Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April 12, 2009

Melati Jaya Giri

Oleh: Firdaus Putra A. “Melati dari Jaya Giri …” bolak-balik aku putar tembang kenangan itu. Aku punya kesan yang dalam khusus pada “Jaya Giri”. Aku belum pernah ke sana. Tapi aku merasakan sesuatu yang begitu dalam dan seakan sudah mengenalnya. Setelah sekian lama mencarinya, aku peroleh lagu ini dari dosenku, Pak Rawuh. Katanya beliau punya banyak koleksi tembang-tembang kenangan. Dia sendiri putar lagu itu dengan piringan hitam. Wow … benar-benar klasik. Sedang laguku ini, sudah di MP3-kan. Tapi kesan klasik itu masih tersisa. Suara musik yang sangat sederhana dengan aransemen yang juga sederhana. Pada masalah lagu, aku mungkin tergolong orang yang konservatif. Meski banyak lagu-lagu berganti dalam genre pop, belum ada yang menandingi kesan tembang kenangan. Memang, aku anak zaman pop. Hanya saja aku dibesarkan di tengah bapak-ibu yang demen tembang kenangan. Aku masih ingat, dulu saban hari ibuku memutar “Gelas-gelas Kaca”, “Teluk Bayur”, “Hitam-Putih Potomu” dan lainnya. ...

Golongan Putih

Oleh: Firdaus Putra A. Beruntunglah klaim “Golongan Putih” (Golput). Ia tidak terkena logika oposisi biner. Justru, ia membalik logika itu. Putih menjadi tak sama dengan memilih. Hitam sama dengan tidak memilih. Namun, di tahap berikutnya, ia belum selamat. Oposisi biner masih saja beroperasi. Golput sama dengan tidak memilih-tidak mencontreng. Dan yang mencontreng, sama dengan memilih. Padahal, tidak memilih pun adalah pilihan. Itu semestinya. Ia juga belum selamat, Golput sama dengan pengecut, juga pecundang. Golput menjadi segolongan yang berpangku tangan. Ia tak turut menentukan. Lagi-lagi ia tak selamat, menyontreng sama dengan warga negara yang baik. Golput adalah warga negara yang tak baik. Itulah kontestasi wacana yang tengah diadu di ruang publik. Berbagai rasionalisasi mengalir deras, baik dari pro-Golput, lebih-lebih kontra-Golput. Tak kurang-kurang, otoritas agama bermain tangan dengan fatwa kontra-Golput. Golput menjadi segolongan yang “dihajar” dari sana-sini. Seca...