Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni 22, 2008

Mengoreksi Eggy

Oleh: Firdaus Putra A. Seorang teman memposting tulisan dengan judul, “Ternyata Dasar Negara Kita Bukan Pancasila, Tapi Allah”, di www.mujahidallah.wordpress.com. Tulisan itu merupakan deskripsi debat antara Eggy Sudjana dengan Moqsith Ghazali di salah satu stasiun televisi swasta. Pertama, menurut Eggy, sesuai dengan Preambule (Pembukaan) dan Batang Tubuh UUD 1945, dasar negara Indonesia yakni Tuhan. Lebih dikhususkan lagi Allah SWT. Oleh karenanya, Eggy juga menyatakan bahwa dasar negara Indonesia yakni Islam, karena dalam UUD 1945 yang termaktub bukan Tuhan, melainkan Allah SWT. Kedua, Eggy melihat pasal 29 ayat 1 yang berbunyi, “Negara berdasarkan atas Ketuhanan yang Maha Esa”. Sehingga menjadi legitimite pernyataan bahwa dasar negara Indonesia yakni Islam. Ketiga, Eggy melontarkan pertanyaan kepada Moqsith bahwa pasal atau ayat apa yang secara tegas menyebutkan bahwa dasar negara kita adalah Pancasila? Menurut tulisan itu, Moqsith tidak bisa menjawab pertanyaan Eggy. Ka...

Mistis-Eskatologis

Oleh: Firdaus Putra A. Pagi buta (21:06:2008/04:38) saya terima sebuah pesan singkat dari nomor asing (belum terdaftar di buku telepon), “Kemenangan Turki atas Kroasia membuktikan kemenangan Islam terhadap (bekas) Komunis. Allahu Akbar!”, demikian bunyi pesan itu. Saya tidak tahu apakah salah kirim atau sengaja, lantas saya balas, “Sampeyan kok berfikir sederhana dan ng-asal sekali. Saya heran. Cobalah berfikir lebih jernih. Sebenarnya saya nggak pingin komentar, lha tapi kok aneh rasanya. Nuwun”. Si empunya nomor membalas dan menjelaskan bahwa SMS itu ia dapatkan dari kader ormas mahasiswa tertentu. Saya mulai paham duduk masalahnya. Saya sarankan agar dia membalas bahwa cara berfikirnya (si kader) sangat mistis dan eskatologis. Mistik dalam arti, secara rasional apakah ada hubungannya antara kemenangan Turki atas Kroasia dengan Islam atas (bekas) Komunis? No thing! Tidak sekedar no thing, menghubung-hubungkannya hanya akan membuat otak kita semakin bodoh karena dua hal itu berbe...

Ortu Nge-Net

Oleh: Firdaus Putra A. Sudah beberapa minggu sebelum pulang, aku dapat kabar kalau bapakku punya HP baru. Bahkan ibu menawarkan HP itu untuk aku miliki. Tapi, aku tolak. Sesampai di rumah aku penasaran, HP tipe apa gerangan. Dan benar, cukup bagus dan lengkap untuk bagi orang tua, Nokia 3230. Aku pinjam dan aku utak-utik. Banyak menu tersedia, mulai dari beberapa game, pengedit foto, pengedit video, Quran digital, pemutar musik (MP3), pemutar film (Real Player), dan sebagainya. Sayang, ada satu menu yang menurutku kurang, Mini Opera. Cukup lama aku utak-atik seting GPRS, tidak berhasil. Karena menyerah aku konsultasikan ke customer service IM3. Aku diberi tahu prosedur pengaktifan GPRS. Dan benar, selang beberapa menit, aku utak-atik lagi, GPRS aktif. Pertama yang aku lakukan men-download Mini Opera, fasilitas mini searh engine yang biasa digunakan di ponsel. Donwload berhasil. Selang satu menit proses instalasi pun selesai. Mini Opera sudah bisa digunakan. Untuk tes, aku keti...

Kerja Apa?

Oleh: Firdaus Putra A. Pertanyaan ini selalu dilontarkan ibuku, saudara-saudaraku, tetanggaku, saat aku pulang ke Pekalongan. Seperti kemarin, saat bersama aku dan bapak, ibu mengulangi pertanyaan itu. Jujur, aku bingung kalau ditanya masalah kerja selepas kuliah. Aku tak tahu harus menerangkan seperti apa. Ditambah ibuku mengharapkan agar aku menjadi seorang PNS. Memang keinginan itu sudah lama ia sampaikan. Artinya harapan itu benar-benar sebuah harapan ibu pada anaknya, Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dengan nada becanda aku menanggapi, sebenarnya aku sama sekalu tidak tertarik dengan PNS. Kerja PNS (misal Pemda) terlalu sederhana. Banyak waktu luang di kantor. Sama sekali kurang menantang dan lain sebagainya. Aku sampaikan, seumpama aku menjadi PNS, bisa jadi otakku tambah tumpul. Sama sekali tidak terasah. Bagaimana terasah kalau setiap hari PNS hanya memenuhi rutinitas yang semestinya di kantor. Bagaimana mungkin tertantang kalau PNS hanya sendiko dawuh pada atasannya. Aku tid...

Alat Vital?

Oleh: Firdaus Putra A. Hari Kamis (19/06) saat berada di dalam bus melintasi Kab. Purbalingga di samping kiri dan kanan jalan saya baca poster iklan, “Spontan! Besar dan Panjangkan Alat Vital 081807007559”. Poster iklan itu tertulis di atas kertas, mungkin, F4 dengan dilatarbelakangi potongan kardus. Yang menarik, poster itu tidak hanya satu atau dua, melainkan banyak dan terpasang dengan jarak per 100 atau 200 meter di batang pohon. Tidak hanya di Purbalingga, di Pemalang—sebelum memasuki Kec. Belik, di samping kiri jalan kita juga bisa melihat poster permanen. Tertulis, “Spesial Alat Kelamin, Mak Erot Asli Sukabumi”. Sesampai di rumah, saya masih melihat iklan yang substansinya sama, tercetak di sebuah harian sore. Sepintas lalu saya yakin membaca iklan jasa semacam itu kita akan dibuat geli. Apalagi membacanya bersama kekasih kita, mungkin akan lahir candaan-candaan kecil yang tentunya tidak jauh dari selangkangan. Untungnya saat itu saya sendiri, sehingga bisa menikmati ikla...

“Konsep Ketuhanan”

Dalam mujahidallah.wordpress.com Oleh: Firdaus Putra A. Salam sejahtera. Semoga Allah SWT, Tuhan semesta Alam, Tuhan segala Agama senantiasa memberi hidayah bagi kita semua. Amien. Jujur, saya mulai “gerah” dengan tulisan dan komentar sampeyan, menurut saya sampeyan mengalami kesalahan logika. Pertama, terkait dengan Immanuel Kant, sampeyan melontarkan pertanyaan imajiner, “Adakah sesuatu/Dzat yang menciptakan alam semesta dan mengaturnya?” Sampeyan mereka-reka bahwa Immanuel Kant akan menjawab, “Sesuatu itu ada karena ditangkap oleh panca indera”. Dan kemudian sampeyan menyatakan bahwa Kant tidak benar. Analisis saya, sampeyan melakukan kesalahan logika karena antara pertanyaan imajiner dengan jawaban imajiner itu sebenarnya tidak logis (tidak nyambung). Kant—bilamana sampeyan betul dalam mengutipnya—sedang berbicara dalam konteks “mengada”. Sedangkan sampeyan bertanya tentang “yang Ada”. Dalam kajian filsafat dua term ini sangat berbeda jauh. Saya kira sampeyan belum memahami...