Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret 16, 2008

Karikatur Muhammad

Jangan Sampai Menjadi Pelengkap Penderita Oleh: Firdaus Putra A. Sedikitnya dua kali peristiwa semacam ini terjadi, tepatnya pada tahun 2006 dan 2008. Hebohnya, pada kejadian yang terakhir, Pemerintah Jerman tidak segan-segan memberikan izin kepada lebih dari 20 media massa untuk memuat karikatur Nabi Muhammad. Sebuah kebijakan yang kontroversial, minimalnya bagi masyarakat Islam. Masih sama seperti pada tahun 2006, alasan pembuatan dan pemuatan berlindung dibalik logika kebebasan bereskpresi yang dijunjung tinggi dalam demokrasi. Sayangnya, kebebasan berekspresi tersebut secara de facto telah menyinggung kelompok tertentu, dalam hal ini adalah masyarakat Islam. Tidak terkecuali masyarakat Islam di Indonesia. Beberapa ormas Islam di tanah air secara intensif melakukan penggugatan. Dari cara sederhana, melalui aksi massa, penyebaran leaflet, pernyataan sikap lewat millist, sampai pada aksi boikot produk yang berasal dari negara tertentu. Dan sebagian ormas yang lain nampaknya ti...

Puisi Rupa Made Wianta

Oleh: Firdaus Putra A. Di rak buku saya bertambah enam koleksi lagi, salah satunya Kitab Suci Digantung di Pinggir Jalan New York . Satu buku karangan Made Wianta, seorang perupa seni asal Bali. Buku tersebut merupakan antologi puisi Made. Menengok judulnya, saya dibuat penasaran. Saya baca satu persatu secara acak beberapa puisi. Jujur, saya bingung. Bingung karena tak pernah paham puisi tersebut berkisah atau bercerita tentang apa. Saya nukilkan satu puisi dari buku tersebut; hilang sudah menarik napas terpenggal mungkin saja jari mencari aba-aba sekian juta pori-pori hendak merdeka (2003: 224) Puisi tersebut ditulis tanpa judul. Hanya tanggal, yakni 27 September 2001. Tidak hanya pada puisi di atas, pada yang lain saya juga bingung. Untungnya halaman akhir, ada beberapa esai dari kritikus atau pengamat sastra yang memberikan ulasan terkait dengan karya Made Wianta. Salah satunya Sindhunata. Menurutnya, puisi Made Wianta tergolong abstrak. Made berangkat dari kegeli...

Tukang Parkir

Oleh: Firdaus Putra A. Coretan ini aku buat sepulang nge-net di salah satu warnet langgananku. Aktivitasku nge-net selesai tepatnya pukul 04:55, pagi hari. Sembari memanasi mesin motor, aku ngobrol dengan tukang parkir warnet. Selidik punya selidik, ternyata si tukang parkir sudah memiliki tiga anak. Padahal, melihat dari raut wajahnya aku taksir usianya 27 sampai 30 tahun. Tidak lebih. Memang benar, parkir di warnet langgananku gratis. Ini juga merupakan salah satu fasilitas yang disediakan. Dulu sering pengunjung kehilangan helm. Ada juga motor. Paska ada tukang parkir, kondisi relatif aman. Aku juga pernah kehilangan helm di halaman parkir sana. Sebuah helm—DMI warna hitam—yang baru aku pakai selama tujuh hari. Sekarang, tidak ada kasus kehilangan. Jadi, tidak berlebihan kalau aku, dan mungkin pengunjung yang lain, menghaturkan terima kasih yang mendalam kepada si tukang parkir. Kami ngobrol sampai adzan subuh selesai. Obrolan itulah yang membuatku miris. Bayangkan, ternyata ...

Merenungkan Ratminah

Oleh: Firdaus Putra A. Masyarakat, terutama kalangan bawah, sudah mulai merasakan dampak gejolak harga dan kondisi ekonomi global sekarang ini. (Kompas, Jumat 14 Maret 2008) Setiap harinya keluarga Ratminah, warga Dukuh Sikubur, Desa Pagejugan, Kab. Brebes, harus mengonsumsi nasi aking atau intip yang ditanak ulang. (Kompas, 13/3/2008). Padahal, di beberapa daerah, nasi aking justru dibuang atau diperuntukan untuk makanan ayam. Ratminah beserta anak-suaminya, harus mengganti konsumsi nasi (beras) menjadi nasi aking karena naiknya harga beras beberapa hari terakhir. Untuk membeli beras yang per kilogramnya Rp. 4500 saja ia tidak mampu. Belum lagi kesulitan beras, ia harus menerima mahalnya harga minyak goreng, juga minyak tanah. Tak ketinggalan, harga tepung, cabe, dan beberapa bumbu dapur lainnya turut membumbung tinggi. Alhasil, suaminya harus memeras keringat lebih dari biasanya untuk menjamin agar dapur rumahnya tetap berasap. Sesekali Ratminah memang bekerja, namun resiko...