Langsung ke konten utama

I b u


Oleh: Firdaus Putra A.

Kemarin malam saya memperoleh film dokumenter proses persalinan. Film itu benar-benar riil. Diperlihatkan secara apa adanya, mulai dari mengejan, sampai kepala bayi dikeluarkan dari vagina si ibu. Saya putar film itu dengan beberapa teman kos. Reaksinya hampir sama, ngeri! Bahkan seorang teman berseloroh, besok istriku tidak perlu melahirkan dengan cara alamiah (melalui vagina), cukup dioperasi agar tidak sakit.

Saat itu juga kali pertamanya saya menyaksikan proses persalinan. Meski sekedar film, saya bisa merasakan ngerinya melahirkan. Maaf, di film itu, ditunjukan bagaimana ketika kepala si bayi belum bisa keluar, seorang bidan melakukan pembedahan kecil pada bagian pangkal paha. Darah langsung mengucur deras. Saya benar-benar nelihatnya.

Beberapa detik kemudian, kepala bayi bisa "ditarik" oleh bidan. Mulai terlihat juga tangan bayi yang kecil. Menyusul badan dan kakinya. Terakhir, tali pusar dan air ketuban, pecah.

Saya menonton film dokumenter itu dengan hikmat. Sekurang-kurangnya saya membayangkan rasa yang dialami ibu saya ketika melahirkan saya. Begitu berat rasanya. Saya jadi paham kalau melahirkan bayi merupakan ihwal antara hidup dan mati. Benar-benar mencengangkan, mendebarkan. Saya rasa, laki-laki pun belum tentu sanggup untuk menanggung beban itu.

Saya yakin seseorang akan berubah cara pandangnya selepas menyaksikan film tersebut. Sekali-kali ia tidak akan meremehkan sosok ibu. Sedari awal melahirkan, perjuangannya tidak bisa kita bayar dengan apapun. Rasa sakit itu, rasa berat itu, rasa sesak itu, dan berbagai rasa tak enak lainnya.

Namun, selepas si ibu melahirkan, ibu muda itu tersenyum. Mungkin ia tak pernah tahu kalau pangkal pahanya sudah berlumuran darah. Yang jelas, ia tahu dan bahagia, putranya lahir dengan selamat. Si ibu tersenyum bahagia, puas, dan lemas.

Tidak salah jika di masa kanak-kanak kita dinyanyikan, "Ia memberi, tak harap kembali, bagai sang Surya menyinari dunia". Tidak salah, jika Nabi Muhammad SAW, menempatkan ibu sebagai orang yang pertama kali harus dihormati. Secara berturut-turut, junjungan kita menyatakan, "Ibumu, ibumu, ibumu, dan lantas ayahmu". Juga menjadi setimpal kalau agama kita (Islam) mengajarkan bahwa, "Surga di telapak kaki ibu".

Terakhir, tidak salah juga, bahkan harus, kita secara tulus berterimakasih padanya. Sosok yang senantiasa memeluk kita di saat kita ketakutan, kedinginan. Orang yang senantiasa membantu kita di saat kita mengalami masalah. Orang yang senantiasa secara tulus menyayangi dan mencintai kita, sebagai anak, juga sebagai manusia. Ibu, terima kasih atas semuanya. Semoga putramu ini bisa membahagiakanmu. Amien. []

Komentar

Anonim mengatakan…
subhanallah..
Ibu adalah wanita yang sangat mulia
Jangan pernah menyakiti hatinya
Muliakanlah ia dan sayangilah ia
Semoga kita mmapu menjadi anak yang berbakti
Dan anak yang mmapu dibanggakan oleh beliau
Anonim mengatakan…
hmm..hm... saya juga kemaren liat, live didepan mata!! wew....
Anonim mengatakan…
assalamu `alaikum..tulisan2mu bagus dek..

aku bukan orang yg pintar menulis seperti kamu..tp aku orang yg senang membaca insyaallah..

moga dg baca tullisan2mu ini akan bermanfat nambah ilmu buatku..

gak nyangka ya kamu bisa jd seperti ini..hebat..salutt..
salam buat masmu azza..kapan2 aku pengen maen,pengen cerita ngalor ngidul kayak dulu lagi..ya moga allah kasih jodoh buat silaturahim..salam jg bwt ibu n bapak ya...

Muhammad Irham
(moga msh ingat ya)

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Ide itu Bermula dari Vacuum Cleaner

Dikisahkan secara subyektif oleh: Firdaus Putra, HC.  Beli Vacuum cleaner Pagi ini saya dapat pesan WA dari Pak Hadi, tukang gorengan yang mangkal di pinggir kampus FISIP, Unsoed. Ia mengirim, “Halo, Mas. Mohon maaf mengganggu waktunya, saya mau balikin vacuum cleaner punya PEDI, harus ketemu siapa?”. Lalu vacuum cleaner itu tiba di Kopkun. Dan pertama kalinya saya lihat dan menyobanya sejak pertama kali dibeli. Jadilah saya ingat memori yang menempel pada  vacuum cleaner itu. Tak ada yang spesial dari bentuk vacuum cleaner di atas. Dibeli sekitar tahun 2017 sebagai inventaris Kopkun Institute. Sebabnya, saat itu Kopkun Institute punya ruang pelatihan beralaskan karpet. Jadilah butuh vacuum cleaner agar bersih dari debu. Lalu Kopkun beli gedung di depan Unsoed, yang sekarang menjadi Kantor Pusat. Aktivitas direlokasi semua ke Kantor Pusat dari sebelumnya di Kopkun 3, Teluk, Purwokerto Selatan. Ruang pelatihan itu jadi tak terpakai, begitu juga si vacuum cleaner . Lahir Ped...

Omnibus Law Koperasi, Pendirian Cukup Tiga Orang

Oleh: Firdaus Putra, HC. Pemerintah sedang menyiapkan undang-undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. Tujuannya ciptakan lapangan kerja baru dengan membangun regulasi yang memudahkan masyarakat berbisnis. Pasal pada undang-undang yang dinilai menghambat akan dihapus. Diprediksi omnibus law akan menyelaraskan 82 undang-undang lainnya. Ini terobosan yang luar biasa. Saat ini bila masyarakat ingin mendirikan koperasi, maka harus mengumpulkan sedikitnya 20 orang. Itu mengacu UU 25/ 1992 tentang Perkoperasian. Artinya 20 orang itu harus sepemikiran untuk membangun perusahaan bersama. Tentu tidak mudah, bukan? Bandingkan dengan Perseroan Terbatas (PT) yang cukup dua orang. Menurut saya pasal tentang 20 orang ini perlu dimasukkan dalam omnibus law mendatang.   Mengapa 20 Orang Penjelasan pasal 6 UU 25/ 1992 menyebutkan alasannya karena masalah kelayakan usaha. Mari kita rekonstruksi kondisi pada saat undang-undang itu lahir. Tahun 1990an kondisi ekonomi Indonesia sangat ...

Dunia Banyak Belajar dari "Chicken Soup":

dari DiaryBlog ke JournalBlog Oleh: Firdaus Putra A. Anda pasti pernah membaca buku Chicken Soup Series pada sekuel hidup tertentu, bukan? Saya membaca buku seperti itu saat duduk di bangku SMA. Cerita-cerita di dalamnya sungguh inspiratif dan membangkitkan semangat. Seringkali, cerita di dalamnya adalah true story , meski tidak harus succes story . Di Indonesia, tetralogi Laskar Pelangi yang dihelat Andrea Hirata bisa digolongkan dalam konteks serupa. Laskar Pelangi dengan kisah pilu dan heroiknya, merupakan teladan nan inspiratif bagaimana si Hirata kecil berusaha menggapai mimpinya ke Paris. Oleh komunitas penulis, buku itu dikategorikan sebagai literary non-fiction . Yakni sebuah karya sastra yang berbasis kisah nyata (non-fiksi). Di luar negeri, banyak buku kisah yang kaya inspirasi serupa Chicken Soup . Salah satu penulis yang termasyhur adalah Paulo Coelho dengan The Alchemist nya. Buku itu berkisah bagaimana seseorang (Santiago) yang ingin mencari dan membangun Per...