Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober 26, 2008

28 Oktober dan Generasi WC

Oleh: Firdaus Putra A. I “Kami, Poetera dan Poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kami, Poetera dan Poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Kami, Poetera dan Poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.” Itulah maklumat pemuda-pemudi Indonesia pada 28 Oktober 1928, 80 tahun silam. Pada hari ini (28/10/2008), maklumat itu diperingati oleh segenap elemen bangsa. Tentu saja, ada nila historis yang coba dikontekstualisasikan ulang pada ruang-waktu kekinian, yakni nilai dan semangat keperjuangan. Dalam konteks keperjuangan itu, gerakan mahasiswa menjadi salah satu elemen penting. Sehingga tidak berlebihan ketika menyoal 28 Oktober sama dengan menyoal mahasiswa berikut gerakannya. Persoalannya kemudian, semangat zaman ( zetgeist ) pemuda-pemudi 28-an, 45-an, 66-an, bahkan 98-an cukup berbeda dengan 08-an. Tengoklah, mahasiswa-mahasiswi kekinian yang sangat akrab dengan hingar-bingar dunia fashion...

P a n t y

Oleh: Firdaus Putra A. Saya jadi ingat ketika sedang mengantar pacar belanja di Moro. Saat itu dia sedang memilah-memilih t-shirt obral. Karena capek, saya duduk dibangku panjang. Ada dua cowok di sana, mungkin dalam rangka yang sama, menunggu si pacar belanja. Di depan bangku kami ada setumpukan panty (celana dalam). Berbeda dengan milikku, panty itu warna-warni, ada yang berkartun, berenda, dan yang pasti, corak dan modelnya berbeda dengan kebanyakan panty laki-laki. Saya jadi berfikir, ternyata kehidupan laki-laki dan perempuan sedemikian dibedakan. Lihat saja, sedikit panty untuk laki-laki yang fashionable tapi banyak sekali milik perempuan. Meskipun fashionable, lucu, dan nggemesin, tetap saja sejauh-jauhnya panty dipakai di bagian dalam. Karena dipakai di bagian dalam, keartistikannya, corak, warna dan lain sebagainya tak akan pernah terlihat. Atau mungkin, keindahan dari berbagai corak itu bukan untuk umum, melainkan hanya untuk dinikmati si empunya. Jadilah, perempuan ha...

Misionaris-Propagandis

Oleh: Firdaus Putra A. Kadang saya geli sendiri menyaksikan sekelompok kader ormas tertentu yang sedang “mencerahkan” mahasiswa baru (Maba) melalui diskusi. Pasalnya, para kader itu seakan-akan punya hak untuk bertanya masalah apapun, misal, “Mengapa kamu melanjutkan kuliah?”. Biasanya pertanyaan itu akan dijawab secara spontan oleh Maba, “Ya untuk kerja”. Persoalannya, jawaban itu biasanya dikonfrontir ulang dengan pertanyaan lain, yang intinya mengarahkan kalau jawaban si Maba kurang mencukupi. Beberapa kali saya menyaksikan peristiwa diskusi seperti itu. Saya lebih baik diam, mengingat si Maba terlihat sudah terengah-engah dengan berbagai pertanyaan dan pernyataan filosofis yang dilontarkan para kader. Sampai-sampai, si Maba merasa tak lagi nyaman di forum orbolan atau diskusi itu. Si Maba bilang, “Saya jadi takut.” Tentunya, lontaran spontan ini harus kita tangkap secara cerdas, kalau secara psikologis pertanyaan juga pernyataan kita yang kita ajukan mungkin terlalu masuk ke d...

The ESQ Way 165

Sebuah Telaah Paradigmatik Oleh: Firdaus Putra A. Pada sampul buku “Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual, ESQ Emotional Spiritual Quotient” karya Ary Ginanjar Agustian tertera anak judul, The ESQ Way 165, dengan penjelasan, 1 Ihsan, 6 Rukun Iman, dan 5 Rukun Islam. Kemudian pada halaman 36-60, penulis memberikan sedikit pengantar terkait eksplorasinya terhadap konsep trilogi Islam (iman, Islam, dan ihsan). Berlanjut ke halaman-halaman berikutnya, penulis menggunakan model bertingkat untuk menjelaskan operasionalisasi dari trilogi tersebut (lihat Ringkasan Keseluruhan The ESQ Way 165 hal. 381). Pada hal. 64, penulis mengawali pembahasan berangkat dari titik tolak ihsan. Dalam eksplorasinya penulis menyebut proses itu sebagai Zero Mind Process yang bertujuan sebagai penjernihan emosi. Dan secara beranjak memasuki spektrum Rukun Iman dan Rukun Islam. Singkatnya, sumber inspirasi The ESQ Way 165 adalah iman, Islam, dan ihsan. Ada satu kekurangan dari buku itu, ya...

Sekali Lagi Masalah ESQ

Tanggapan untuk Saudara Rizky Oleh: Firdaus Putra A. Tulisan ini merupakan tanggapan saya terhadap beberapa komentar Saudara Rizky di Buku Tamu blog saya (www.firdausputra.co.cc) terkait masalah training ESQ. Menurutnya, mahalnya biaya training tersebut selaras dengan berbagai fasilitas serta pengalaman yang di dapat oleh seluruh peserta. Dalam kesempatan ini, saya akan mencoba menjawabnya secara sistematis. Pertama, pada tahun 2004 dan 2005, berturut-turut saya menjadi panitia Ospek Fisip Unsoed. Mungkin berbeda dengan kepanitiaan Ospek yang lain, kami menggagas kegiatan yang secara paradigma cukup konsisten. Kami meminjam teori struktur tindakan Peter L. Berger. Kuncinya, ada tiga tahap yang membuat individu sampai melakukan suatu perbuatan atau bertindak. Pertama, internalisasi, yakni proses masuknya nilai, informasi atau pengetahuan. Kedua, obyektifikasi, tahap dimana individu tersebut mengolah, menganalisis, dan mengkritisi nlai, informasi atau pengetahuan yang ia peroleh. D...

Nana yang Lucu

Oleh: Firdaus Putra A. Nana, saya mengenalnya sebagai seorang perempuan, atau lebih enaknya cewek, yang bekerja di warung makan lesehan beberapa meter dari kos. Awalnya saya sering memanggil dengan sapaan “Mbak”. Ya begitulah sopan santun Jawa untuk menyapa seseorang yang belum terlalu dikenal. Lama ke lamaan, karena seringnya makan di sana, saya menjadi akrab dan hanya menyapanya dengan “Na atau Nana”. Saya rasa sapaan itu sudah cukup untuk menghormati orang seusia itu. Awalnya saya taksir dia berusia 21 atau bahkan 23. Namun alangkah tak tepat, ternyata si Nana, yang perawakannya bongsor, baru berusia 16 tahun. Alamak, ternyata selama ini saya bergaul dengan anak SMP. Tidak aneh kalau dia sangat polos dalam bertutur. Juga tidak tanggung-tanggung kalau sedang berteriak. Dan yang jelas, rasa penasaran atau keingintahuannya benar-benar bak balita yang baru mengenal capung yang bisa terbang, air yang bisa muncrat, atau daun yang bergoyang tertiup angin. Di satu kesempatan, dia p...