Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli 27, 2008

Ideologi & Agama

Oleh: Firdaus Putra A. Suatu ketika terjadi perdebatan antara kalangan Islam dengan Kristiani terkait sejarah kapal Nabi Nuh. Kalangan Islam mengklaim bahwa kapal tersebut berlabuh di bukit Judi. Klaim ini bersumber dari teks suci, Quran. Sedangkan kalangan Kristiani, menyatakan bahwa kapal tersebut terdampar di pegunungan Ararat. Masing-masing mengklaim paling benar berdasar Kitab Sucinya. Kalimatun shawa atau titik temu tidak terjadi. Sampai akhirnya, kalangan ilmuwan/intelektual melakukan penelitian sejarah melalui pendekatan arkeologi. Dibantu teknologi foto satelit, tersingkap bahwa di bawah tanah negeri Mesir ada bangunan/struktur kota tua. Dan akhirnya, perdebatan tentang kapal Nabi Nuh bisa terselesaikan. Para ilmuwan menyimpulkan bahwa kapal itu berlabuh di bukit Judi. Namun yang harus dicatat, bahwa bukit Judi terletak di pegunungan Ararat. Ternyata klaim kalangan Islam dan Kristiani sama-sama benarnya. Klaim-klaim itu mampu ditemukan melalui pendekatan ilmiah, bukan sek...

Penjara Bahasa

Oleh: Firdaus Putra A. Lambat laun saya mulai menyadari mengapa kalangan eksistensialis-fenomenologis dan aliran pemikiran seframe lainnya, tidak terlalu suka dengan struktur. Bahkan, sampai titik tertentu membencinya. Struktur merupakan manifestasi dari segala tata aturan yang muncul di masyarakat. Awalnya memang sekedar pola (pattern), namun setelah terpolakan, semuanya berubah menjadi kerangkeng yang tak membebaskan. Jujur, saya kadang iri menengok beberapa blog yang ditampilkan sesepontan mungkin oleh pengelolanya. Dengan bahasa keseharian yang benar-benar mengekspresikan situasi psikologis yang melingkupinya. Dengan candaan, cacian, atau perkataan yang ringan, nyentak, atau bahkan memerahkan telinga. Namun, merekalah para blogger yang menemukan kebebasan itu. Tidak perlu capai untuk berkaidah baku, ber-EYD, dan turut langkah dengan bahasa baku lainnya. Memang, saya sering menulis narasi kecil tentang kehidupan atau lingkungan yang saya alami. Bedanya, tulisan saya tidak seb...

Praxis - Praksis?

Oleh: Firdaus Putra A. Praxis, kata ini diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi “praksis.” Kata ini sangat familiran di kalangan pergerakan mahasiswa. Bahkan, kata ini mempunyai makna yang sangat dalam. Secara sederhana “praksis” dapat kita terjemahkan sebagai “berbuat” atau “bertindak.” Sebagian gerakan mahasiswa jutru menghadap-hadapkan antara praksis dengan diskursus (wacana). Tulisan ini ingin menyingkap dua term, praksis dan wacana, yang senantiasa dimaknai secara deterministik oleh pergerakan mahasiswa. Satu minggu yang lalu saya memperoleh SMS dari seorang teman, Khoirurrizqo, “Selamat, semoga ini menjadi titik perlawanan yang masuk di wilayah praksis. Tidak terus bergelut di wilayah ide.” SMS ini cukup menyentak saya. Sekurang-kurangnya, Khoirurrizqo berangkat dari asumsi bahwa apa-apa yang saya lakukan selama ini menurutnya bukan termasuk praksis. Sedari awal kuliah memang saya tidak mengafiliasikan diri pada ormas mahasiswa mana pun. Pada tahun 2004, bersama beberapa...

Meneguhkan Islam

Oleh: Firdaus Putra A. Ada dua pengertian yang bisa kita tarik dari “Islam (di) Indonesia”. Pertama, melalui proses kultural yang panjang, semenjak abad ke-13 sampai sekarang, Islam sudah membumi di Indonesia. Akibat proses kultural tersebut kita bisa melihat karakter Islam Indonesia berbeda dengan Islam Timur Tengah. Islam Indonesia oleh para pendakwah awal, sebutlah Wali Songo, disebarkan melalui medium budaya. Pergaulan antara nilai luhur Islam dengan nilai-nilai budaya lokal menjadi cita rasa tersendiri. Kita sebut proses kultural itu sebagai proses kreatif, adaptif dan transformatif yang diusung oleh para pendakwah Islam awal. Berbeda dengan Islam Timur Tengah, Islam Indonesia sangat toleran, baik dengan agama besar lainnya, aliran kepercayaan (misal Kejawen), dan sebagainya. Karakter inilah yang kurang dimiliki oleh Islam Timur Tengah yang gemar menuduh salah atau sesat kepada selain diri atau kelompoknya. Islam sebagai agama yang memuat nilai-nilai universal tentu saja be...

Bersua Perjaka

Oleh: Firdaus Putra A. Tepatnya saya lupa malam apa saya berkumpul dengan abang-abang becak kawasan Kampus UNSOED. Yang pasti, grup Paseduluran Jalan Kampus (Perjaka) malam itu saya berkumpul di sebuah rumah dengan 20-an anggota Perjaka. Grup abang becak ini berdiri pada 2 Mei 2007, setahun yang lalu. Grup ini merupakan koperasi tukang becak, ada juga pedangang gorengan. Agenda rutin, yang malam itu saya ikuti, arisan, membayar Simpanan Wajib, menabung, dan meminjam uang. Ada perasaan bahagia bersua dengan mereka. Saya semakin dekat dengan abang-abang becak. Meski tetap saja, mereka memandang saya sebagai “yang lebih.” Maklum, mahasiswa selalu saja dianggap lebih. Malam itu, saya dan teman yang lain, Jajang , diminta untuk memperkenalkan diri. Oh iya, saya mengikuti acara malam itu bukan dalam rangka penelitian. Awalnya saya diundang oleh Suroto, aktivis koperasi di Purwokerto, untuk melihat proses perkoperasian masyarakat. Suroto merupakan Pembina Perjaka. Dari acara itu saya m...

Meneguhkan Akal

Oleh: Firdaus Putra A. Ada satu Hadist yang berbunyi, “Agama adalah akal, tidak ada agama bagi yang tidak berakal”. Secara lugas Hadist itu menggambarkan tentang posisi dan peran akal dalam beragama. Roda sejarah berputar, dan saat ini posisi dan peran akal sedang berada di bawah. Sehingga, menghubungkan antara agama dengan akal, menjadi sesuatu yang minor dan peyoratif. Seakan-akan agama (Islam), hanyalah sekedar teks Quran dan Hadist. Padahal, tanpa akal, Quran dan Hadist tidak akan terpahami sama sekali. Selepas diwahyukan, Quran menjadi diam. Terdokumentasi menjadi sebatas mushaf (kitab/tulisan). Ia tidak dapat berbicara. Manusialah yang aktif membicarakannya. Meneliti, mencari penjelasan, mengorek sejarah, dan seterusnya. Sampai titik itu, Quran (wahyu) dan akal berada pada posisi yang setara. Quran tidak mensub-ordinasi akal. Justru melalui kemampuan akal, kita mampu menyibak makna yang berada dibalik pewahyuan ayat tertentu. Akal menjadi pusat dari kesadaran berislam. ...