Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober 19, 2008

M i r i s

Oleh: Firdaus Putra A. Miris, mungkin itu kata yang paling tepat untuk melukiskan perasaan saya saat melihat foto di samping. Foto ini saya jepret ulang dengan ponsel Nokia teman kos. Foto dengan sedikit catatan di bawahnya, cukup menggambarkan secara detail realitas sosial-ekonomi masyarakat kurang beruntung. Foto itu dimuat di harian Kompas edisi Sabtu, 18 Oktober 2008 halaman 23. Judul foto itu “Ojek Sepeda”, dengan narasi ringkas, “Seorang pengojek sepeda di Pasar Raya Padang mendorong kendaraannya karena muatan terlalu berat, Jumat (17/10). Ia hanya mendapat upah Rp. 1.000. Sementara itu, kehilangan atau kerusakan barang selama pengangkutan menjadi tanggung jawab pengojek. Ikan teri dalam plastik yang sedang ia angkut itu harganya Rp. 600.000.” Saya menjadi teringat kisah “The Death of Sukardal” yang ditulis Goenawan Mohamad. Sukardal, seorang tukang becak yang bunuh diri lantaran becaknya diamankan trantib. Terbuka kemungkinan, “The Death of Pengojek Sepeda” muncul, misal...

Mentradisikan “Surat Terbuka”

Oleh: Firdaus Putra A. Saya salut dengan intelektual atau pemikir sekaliber Tan Malaka, Soekarno, Natsir dan sebagainya. Atau sebelum masa mereka, yakni RA. Kartini. Bukan dalam konteks perjuangannya, melainkan dalam konteks media sebagai ajang adu gagasan. Kita ingat bahwa para pemikir nasional itu sering berkirim surat dengan pemikir, pejuang, atau aktivis lainnya. Dan menariknya, surat yang terbilang panjang itu berisi jawaban atau sanggahan atas gagasan-gagasan si terkirim. Meskipun kalau kita amati, tradisi itu—yang kemudian menjadi “Surat Terbuka” karena dicetak dan dipublikasikan—lahir dalam konteks dimana media telekomunikasi yang paling memungkinkan saat itu hanyalah surat layang (air mail). Namun, implikasi dari publikasi atas surat-surat mereka, yang bisa kita akses saat ini, sangat penting. Yakni ketika publik bisa turut serta mengakses diskusi atau perdebatan mereka, yang artinya, proses pencerdasan publik semakin terbuka lebar. Mulai pada tahun 1930-an tradisi “Sur...

Lisan ke Tulisan

Oleh: Firdaus Putra A. Sering saya katakan ke teman-teman, kalau menulis merupakan bentuk kecakapan. Menulis bukan sebuah teori tentang menguntai kata, frasa, kalimat dan berujung alenia. Karena menulis merupakan kecakapan atau keterampilan butuh proses yang panjang sampai kita mampu menulis dengan baik. Tulisan ini berawal dari perdebatan antara saya dengan seorang teman, Master Irfan Ibrahim. Saat itu, sebagai direktur lembaga, saya meminta—atau dalam perspektif struktural—menuntut agar segenap pengurus LS Profetika, mau dan mampu menulis. Mengingat proses ini merupakan kebijakan lembaga, saya mengusulkan bagaimana kalau per dua minggu kita mengumpulkan dua tulisan terbaru. Dalam skenario besar mentradisikan budaya tulis, sebagai awalan tentu saja tidak ada pembatasan tema. Artinya meskipun LS Profetika concern pada kajian sosial-agama, dalam konteks ini tema yang diangkat diserahkan sepenuhnya pada masing-masing individu. Di sana juga tidak ada pembatasan halaman, jenis tulisan...

Mitos dalam Islam

Oleh : Firdaus Putra A. Penelusuran mitos memasuki ruang diskusi tentang kebenaran. Dalam pada itu, rasionalitas manusia dibutuhkan untuk mengenali mitos-mitos tersebut. Rasionalitas ini berpijak dari berbagai macam teori kebenaran. Di antaranya kebenaran koherensi, korespondensi dan pragmatis. Sesuatu dianggap benar ketika sesuatu itu tidak bertentangan dengan pernyataan sebelumnya yang sudah dianggap benar, inilah kebenaran model koherensi. Sedangkan sesuatu dianggap benar ketika sesuai dengan keadaan senyatanya merupakan kerangka kebenaran korespondensi. Dan terakhir, kebanaran pragmatis yakni sesuatu dianggap benar manakala bisa diaplikasikan. Dalam konteks ini, kita akan lebih menggunakan kerangka kebenaran dua yang pertama, koheresi dan korespondensi. Nah, untuk membaca mitos-mitos yang berkembang dalam Islam, terlebih dahulu kita harus “menjarakan diri” dengan keislaman kita. Agar tentunya, keimanan, keyakinan dan kepercayaan kita tidak “mengaca mata kudakan” proses tersebu...

Laron-laron di Perayaan

Oleh: Firdaus Putra A. Di desaku, Surobayan, malam lebaran dirayakan dengan berbagai cara. Ada yang menyulut kembang api, petasan, dan sejenisnya. Letupan petasan semarak di atas atap rumah. Mungkin suaranya mirip dengan perang di zaman kemerdekaan. Bedanya, ledakannya tak terlalu besar. Ada juga yang merayakannya dengan keluar rumah dan turun ke jalan. Motor berseliweran ke sana ke mari, seperti mencari sesuatu, pusat keramaian. Agar lebih semarak, beberapa knalpot motor dimodifikasi sedemikian rupa hingga suaranya menggelegar ke mana-mana. Keramaiannya nampak seperti konvoi atau pawai partai saat pemilu. Jalanan nampaknya masih menyediakan ruas yang cukup luas, mobil bak terbuka dan truk ikut turun. Di atasnya sound system di pasang. Para pesertanya melantunkan takbir. Namun ada juga yang hanya menyetel rekaman takbir. Lebih membingungkan, ada juga yang menyetel musik dangdut dan para pesertanya, yang kebanyakan laki-laki muda, berjoget di atasnya. Ada juga yang merayakan ma...

Konvergen dan Divergen

Oleh: Firdaus Putra A. Seberkas cahaya yang terpantul dan fokus pada satu titik kita kenali sebagai cahaya konvergen. Sedangkan yang terpantul dan bias atau menyebar ke segala arah, berpola divergen. Pola berfikir juga mirip dengan itu. Bilamana ia fokus hanya pada satu titik (perspektif) maka ia berpola konvergen. Sebaliknya, bila ia menyebar (meluas) dan multi perspektif, maka divergen. Dalam tradisi penulisan ilmiah, pola berfikir konvergen lebih umum digunakan daripada divergen. Pola berfikir konvergen ini bisa berangkat dari deduksi pun induksi. Yang pertama yakni berangkat dari sebuah teori dan dalam rangka menguji teori. Sedangkan yang kedua, berangkat dari lapangan (realitas) kemudian diteorikan. Potensi divergenitas dapat muncul dalam kerangka induksi. Namun biasanya, mengingat penelusuran lapangan juga berangkat dari kerangka teori yang ketat, potensi itu menjadi kecil. Pada sisi lain, pola berfikir divergen lebih sering dijumpai dalam dunia sastra. Sebagai contoh se...