Langsung ke konten utama

“Konsep Ketuhanan”


Dalam mujahidallah.wordpress.com
Oleh: Firdaus Putra A.

Salam sejahtera. Semoga Allah SWT, Tuhan semesta Alam, Tuhan segala Agama senantiasa memberi hidayah bagi kita semua. Amien.

Jujur, saya mulai “gerah” dengan tulisan dan komentar sampeyan, menurut saya sampeyan mengalami kesalahan logika. Pertama, terkait dengan Immanuel Kant, sampeyan melontarkan pertanyaan imajiner, “Adakah sesuatu/Dzat yang menciptakan alam semesta dan mengaturnya?” Sampeyan mereka-reka bahwa Immanuel Kant akan menjawab, “Sesuatu itu ada karena ditangkap oleh panca indera”. Dan kemudian sampeyan menyatakan bahwa Kant tidak benar.

Analisis saya, sampeyan melakukan kesalahan logika karena antara pertanyaan imajiner dengan jawaban imajiner itu sebenarnya tidak logis (tidak nyambung). Kant—bilamana sampeyan betul dalam mengutipnya—sedang berbicara dalam konteks “mengada”. Sedangkan sampeyan bertanya tentang “yang Ada”. Dalam kajian filsafat dua term ini sangat berbeda jauh. Saya kira sampeyan belum memahami dua term kunci tersebut.

Kedua, bilamana sampeyan benar-benar ingin bertanya kepada Kant, “Adakah sesuatu/Dzat yang menciptakan alam semesta dan mengaturnya?”, maka seorang penulis biografi Kant menjawab, “Kant concluded that this world was not sufficient in itself, that an external power, which he identified with God, was a regulative necessity; and that God was a requisite for morality, it gives meaning to our life here on erth ”. Artinya, Kant justru menyatakan bahwa dunia ada karena ada yang menciptakannya, yakni Tuhan. Dunia, menurut Kant, tidak mencukupi (sufficient in itself) bagi dirinya sendiri. Sederhananya, ia tidak dapat menciptakan dirinya sendiri. Tuhan lah yang menciptakan dunia, dan Dia-lah yang mengaturnya. Itu menurut Kant, silahkan simak di www.blupete.com.

Saran saya, janganlah sampeyan gegabah untuk menghukumi Kant “tidak benar”, sebelum sampeyan tahu pemikirannya. Sedangkan ternyata, apa yang sampeyan duga sama sekali tidak benar.

Ketiga, terkait dengan Rene Descartes yang menurut sampeyan dia berpendapat, bahwa “Sesuatu itu ada karena kita berfikir. Benarkah begitu? Apakah ketika saat ini kita berfikir bahwa di samping kita akan ada manusia baru, lalu tiba-tiba telah ada manusia baru itu di samping kita? Tentu saja tidak. Berarti pendapat Rene Descartes ini tidak benar ....”. Saya yakin sampeyan juga belum mengetahui pemikiran Descartes tentang filsafat kesadarannya, yang terkenal dengan adagium Cogito ergo sum (Saya berfikir, maka saya ada).

Adagium itu sebenarnya sedikit menjelaskan pemikiran Descartes. Ia (Descartes) tidak akan pernah berujar, “Apakah ketika saat ini kita berfikir bahwa di samping kita akan ada manusia baru, lalu tiba-tiba telah ada manusia baru itu di samping kita?”. Karena sedang membicarakan bahwa manusia “menjadi ada” atau “mengada” ketika manusia berfikir. Jadi bukannya ia berfikir tentang A, lantas muncul A. Logika semacam itu tentu saja jauh dengan kemauan Descartes.

Sayangnya, sekali lagi, sampeyan dengan gegabah mengklaim bahwa dia tidak benar. Silahkan sampeyan baca buku “Pengantar Filsafat”, kalau tidak salah penerbitnya Arruz, di sana ada sedikit deskripsi tentang Descartes. (Poin of information, Rene Descartes dibaca/dilafalkan Ren Deka).

Keempat, terkait dengan tabel perbandingan konsep ketuhanan, saya ingin menanyakan darimana sampeyan memperoleh referensi itu? Lantas, mengapa agama Yahudi tidak sampeyan masukan? Padahal, menurut Taufiq Damas (lulusan Ushuluddin atau Filsafat, Al-Azhar Kairo Mesir), konsep ke-tauhid-an agama Yahudi sangat tegas dan jelas. Bahkan karena menginsyafi keterbatasannya, orang-orang Yahudi tidak pernah menyebut nama-Nya. Mengingat nama (definisi) sejatinya telah membatasi entitas yang serba Maha itu.

Terakhir, terkait dengan komentar sampeyan, “Materi ini adalah materi bagi ... Antum bergaul dan berdiskusinya ... Saudara kita yang masih berfaham liberal mau dikemanain?”

Tidak salah jika tulisan sampeyan yang lalu mendapat respon negatif dari beberapa kawan, pasalnya, sampeyan terlalu mengklaim diri yang paling benar. Hingga—menurut saya—sampeyan terlalu sombong dengan menyalahkan yang lain. Cobalah lebih rendah hati. Toh jangan-jangan sampeyan juga masih dalam “kesalahan”.

Sebenarnya membaca tulisan sampeyan ini, di samping “gerah”, saya juga tersenyum kecut. Dan akhirnya bertanya, apakah begini cara berfikir kader UKI Fak. Biologi UNSOED?

Saya sarankan sampeyan menulis dengan penuh tanggungjawab. Termasuk di dalamnya kebenaran data, pengetahuan, sumber yang sampeyan rujuk. Jangan sampai rekan kita, Tri Mey yang sudah berkomentar, “Subhanallah konsep ketuhanan yang kakak tulis. Ya saya sepakat dengan konsep ketuhanan yang kakak tulis. Semoga bermanfaat bagi yang membacanya” menjadi ikut-ikutan salah paham karena tulisan ini.

Bagi pembaca blog ini, saya harapkan bisa kritis dan obyektif. Kurang-lebihnya mohon maaf. Wallahu a’lam bishshowab. []

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Ide itu Bermula dari Vacuum Cleaner

Dikisahkan secara subyektif oleh: Firdaus Putra, HC.  Beli Vacuum cleaner Pagi ini saya dapat pesan WA dari Pak Hadi, tukang gorengan yang mangkal di pinggir kampus FISIP, Unsoed. Ia mengirim, “Halo, Mas. Mohon maaf mengganggu waktunya, saya mau balikin vacuum cleaner punya PEDI, harus ketemu siapa?”. Lalu vacuum cleaner itu tiba di Kopkun. Dan pertama kalinya saya lihat dan menyobanya sejak pertama kali dibeli. Jadilah saya ingat memori yang menempel pada  vacuum cleaner itu. Tak ada yang spesial dari bentuk vacuum cleaner di atas. Dibeli sekitar tahun 2017 sebagai inventaris Kopkun Institute. Sebabnya, saat itu Kopkun Institute punya ruang pelatihan beralaskan karpet. Jadilah butuh vacuum cleaner agar bersih dari debu. Lalu Kopkun beli gedung di depan Unsoed, yang sekarang menjadi Kantor Pusat. Aktivitas direlokasi semua ke Kantor Pusat dari sebelumnya di Kopkun 3, Teluk, Purwokerto Selatan. Ruang pelatihan itu jadi tak terpakai, begitu juga si vacuum cleaner . Lahir Ped...

Omnibus Law Koperasi, Pendirian Cukup Tiga Orang

Oleh: Firdaus Putra, HC. Pemerintah sedang menyiapkan undang-undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. Tujuannya ciptakan lapangan kerja baru dengan membangun regulasi yang memudahkan masyarakat berbisnis. Pasal pada undang-undang yang dinilai menghambat akan dihapus. Diprediksi omnibus law akan menyelaraskan 82 undang-undang lainnya. Ini terobosan yang luar biasa. Saat ini bila masyarakat ingin mendirikan koperasi, maka harus mengumpulkan sedikitnya 20 orang. Itu mengacu UU 25/ 1992 tentang Perkoperasian. Artinya 20 orang itu harus sepemikiran untuk membangun perusahaan bersama. Tentu tidak mudah, bukan? Bandingkan dengan Perseroan Terbatas (PT) yang cukup dua orang. Menurut saya pasal tentang 20 orang ini perlu dimasukkan dalam omnibus law mendatang.   Mengapa 20 Orang Penjelasan pasal 6 UU 25/ 1992 menyebutkan alasannya karena masalah kelayakan usaha. Mari kita rekonstruksi kondisi pada saat undang-undang itu lahir. Tahun 1990an kondisi ekonomi Indonesia sangat ...

Dunia Banyak Belajar dari "Chicken Soup":

dari DiaryBlog ke JournalBlog Oleh: Firdaus Putra A. Anda pasti pernah membaca buku Chicken Soup Series pada sekuel hidup tertentu, bukan? Saya membaca buku seperti itu saat duduk di bangku SMA. Cerita-cerita di dalamnya sungguh inspiratif dan membangkitkan semangat. Seringkali, cerita di dalamnya adalah true story , meski tidak harus succes story . Di Indonesia, tetralogi Laskar Pelangi yang dihelat Andrea Hirata bisa digolongkan dalam konteks serupa. Laskar Pelangi dengan kisah pilu dan heroiknya, merupakan teladan nan inspiratif bagaimana si Hirata kecil berusaha menggapai mimpinya ke Paris. Oleh komunitas penulis, buku itu dikategorikan sebagai literary non-fiction . Yakni sebuah karya sastra yang berbasis kisah nyata (non-fiksi). Di luar negeri, banyak buku kisah yang kaya inspirasi serupa Chicken Soup . Salah satu penulis yang termasyhur adalah Paulo Coelho dengan The Alchemist nya. Buku itu berkisah bagaimana seseorang (Santiago) yang ingin mencari dan membangun Per...