Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari 13, 2008

Mengapa Saya Liberal?

Sebuah Manifesto Perlawanan Oleh: Firdaus Putra A. Judul semacam ini untuk pertama kalinya saya tulis dan publikasikan. Bisa dimaknai tulisan ini sebagai bentuk manifesto pandangan atau sikap saya. Saya membutuhkan proses yang lama untuk sampai pada manifesto ini. Apalagi di tengah kondisi dimana kata ‘liberal’ cenderung dimaknai secara peyoratif. Padahal kata ‘liberal’ tidak berbeda maknanya dengan kata ‘mandiri’, ‘merdeka’, ‘bebas’ dan seterusnya. Hanya saja, kata liberal seringkali dihubungkan dengan ideologi kapitalisme. Meskipun pada titik tertentu kapitalisme dengan liberalisme bertemu. Tetapi pertemuan itu sebenarnya juga terjadi terhadap ideologi besar lainnya; nasionalisme yang mewujud pada anti-kolonialisme, komunisme yang anti-penindasan dan sebagainya. I Keliberalan saya sebenarnya dimulai semenjak saya nyantri di PP HM Putra Lirboyo Kediri, yang sekarang berganti nama menjadi PP HM Al-Mahrussiyah Lirboyo Kediri. Pergantian nama ini diambil dari nama sesepuh pendiri ...

Menyoal UPT Penerbitan UNSOED

Untuk Para PU Lembaga Pers Mahasiswa se-UNSOED Oleh: Firdaus Putra A. Satu kali saya SMS dengan Pemimpin Umum LPM Solidaritas, bunyi SMS itu kurang lebih, “Ada satu departemen strategis yang luput dari analisis temen-temen mahasiswa, UPT Penerbitan UNSOED. Belum pernah ada yang mengangkat kinerjanya. Padahal posisinya cukup signifikan. Coba kawan-kawan pikirkan”. Maksud mengirim pernyataan itu kepada seorang pucuk pimpinan lembaga pers mahasiswa tak lain supaya isu itu dapat disikapi dan diangkat. Sebenarnya pemikiran ini sudah dari dulu hinggap di otak. Hanya saja kadang timbul tenggelam. Dan melalui tulisan ini saya ingin mengomunikasikannya kepada yang lain. Siapa tahu beberapa orang memiliki pemikiran yang sama. Dan lebih jauh, saya berharap agar dari share gagasan ini dapat dimunculkan penyikapan yang konkret. Yakni menyoal kinerja UPT Penerbitan UNSOED. UPT Penerbitan UNSOED terletak persis di pertigaan jalan kampus. Di sebelahnya kantor Pos dan Giro. Selama saya kuliah, ...

Metafora dalam Patung Jenderal Soedirman

Oleh: Firdaus Putra A. Suatu tempok saya melintasi jalan raya Kab. Purbalingga. Di satu perempatan jalan saya melihat monumen sejarah dalam bentuk patung Jenderal Soedirman. Patung itu berdiri, setengah membungkuk. Tangan kanannya memegang tongkat. Sedang tangan kirinya memegang teropong. Di sela-sela ikat pinggangnya membujur dari kanan ke kiri satu pucuk keris. Saat itu saya berada di dalam bus, jurusan Purwokerto. Tidak ada hasrat untuk berhenti, turun untuk menanyakan kenapa monumen patung tersebut seperti itu? Atau lebih tepatnya, harus seperti itu? Sampai sekarang pun saya tak pernah menanyakan hal ihwal patung tersebut ke teman saya yang asli Purbalingga. Atau berusaha mencarinya di situs daerah, nasional pun internasional. Hanya saja sampai sekarang saya masih mereka-reka, kenapa harus seperti itu? Tongkat di tangan kanan, teropong di kiri dan keris menyelip di pinggangnya? Saya mencoba meraba makna yang sedang disuguhkan oleh sikreator, bisa jadi Bupati atau Pemda Purba...

Manusia yang Mawas Diri

Oleh: Firdaus Putra A. Musibah atau bencana terjadi ketika alam menunjukan gelagat yang berakibat buruk bagi manusia. Sudut pandang demikian memang sangat antroposentris. Manusia merupakan penentu apa itu musibah atau bencana dan apa yang bukan. Padahal, alam mempunyai siklus khasnya sendiri. Lempengan bumi tiap sepersekian tahun akan bergeser, demikian juga iklim dan sebagainya. Lantas bagaimana kita harus mensikapi bencana alam yang silih berganti singgah di negeri ini? Ketika bencana terjadi, manusia serta-merta menyalahkan alam. Hal ini sudah menjadi kebiasaan sejak dulu kala. Kebiasaan ekstrospeksi, menilai apa-apa yang berada di luar dirinya. Manusia menjadi kurang bisa introspeksi atau mawas diri. Kebiasaan ekstrospeksi merupakan panjang tangan dari sudut pandang yang antroposentris tadi. Sudut pandang antroposentris tidak ubahnya memposisikan alam sebagai budaknya. Alam dikuras sedemikian rupa, dieksploitasi, ditambang, digunduli dan seterusnya. Alam dianggap semata-mata...