Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April 20, 2008

Keterbukaan Sikap

Oleh: Firdaus Putra A. Saya terenyuh ketika membaca surat-surat yang dikirim Antonio Gramsci kepada keluarganya. Bukan lantaran cerita sedih hidup dipenjara. Tapi lebih karena surat itu berkisah tentang apa yang dilakukannya untuk tetap menenangkan, dan secara tak langsung mendidik keluarganya. Seperti ketika kemenakannya mengirim surat, Gramsci membalasnya dengan kritis. Ia mengomentari, kenapa tulisan tangannya masih buruk. Padahal sekarang sudah dua tahun berlalu. Artinya si kemenakan sudah beranjak kelas lima sekolah dasar. Juga terlihat ketika ia membalas surat kakaknya yang kedua, adik iparnya dan keluarga lainnya. Ia menegaskan bahwa kita harus tangguh, kuat. Penjara hanyalah salah satu dari konsekuensi perjuangan. Tidak ada yang salah atau memalukan. Seorang intelektual sebesar Gramsci tetap memperhatikan detail-detail yang kecil dan halus. Ia tidak melupakan untuk mendidik dan menguatkan keluarganya di tengah-tengah fisiknya yang semakin rapuh di penjara. Perjuangan p...

Ke-liyan-an Santy

Salah Kostum atau Memang Beda? Oleh: Firdaus Putra A. Siang itu saya bertemu Santy. Seorang teman asli Lampung. Kami bertemu di resepsi pernikahan Natiq, satu kelas dengan Santy. Ia melontarkan satu hal yang menggelitik, “Waduh, aku salah kostum neh”. Ia mengenakan baju terusan. Berlengan pendek. Dan dengan rok yang hanya setungkai. Sedangkan perempuan lain, ibu-ibu atau cewek-cewek, hanya satu dua orang saja yang tidak mengenakan kerudung. Semuanya berbusana muslimah. Dulu memang Santy seorang muallaf. Ayahnya seorang Nasrani. Saya tidak paham mengapa ia pindah ke Islam. Dan siang itu nampaknya untuk kali pertama ia melihat resepsi pernikahan yang “islami”. Tidak sekedar dari busana tamu undangan, hiburan pun “islami”. Sembari menunggu kedatangan mempelai laki-laki, tamu undangan disuguhi musik khas padang pasir. Gambus. Tidak seperti biasanya, sekedar rebana. Syair yang dilantunkan pun khas gambus. Salah satunya berjudul “Habibi”. Santy berkomentar, “Wah kok bisa sebegitunya...

Selilit, Selulit, & Silit

Oleh: Firdaus Putra A. Kita sama-sama tahu, kalau tiga kata di atas menunjuk pada sesuatu yang tidak menyenangkan. Sayangnya, semuanya kita temukan di tubuh. Tepatnya tubuh sosial kita. Tubuh yang sudah dikonstruk oleh masyarakat, dari nilai, norma sampai adat/kebiasaan. Pada dirinya sendiri, tiga “sesuatu”di atas sama sekali tidak buruk, jorok atau tak seronok. Selilit, apa yang buruk dari selilit? Selilit biasanya lahir dari sisa makanan yang masuk ke mulut kita. Ia menyela-nyelai gigi kita. Ada satu iklan yang pernah mengilustrasikan perempuan yang kedapatan giginya berselilit. Dia malu bukan main. Padahal, selilitan merupakan sesuatu yang alamiah. Selilit menjadi minor, lantaran masyarakat kita memandang bahwa sehabis makan, gii harus tetap bersih. Sangat dimungkinkan konstruksi semacam ini lahir paska manusia menemukan teknologi sikat dan pasta gigi. Teknologi sederhana dalam rangka meng-estetika-kan gigi dan mulut. Lebih memalukan daripada selilit, selulit digunakan oleh...

The Freak of Beautiful

Kado untuk Ke-liyan-an Melly Goeslow Oleh: Firdaus Putra A. Senantiasa saya dibuat heran dengan dandanan Melly Goeslow. Di tiap konser, ada saja gaya barunya. Terbaru (17 April 2008), saat duet dengan Rossa, menembangkan Ayat-ayat Cinta, gaya rambutnya seakan kacau. Warnanya kecoklat-coklatan, gradasi kekuning-kuningan. Tidak lurus atau ikal. Tetapi acak-acakan tak tentu, mirip kribo. Di sela-sela rambutnya, dua asesoris berupa daun warna hijau terpasang. Kanan dan di kiri. Tidak ketinggalan, pakaian pun mengikuti. Pasti Anda juga pernah melihat gaya panggung si Melly. Benarkan, ia tidak seperti artis-artis lainnya? Dari awal ngetopnya, dia tampil dengan gaya rambut, kostum yang bisa dibilang nganeh-nganehi. Kadang norak. Atau justru modis. Entah madzhab fashion mana yang ia ikuti. Jepang, Perancis, atau justru ia merupakan pendiri madzhab fashion yang lain? Jika ada waktu bertemu, ingin sekali saya bertanya alasan apa yang melatari gaya nganeh-nganehinya itu. Apakah hanya seke...