Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli 20, 2008

Welcome Irrasionalitas

Oleh: Firdaus Putra A. Rasionalitas seperti apa yang mampu menjelaskan “penyakit” yang dialami Noer Sayidah, warga Samarinda, Kutai, Kalimantan Timur. Pasalnya, dari perut dan dadanya keluar kawat berwarna hitam berukuran 10-12 cm. Kita bisa saksikan itu ditayangan Fokus Siang Indosiar beberapa hari yang lalu. Dalam kepercayaan Jawa atau tradisional fenomena ini kita sebut “santet”. Beberapa bulan yang lampau, kejadian ganjil juga pernah terjadi di salah satu wilayah di Jawa Barat. Lebih dari tiga orang meninggal berurutan. Disinyalir mereka meninggal setelah sehari sebelumnya menebang pohon tua di sebuah kuburan. Warga gempar, lantaran fenomena ini diblow-up mass media. Tidak hanya mass media, otoritas negara harus turun untuk memastikan. Menteri Kesehatan langsung meninjau tempat terjadinya perkara. Penelitian pun dilakukan. Versi negara, mereka meninggal lantaran memakan tempe gembus (dage atau bongkrek) yang tercemar bakteri. Sedangkan menurut warga, orang-orang yang meningg...

Saya di Madinah

Oleh: Firdaus Putra A. Membaca buku “Tamu Allah” karya Mohammad Sobari ini membuat saya seakan-akan berada di Madinah. Ikut menikmati ruangan masjid yang luas, karpetnya bersih, udaranya dingin dan seterusnya. Juga membuat saya seakan-akan berada di Mekkah, ikut thawaf di depan Ka’bah dan aktivitas umroh lainnya. Atau membuat saya merasakan sesak dan kurang nyaman ketika memasuki lorong Gua Hira yang penuh para peminta-minta dan kotoran manusia. Buku ini benar-benar diceritakan secara mengalir. Mampu membuat saya “hadir” dan ikut serta menikmati jamuan Allah. Buku kecil ini merupakan true story atau catatan perjalanan kang Sobbari ketika sedang menunaikan umrah di tanah suci. Terbit sudah cukup lama, 1996. Namun baru saya temukan saat membolak-balikkan tumpukan buku di stand obral buku murah di Gedung Suteja Purwokerto. Membaca buku ini kita tidak akan menemukan warna dogmatis agama. Justru karena berangkat dari narasi kecil Kang Sobbari cerita dalam buku itu sangat manusiawi da...

Sampah - Rupiah

Oleh: Firdaus Putra A. Sesiang tadi saya dibantu Gery sibuk memilah dan memilih tumpukan kertas foto kopi catatan kuliah semester lalu. Saran Gery agar kertas-kertas yang menyampah itu dipilah berdasar jenisnya, buram dan HVS. Juga dipilih apakah masih layak untuk digunakan, mengingat kertas itu berisi catatan perkuliahan dan aktivitas lainnya, atau tidak. Cukup lama kami memilah dan memilih seabrek sampah di kamar saya. Memang, sebelum hari ini terjadi, kertas-kertas catatan perkuliahan itu merupakan “sampah” bagi saya. Sudah berapa tahun yang lalu sudah sama sekali tidak saya jamah. Untuk sekedar menengok referensi atau menengok jejak sejarah yang sempat terekam. Kertas-kertas itu hanya menggunung di rak atau kardus di dalam kamar. Tentu saja, ruang kamar saya menjadi kekurangan space. Rencananya sampah kertas itu akan kami jual. Harganya cukup lumayan bagi anak kos. Kertas HVS perkilonya dihargai Rp.2.000, sedangkan buram dihargai Rp.1.000. lain daripada buram dan HVS, kertas...

Menyifati Islam?

Oleh: Firdaus Putra A. Mencurigai Ajektif Bagi sebagian orang menambahkan ajektif atau pensifatan pada kata “Islam” dirasa problematis. Ada kesan proses pensifatan ini merupakan proses polarisasi, pengkotak-kotakan, atau praktik politik devide et impera. Bagi kalangan yang gemar mengonsumsi teori-teori konspirasi, seperti karangan William G. Carr, dan sebagainya, pastilah akan memandang bahwa pensifatan Islam merupakan taktik Yahudi atau pihak asing dalam rangka mengadu domba dan memperlemah umat. Pandangan semacam ini cukup populer di masyarakat. Sebagian masyarakat lebih menyukai jargon “Islam ya Islam, titik!” Menengok ke empat atau lima tahun yang lalu, di Indonesia beberapa pensifatan Islam dimunculkan dalam ruang publik kebergamaan kita. Sebutlah Jaringan Islam Liberal (JIL) yang tidak ragu-ragu menggunakan ajektif liberal yang dinilai kontradiktif ( contradiction in term ). Jaringan Islam Emansipatoris (JIE) yang merupakan salah satu media kerja dari Perhimpunan Pemberdaya...

Un-modern Room

Oleh: Firdaus Putra A. Malam ini kamar saya berantakan. Buku berserakan di mana-mana. Majalah Tempo di lantai. Asbak penuh dengan puntung rokok dan tisu. Beberapa tumpuk kertas menggunung persis di depan pintu kamar. Di sampingnya, seplastik pakaian bersih dan sajadah belum dimasukan ke lemari. Sering mengganggu pandangan, kantong plastik besar warna hitam ikut-ikutan memenuhi ruang kamar yang sempit. Seprei kasur juga tak rapi seperti biasanya. Sarung sebagai selimut dingin awut-awutan. Beberapa lembar ribuan rupiah di atas meja komputer sejak kemarin. Di samping kasur, buku-buku baru berjajar. Sebenarnya risih dan kurang nyaman melihat kamar berantakan. Namun entah apa penyebabnya saya tak juga kunjung merapihkan. Waktu untuk itu ada. Tenaga untuk itu juga ada. Namun tidak saya lakukan. Justru saya berusaha menikmati untuk beberapa saat kesemrawutan itu. Keluar sejenak dari keteraturan. Keluar dari kerapihan. Bisa jadi saya bosan dengan keteraturan atau kerapihan selama ini....

Koperasi, Sebuah Telisik Epistemologi

Oleh: Firdaus Putra A. I Karl Marx, merupakan seorang intelektual yang secara cermat melakukan riset terhadap ketimpangan masyarakat akibat sistem kapitalisme di zamannya. Ia menemukan fakta bahwa pemilikan faktor produksi merupakan akar masalah yang mengantarkan buruh (pekerja) pada masalah penghisapan, keterasingan, dan seterusnya. Analisis Marx yang menekankan pada pemilikan faktor produksi ini mengantarkannya pada impian besar tentang sarana produksi yang manusiawi, kolektif, dan membebaskan, yakni sosialisme. Dengan rendah hati, sebagai penghormatan terhadap kredibilitas Marx, saya akan meminjam analisis empiris tersebut untuk menyelesaikan bangun epistemologi koperasi. Di awal, kita tangguhkan sementara waktu, mengapa Marx justru tidak menggunakan konsep koperasi sebagai pilihan perjuangan ekonomi politik. Yang penting adalah, secara ilmiah kita harus melakukan telisik epistemik koperasi apakah secara rasional nantinya mampu menjadi alternatif kemanusiaan-kemasyarakatan un...