimantan, Sumatera, Irian, dan sebagainya. Padahal, mereka banyak menayangkan sinetron, ya, dengan berlatar belakang kota Jakarta, Bandung, Bogor, dan kota-kota yang melenakkan lainnya. Beberapa hari yang lalu, saya mendengarkan siaran berita Pro 3 RRI. Saat itu sedan...

Juru Shof

Oleh: Firdaus Putra A. Tidak seperti kemarin, Jumat ini saya memilih salat di masjid Darul Hikmah. Alasan teknisnya, karena sudah telat dan tidak berada di lingkungan kampus. Untung sampai sana salat belum di mulai. Khotib masih menyampaikan “pidato keagamaannya”. Ada yang berbeda dengan Jumat-jumat sebelumnya. Kali ini banyak jamaah yang mengenakan pakaian hitam-putih berjas almamater UNSOED. Oh iya, mereka adalah mahasiswa baru 2008. Mungkin mereka sudah mulai memasuki masa pra-OSPEK. Buktinya, tali sepatu mereka berwarna merah-putih. Ada yang memakai tali rafia, pita, ada juga yang sengaja memadukan dua tali sepatu yang berbeda warna. Selain itu, beberapa mahasiswa baru itu bersandal karet. Uniknya, setiap sandal berwarna putih. Beberapa sandal mereka terlihat seperti dicat putih. Karena warna dasar sandal yang sebenarnya biru. Namun ada juga sandal yang semuanya berwarna putih. Seperti biasanya, saya memilih salat di luar ruangan. Artinya, jamaah akan salat di atas jalan a...

Konser Musik

Oleh: Firdaus Putra A. Suatu malam saya menonton televisi. Saat itu disuguhkan tayangan konser musik di luar negeri. Entah saya lupa tayangan (program) apa yang saya tonton. Di lain kesempatan, melalui televisi saya juga menyaksikan konser musik serupa, di Indonesia. Dan ternyata ada perbedaan antara dua konser musik itu. Memang bukan perbedaan bahasa yang akan saya bincangkan. Melainkan, kalau kita perhatikan secara seksama, penonton konser musik di luar negeri sangat heterogen. Baik laki-laki pun perempuan, semuanya bercampur dan merata. Ada yang tepat di depan panggung, ada yang di tengah, dan di paling belakang. Sedangkan di Indonesia, sedikit kita temukan wajah-wajah perempuan di tengah-tengah penonton. Percampuran laki-laki dan perempuan tidak merata. Hanya sedikit perempuan yang menonton secara langsung (di lapangan). Dan tentu saja, yang memadati konser itu sebagian besar adalah laki-laki. Lantas apa menariknya? Bagi agamawan melihat perbedaan itu mungkin ia akan menga...

Playboy

Oleh: Firdaus Putra A. Suatu sore sehabis makan saya berjalan sendiri menuju kos. Tiba-tiba seorang teman perempuan menyapa. Tidak sekedar menyapa, ia malah menanyakan beberapa hal tentang seseorang. Sebut saja orang itu dengan “Pria”. Si perempuan bertanya ke saya bagaimana kabarnya “Pria” saat ini? Saya jawab, ya baik-baik saja. Saya tanyakan, memangnya kenapa? Dan si perempuan menerangkan, “Omongin tuh mas sama “Pria”, jangan mainin perempuan. Pinter ya pinter, tapi jangan playboy.” Saya tersentak, tidak menyangka kalau teman itu akan berkata seperti itu. Saya juga kaget apakah benar apa yang dikatakan si perempuan barusan, bahwa “Pria” adalah playboy. Sebenarnya saya tidak terlalu berkepentingan untuk ikut campur masalah “Pria”. Pasalnya, apa yang sedang dipermasalahkan, menurut saya, masuk dalam ruang privat individu. Namun, setelah saya pikir ulang, ruang privat itu sayangnya beririsan dengan ruang publik, lebih tepatnya etika sosial. Malamnya langsung saya SMS si “Pria”. ...

Masjid Kampus

Oleh: Firdaus Putra A. Peristiwa ini sebenarnya sudah lama terjadi. Tepatnya bulan Januari 2008, saat menyiapkan Diskusi Publik LS Profetika (17/01/2008). Karena membutuhkan tempat yang cukup besar, secara resmi saya mengajukan permohonan ke Ketua Takmir Masjid Kampus Nurul Ulum. Surat itu berisi perihal permohonan peminjaman ruang masjid sebagai tempat diskusi. Sayangnya, oleh Pak Uung Junarya (Ketua Takmir), permohonan itu ditolak dengan alasan agar masjid tetap dalam situasi yang kondusif. Alasan ini tentu saja memancing saya untuk meminta penjelasan lebih jauh. Pasalnya, alasan tersebut pasti muncul dari asumsi bahwa diskusi yang akan saya gelar bisa merusak kondusivitas masjid. Perlu diketahui, diskusi publik itu mengambil tema “Menyemai Toleransi, Merajut Kebersamaan di Ruang Publik”. Tema ini merupakan refleksi terhadap kondisi keberagamaan umat Islam saat itu yang sedang meributkan Fatwa sesat MUI terhadap Ahmadiyah. Diskusi itu menghadirkan beberapa pembicara yang multi...

Pahit – Pait

Oleh: Firdaus Putra A. Sebut saja nama bocah itu Nindi. Dia anak tetangga kos saya. Bocah itu mungkin baru berumur lima atau enam tahun. Usia yang penuh dengan kelincahan, keriangan, dan kesenangan. Seperti usia kanakku dulu sewaktu diasuh oleh kakek dan nenek. Sore itu dari balik jendela ruang tamu saya dengar ia berteriak, “Pait ... pait ...”, terus menerus. Sama, saya juga dulu sering meneriakan kata-kata itu. Biasanya ketika ada seekor lebah (tawon) yang mendekat dan berputar di atas kepala. Dengan teriakan “pait” (pahit, dalam bahasa Indonesia), dulu saya berharap agar si lebah menjauh dan pergi ke tempat lain. Ya, karena si lebah hanya suka dengan yang “manis”. Lebah tidak suka pahit. Makanya, anak-anak kecil akan berteriak “pait” bilamana si lebah dirasa mengganggu aktivitas bermain. Lantas apa masalahnya? Saya memang tidak ingin membokar mitos bahwa tindakan itu sungguh tak rasional. Bayangkan saja, rasionalisasi seperti apa yang mencukupi untuk menjelaskan teriakan “pai...

Berfikir Kritis

Sebuah Usaha Menghayati Realitas[1] Oleh: Firdaus Putra A. I Alih-alih memberikan materi secara tuntas, dalam kesempatan ini saya akan lebih menyuguhkan permasalahan yang sifatnya boleh jadi sangat multi tafsir. Saya akan menawarkan beberapa poin yang masih sangat terbuka untuk kita diskusikan, perdebatkan. Boleh jadi, simpulan-simpulan sementara saya benar atau juga salah. Dalam konteks seperti itu, saya ingin “merelatifkan” pandangan saya berhadapan dengan pandangan Anda. Poinnya, saya sekedar menyuguhkan ruang diskusi untuk Anda. Saya tidak sedang menawarkan korpus tertutup yang akan Anda percayai. Justru, saya sedang menawarkan kopus terbuka yang perlu Anda ragukan, bahkan curigai. Untuk itu, tulisan ini jangan sekali-kali dimaknai sebagai “kitab suci”, melainkan sekedar pengantar untuk kita periksa kebenaran dari klaim-klaim (rightness claim) yang akan saya ajukan. II Ada satu pernyataan yang nampaknya perlu kita refleksikan bersama, “Kehidupan yang tidak diperiksa, tid...