Langsung ke konten utama

Un-modern Room


Oleh: Firdaus Putra A.

Malam ini kamar saya berantakan. Buku berserakan di mana-mana. Majalah Tempo di lantai. Asbak penuh dengan puntung rokok dan tisu. Beberapa tumpuk kertas menggunung persis di depan pintu kamar. Di sampingnya, seplastik pakaian bersih dan sajadah belum dimasukan ke lemari.

Sering mengganggu pandangan, kantong plastik besar warna hitam ikut-ikutan memenuhi ruang kamar yang sempit. Seprei kasur juga tak rapi seperti biasanya. Sarung sebagai selimut dingin awut-awutan. Beberapa lembar ribuan rupiah di atas meja komputer sejak kemarin. Di samping kasur, buku-buku baru berjajar.

Sebenarnya risih dan kurang nyaman melihat kamar berantakan. Namun entah apa penyebabnya saya tak juga kunjung merapihkan. Waktu untuk itu ada. Tenaga untuk itu juga ada. Namun tidak saya lakukan. Justru saya berusaha menikmati untuk beberapa saat kesemrawutan itu. Keluar sejenak dari keteraturan. Keluar dari kerapihan.

Bisa jadi saya bosan dengan keteraturan atau kerapihan selama ini. Nalar teratur tak ubahnya nalar modern yang mendikte manusia untuk selalu progresif. Bergerak ke arah yang lebih baik, linier. Di sisi lain, ketakteraturan cermin dari regresi gerak. Ada kalanya juga siklus, zig-zag atau melingkar bak obat nyamuk bakar.

Namun yang jelas saya sekedar bosan, jenuh dengan keteraturan. Artinya suatu tempo, entah besok atau lusa, saya akan kembali ke nalar itu. Merapihkan, mengaturnya agar semuanya enak dilihat mata, untuk tidak mengatakan nampak simetris.

Jumat kemarin, sebagian kota Purwokerto—juga termasuk wilayah kos saya—keluar dari keteraturan. Listrik padam. Lampu lalu lintas juga padam. Pengendara dituntut tidak percaya dengan keteraturan yang lalu-lalu. Pengendara dituntut waspada, sekurang-kurangnya dengan mengurangi kecepatan motornya.

Jumat sebelumnya, ketika listrik juga padam, secara spontan saya ikut beberapa teman untuk renang—lebih tepatnya main air—di Langen Tirto. Tanpa perencanaan, tanpa jadwal. Ketidakteraturan ada kalanya membuat hidup nampak lebih bebas. Tidak terkungkung oleh “struktur” yang sudah ada.

Benar kata Francisco Budi Hardiman, sebagai intelektual yang mengkaji modernisme, ia mengatakan bahwa manusia modern cukup paradoks. Di satu sisi ia ingin diatur, di sisi lain manusia modern ingin lepas dari kungkungan struktur birokrasi. Ia sebut fenomena ini sebagai paradoks modernitas.

Namun coba bayangkan, bilamana saban hari, setiap saat kita hidup dalam ketakteraturan, bisa jadi hari ini kita justru merasa bebas melalui logika keteraturan. Saat kuliah, yang saban hari tidak mengenakan seragam. Yang setiap waktu, baik di kampus atau di luar selalu mengenakan pakaian bebas, justru ada keinginan untuk mengenakan seragam. Saya kira bukan hanya saya sendirian yang merasakan kecenderungan itu. Di tiap tahun dan di tiap jurusan, ada saja keinginan untuk membuat jaket atau kaos angkatan. Saat angkatan saya mengambil dokumentasi untuk kenang-kenangan, kami dihimbau untuk mengenakan setelan putih-hitam. Dan anehnya, tidak ada yang menolak.

Sedang saat SMA, saya ingin sekali tidak mengenakan seragam abu-putih. Teman-teman yang lain nampaknya juga merasakan. Ada yang mengambil jalan dengan cara memakai sweater. Ada juga dengan cara memodifikasi seragam, khususnya celana panjang. Meski semua cara itu dilarang oleh otoritas, struktur birokrasi sekolah.

Mungkin memang manusia membutuhkan kedua sisi itu. Tanpa ketakteraturan, keteraturan menjadi tak bermakna, dan sebaliknya. Warna hitam menjadi warna yang bermakna dalam ketika bersanding dengan warna putih, atau lainnya. Kecantikan menjadi menarik atau terlihat lebih menarik ketika ada yang tidak cantik, dan sebaliknya.

Apa masalahnya? Memang tidak ada masalah antara keteraturan dengan ketakteraturan. Menjadi masalah ketika keteraturan diklaim paling baik berhadapan dengan ketakteraturan. Beginilah manusia modern. Bukan sekedar hidup dalam perbedaan, melainkan hidup dalam pembedaan. Ada nilai di semua hal.

Modernisme menjadi bermasalah ketika mendaku sebagai universalisme. Juga menjadi bermasalah ketika menginvansi entitas lain yang disebut tak modern, atau belum modern. Modernisme menjadi masalah ketika menghendaki wajah tunggal. Wajah yang teratur. Yang tentu saja, mengandaikan adanya pengatur dan yang di atur. Adakalanya mewujud dalam kredo agama, ada juga yang lahir dari otoritas struktur organisasi, dan ada juga—bahkan banyak—yang lahir dari rahim kapitalisme.

Lambat laun nalar ini mengkristal dan mewujud dalam cara pandang positivistik, rasionalistik, bahkan materialistik. Di luar tiga klaim itu, adalah salah karena tak sesuai dengan logika modern. Modernitas tak hanya menampilkan diferensiasi, justru dikotomi bahkan kontradiksi.

Ricouer, seorang pemikir Jerman, mengusulkan agar kita mengkritik setiap nalar yang kadung mapan itu. Salah satunya dengan cara yang ia sebut sebagai “analogi permainan”. Fungsinya, sesekali tempo kita perlu keluar dari keseriusan, keluar dari formalitas, keluar dari keteraturan. Dengan analogi permainan, kita akan menjadi sadar atau kembali tersadarkan tentang tindakan kita. Bahwa semua hal yang terjadi tidak harus “seperti ini”, bisa “seperti itu” atau “seperti anu.”

Lantas apa yang salah dengar kamar saya yang berantakan? Nyaris tidak ada! Justru keberantakan itu memberi makna yang mendalam—ketika misal suatu tempo—saya tidak bisa menemukan benda/barang yang saya cari karena tertutup benda/barang lain. Dan saat itu, saya akan berterimakasih pada keteraturan.

Keteraturan membutuhkan cermin lain agar mampu melihat dirinya secara utuh. Juga ketakteraturan membutuhkan keteraturan untuk bisa dikenali. Dua sisi itu ada secara bersamaan hingga manusia lebih condong pada salah satunya saja. Dan saat kecondongan itu berlanjut terus menerus, maka sisi yang lain dibutuhkan untuk “menjewernya.” Sekedar mengingatkan. Sekedar merefleksikan. Ngono yo ngono tapi mbok yao ojo ngono. Begitu ya begitu, tapi mbok yao jangan begitu. []

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Ide itu Bermula dari Vacuum Cleaner

Dikisahkan secara subyektif oleh: Firdaus Putra, HC.  Beli Vacuum cleaner Pagi ini saya dapat pesan WA dari Pak Hadi, tukang gorengan yang mangkal di pinggir kampus FISIP, Unsoed. Ia mengirim, “Halo, Mas. Mohon maaf mengganggu waktunya, saya mau balikin vacuum cleaner punya PEDI, harus ketemu siapa?”. Lalu vacuum cleaner itu tiba di Kopkun. Dan pertama kalinya saya lihat dan menyobanya sejak pertama kali dibeli. Jadilah saya ingat memori yang menempel pada  vacuum cleaner itu. Tak ada yang spesial dari bentuk vacuum cleaner di atas. Dibeli sekitar tahun 2017 sebagai inventaris Kopkun Institute. Sebabnya, saat itu Kopkun Institute punya ruang pelatihan beralaskan karpet. Jadilah butuh vacuum cleaner agar bersih dari debu. Lalu Kopkun beli gedung di depan Unsoed, yang sekarang menjadi Kantor Pusat. Aktivitas direlokasi semua ke Kantor Pusat dari sebelumnya di Kopkun 3, Teluk, Purwokerto Selatan. Ruang pelatihan itu jadi tak terpakai, begitu juga si vacuum cleaner . Lahir Ped...

Omnibus Law Koperasi, Pendirian Cukup Tiga Orang

Oleh: Firdaus Putra, HC. Pemerintah sedang menyiapkan undang-undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. Tujuannya ciptakan lapangan kerja baru dengan membangun regulasi yang memudahkan masyarakat berbisnis. Pasal pada undang-undang yang dinilai menghambat akan dihapus. Diprediksi omnibus law akan menyelaraskan 82 undang-undang lainnya. Ini terobosan yang luar biasa. Saat ini bila masyarakat ingin mendirikan koperasi, maka harus mengumpulkan sedikitnya 20 orang. Itu mengacu UU 25/ 1992 tentang Perkoperasian. Artinya 20 orang itu harus sepemikiran untuk membangun perusahaan bersama. Tentu tidak mudah, bukan? Bandingkan dengan Perseroan Terbatas (PT) yang cukup dua orang. Menurut saya pasal tentang 20 orang ini perlu dimasukkan dalam omnibus law mendatang.   Mengapa 20 Orang Penjelasan pasal 6 UU 25/ 1992 menyebutkan alasannya karena masalah kelayakan usaha. Mari kita rekonstruksi kondisi pada saat undang-undang itu lahir. Tahun 1990an kondisi ekonomi Indonesia sangat ...

Dunia Banyak Belajar dari "Chicken Soup":

dari DiaryBlog ke JournalBlog Oleh: Firdaus Putra A. Anda pasti pernah membaca buku Chicken Soup Series pada sekuel hidup tertentu, bukan? Saya membaca buku seperti itu saat duduk di bangku SMA. Cerita-cerita di dalamnya sungguh inspiratif dan membangkitkan semangat. Seringkali, cerita di dalamnya adalah true story , meski tidak harus succes story . Di Indonesia, tetralogi Laskar Pelangi yang dihelat Andrea Hirata bisa digolongkan dalam konteks serupa. Laskar Pelangi dengan kisah pilu dan heroiknya, merupakan teladan nan inspiratif bagaimana si Hirata kecil berusaha menggapai mimpinya ke Paris. Oleh komunitas penulis, buku itu dikategorikan sebagai literary non-fiction . Yakni sebuah karya sastra yang berbasis kisah nyata (non-fiksi). Di luar negeri, banyak buku kisah yang kaya inspirasi serupa Chicken Soup . Salah satu penulis yang termasyhur adalah Paulo Coelho dengan The Alchemist nya. Buku itu berkisah bagaimana seseorang (Santiago) yang ingin mencari dan membangun Per...