Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei 18, 2008

3.5% & 96.5%

Oleh: Firdaus Putra A. * Pernyataan "3.5% religius dan 96.5% religiusitas" saya pinjam dari Emha Ainun Najib (Cak Nun). Menurutnya, dari 6000 ayat Quran, hanya 3.5% saja yang berbicara tentang ibadah mahdloh atau ihwal religius. Selebihnya, berbicara masalah ibadah muamalah dalam kerangka religiusitas. Dengan bahasa lain, dari banyaknya ayat Quran, justru sebagian besar berbicara tentang kesalehan sosial yang berada pada landscape kemanusiaan-kemasyarakatan. Pada kuota yang pertama, 3.5%, seperti salat, puasa, zakat, dan seterusnya, sudah sepantasnya kita ikuti ketentuan agama. Prinsipnya, apa yang diperintahkan oleh Tuhan melalui Quran-Hadist, adalah yang boleh. Sedangkan kuota yang terakhir, 96.5%, menganut kaidah apa yang tidak dilarang oleh Tuhan, adalah sesuatu yang boleh dikerjakan. Tulisan ini lebih menyoroti masalah yang terakhir. Pokok permasalahannya adalah agama di ruang publik, bukan privat. Dalam trilogi keberislaman, kita kenal konsep; iman, islam, dan i...

For Smoker

Tentang Kadar Nikotin dan Tar Oleh: Firdaus Putra A. Data ini saya peroleh secara tak sengaja ketika mencari UU atau aturan tentang branding rokok. Sampai ke situs tertentu, saya menemukan PP No. 81 tahun 1999 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan. Seperti judulnya, PP itu banyak berbicara tentang larangan, pembatasan, sanksi dan seterusnya. Ada beberapa pasal yang membuat saya tertarik, saya kutipkan sebagai berikut, “Pasal 4 (1) Kadar kandungan nikotin dan tar pada setiap batang rokok yang beredar di wilayah Indonesia tidak boleh melebihi kadar kandungan nikotin 1.5 mg dan kadar kandungan tar 20 mg”. Didorong rasa penasaran saya cari beberapa bungkus rokok di kamar. Saya lihat kolom yang menunjukan kadar nikotin dan tar. Ternyata, ada beberapa rokok, jenis, dan merk berbeda yang kadarnya di luar ketetapan. Misal, Gudang Garam Internasional kadar nikotinnya sampai 1.8 mg dengan tar mencapai 30 mg. Tidak berbeda jauh dengan GG Internasional, kadar tar Djarum Super melebihi ...

Blogger Banyumas

Oleh: Firdaus Putra A. Tanggal 18 Mei yang lalu saya mengisi acara di Pelatihan Blog yang diadakan oleh Jojoba Kelana. Acara dimulai kurang-lebih pukul 09.00 WIB. Fenomenalnya, acara baru usai pukul 15.00 WIB. Jadi selama enam jam peserta mengikuti pemaparan materi dari beberapa pembicara. Tidak terlihat peserta yang bolos atau meninggalkan acara di tengah-tengah kegiatan. Bisa disimpulkan, anemo peserta cukup tinggi. Satu bulan yang lalu saya dihubungi oleh Jojoba Kelana. Pembicaraan tersebut seputar kesediaan saya menjadi salah satu pembicara di kegiatan tersebut. Awalnya saya ragu, karena sebagai blogger, saya baru lima-enam bulan merambahi dunia blog. Saya terima tawaran itu. Dengan harapan, semoga saya bisa memprovokasi kawan-kawan muda untuk membuat dan mengaktifkan dunai per-blog-an di Banyumas. Meskipun baru beberapa bulan terakhir saya intens nge-blog, saya mulai merasakan manfaatnya. Sekurang-kurangnya, bakat dan minat tulis-menulis menjadi terasah dan tertantang. Du...

Justifikasi Teks?

Tanggapan untuk M. Guntur Romli Oleh: Firdaus Putra A. * Tulisan ini merupakan tanggapan terhadap judul “Bisakah Memperbincangkan “Seksual Minoritas” dalam Islam?” di www.guntur.name. Lebih jelasnya, sidang pembaca membuka situs pribadi Guntur Romli untuk mengetahui secara pasti masalah apa yang sedang didiskusikan. Dalam artikelnya, Guntur Romli menyatakan bahwa ketika kita membicarakan “seksual minoritas” dalam Islam, bukan dalam kerangka mencari justifikasi teks (Quran). Karena, menurut beliau, hidup kita tidak selalu harus mendapat justifikasi teks. Secara sederhana beliau memberi contoh praktik kehidupan yang saban hari kita jalani, mandi, makan, pergi ke kantor, mengoperasionalkan komputer dan seterusnya. Tindakan-tindakan seperti ini tidak membutuhkan justifikasi atau penghukuman dari Quran pun Hadist. Justru, menurutnya, ketika kita selalu mencari-cari justifikasi teks, bisa jadi kita akan berbenturan dengan realitas yang ada di lapangan, misal, hubungan antara seorang ...

Menulis Sehari-hari

Belajar Menulis dalam Tradisi Cultural Studies* Oleh: Firdaus Putra A. Avant propos Menulis itu mudah. Semudah menceritakan pengalaman Anda pada orang lain. Meskipun, dalam kaidah bahasa Indonesia, kita kenal adanya ragam bahasa tulis dan ragam bahasa lisan. Menulis, tentunya berada di kaidah yang pertama. Sayangnya, ragam bahasa tulis seringkali membuat sebagian orang merasa kesulitan. Ragam bahasa tulis membuat otak kita dipenuhi oleh berbagai aturan Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Yang paling mudah kita kenali melalui gaya penulisan artikel, karya ilmiah dan sebagainya. Berbeda dengan itu, ragam bahasa lisan memungkinkan kita untuk bercerita secara mengalir, tidak kaku dan menarik. Ragam bahasa lisan tidak terlalu terpaku pada aturan EYD. Dalam kajian bahasa dan simbol, kita kenal istilah langue dan parole. Langue merupakan ragam bahasa tulis yang baku. Dan parole merupakan ragam bahasa lisan yang muncul di keseharian. Di dalam blog, banyak orang lebih menggunakan raga...