Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni 15, 2008

I b u

Oleh: Firdaus Putra A. Kemarin malam saya memperoleh film dokumenter proses persalinan. Film itu benar-benar riil. Diperlihatkan secara apa adanya, mulai dari mengejan, sampai kepala bayi dikeluarkan dari vagina si ibu. Saya putar film itu dengan beberapa teman kos. Reaksinya hampir sama, ngeri! Bahkan seorang teman berseloroh, besok istriku tidak perlu melahirkan dengan cara alamiah (melalui vagina), cukup dioperasi agar tidak sakit. Saat itu juga kali pertamanya saya menyaksikan proses persalinan. Meski sekedar film, saya bisa merasakan ngerinya melahirkan. Maaf, di film itu, ditunjukan bagaimana ketika kepala si bayi belum bisa keluar, seorang bidan melakukan pembedahan kecil pada bagian pangkal paha. Darah langsung mengucur deras. Saya benar-benar nelihatnya. Beberapa detik kemudian, kepala bayi bisa "ditarik" oleh bidan. Mulai terlihat juga tangan bayi yang kecil. Menyusul badan dan kakinya. Terakhir, tali pusar dan air ketuban, pecah. Saya menonton film dokumen...

A Moment

Oleh: Firdaus Putra A. Sebenarnya malam ini kondisiku cukup kelelahan. Membaca satu halaman “Teori Keadilan” John Rawls saja pikiranku sudah tidak bisa konsen. Semuanya tak kupahami, semuanya mengawang. Namun, tiba-tiba aku ingin menyempatkan menulis satu, dua judul untuk blog. Rasa ini muncul setelah aku SMS-an dengan teman SMA ku dulu, Nadian Ulfa. Aku jadi ingat masa SMA, dimana semuanya begitu menyenangkan, tak terlalu membebani pikiran, dan benar-benar “anak muda”. Mungkin perasaan ini mulai terbetik saat kemarin malam aku melihat-lihat koleksi foto buku tahunan SMA teman kosku. Senangnya ia bisa mengenang masa SMA. Sedang aku, tak satupun foto SMA aku simpan. Sampai, aku lupa dengan wajah seseorang, Nashir, yang kata Nadian akan menikah di 20 Juni 2008. Memang, aku sudah merencanakan pulang di tanggal itu. Selain untuk mengikuti PILGUB (terlepas dari menggunakan hak pilih atau tidak), kakak iparku mitoni (syukuran kehamilan tujuh bulan). Tambah dengan undangan pernikahan...

KKL ke Bali?

Oleh: Firdaus Putra A. I Akhir-akhir ini ada perdebatan yang menarik di kampus terkait dengan mata kuliah Kuliah Kerja Lapangan (KKL). Menjadi menarik ketika pers mahasiswa ikut mengamati dalam arti melakukan reportase terhadap mata kuliah tersebut. Reportase itu diterbitkan dalam satu media, Suluh edisi KKL Jurusan Ilmu Komunikasi. Saya baca dalam media itu, beberapa mahasiswa kecewa terhadap berlangsungnya KKL. Pasalnya, orientasi akademis (studi lapangan) dengan wisata tidak seimbang. Berbeda dengan apayang dimaklumatkan di Buku Pedoman Perkuliahan FISIP, mata kuliah KKL yang kreditnya satu SKS ternyata lebih berat ke arah wisata. Bila diprosentase mungkin 70% wisata, dan 30% studi. Tidak hanya mahasiswa, salah seorang dosen juga menghendaki agar mata kuliah tersebut sebaiknya dihapus. Perdebatan tentang KKL terjadi hampir setiap tahun. Poinnya pada kredit mata kuliah yang hanya satu SKS, namun mahasiswa yang mengambil harus mengeluarkan biaya yang sangat besar, 500-600 ribu...

Corat-Coret

Oleh: Firdaus Putra A. Aku menjadi ingat masa-masa kelulusan. Sama dengan apa yang sekarang ada. Corat-coret pakaian putih-abu. Rasanya puas sekali. Benar-benar bebas. Seakan-akan pada saat itu aku menjadi sepenuhnya manusia. Bebas. Dan tak ada orang melarang. Orang tua pun tidak. Hanya polisi-polisi yang usil mengganggu kesenangan pendek kami. Aku berpikir, kenapa polisi-polisi itu harus menghentikan konvoi? Kenapa harus ditangkap, dan dipulangrumahkan? Apakah mereka tak mempunyai anak yang juga ingin berkata, “Jangan halangi kami!’. Coba seandainya konvoi itu tidak dihentikan polisi, justru, aku pikir polisi semestinya mengamankan jalannya konvoi. Mendampingi kami yang sedang menikmati berkendara dengan warna-warni di baju. Harusnya mereka mengawal kami, mengawal konvoi seperti saat partai sedang kampanye. Aku pikir kalau seperti itu, semuanya akan senang. Kami yang baru lulus, benar-benar merasakan orgasme kebebasan itu. Masyarakat tak perlu takut, khawatir pada konvoi kami. ...

Hopeless Society

Oleh: Firdaus Putra A. Apa yang akan terjadi ketika saban hari kita menyaksikan tayangan televisi yang menjurus ke arah pornoaksi? Betul! Otak kita akan dipenuhi oleh fantasi-fantasi seksual yang membangkitkan libido. Dan apa yang akan terjadi ketika saban hari televisi di rumah kita menayangkan berita kriminal dengan berbagai jenis/macamnya? Sekurang-kurangnya, informasi tentang tindak kriminalitas tidak akan berasa sebagai sebuah peristiwa yang luar biasa. Bahkan, menjadi kewajaran. Saya mempunyai pandangan kuat, tentang keberadaan televisi terkait dengan efek psikologis yang ditimbulkannya. Bayangkan, berapa jam sehari kita menghabiskan waktu di depan si kotak ajaib dan bagaimana dampaknya terhadap psikologis kita. Saya rasa sangat signifikan. Fakta, melalui televisi kita pernah melihat seorang anak SD yang mencabuli teman sebayanya setelah melihat acara tertentu di salah satu stasiun televisi swasta. Dan mari kita bayangkan, apa yang akan terjadi dengan bangunan kesadaran...

Serius - Santai

Oleh: Firdaus Putra A. Saat saya SMP, tidak ada seorang pun teman yang mempunyai handphone (HP). Saat SMA, sedikit teman yang sudah membawa HP. Hanya satu, dua, tiga orang. Itupun HP monocrome yang layar LCD-nya masih hitam-putih. Namun sekarang, beberapa kali saya lihat teman-teman SMP sudah memegang HP dengan berbagai merk dan tipe. Apalagi SMA, tentunya tidak ketinggalan. Ada perubahan yang terjadi begitu cepat, hanya dalam hitungan empat, enam tahun. Saat saya SMP, teknologi internet sama sekali tak masuk dalam perbendaharaan kata. Benar-benar asing. Sedangkan saat ini, anak SD pun bisa mengakses internet. Terlepas dari situs apa yang mereka kunjungi, yang jelas mereka sedang memanfaatkan fasilitas teknologi tinggi. Sekurang-kurangnya untuk mengakses internet, mereka harus bisa mengoperasikan komputer. Atau sekurang-kurangnya, mereka harus bisa menggunakan mouse dan keyboard. Saya masih ingat betul, SMP saya dulu hanya menyediakan kursus mengetik. Baru satu tahun kemudian di...