Oleh: Firdaus Putra A. Saya terenyuh ketika membaca surat-surat yang dikirim Antonio Gramsci kepada keluarganya. Bukan lantaran cerita sedih hidup dipenjara. Tapi lebih karena surat itu berkisah tentang apa yang dilakukannya untuk tetap menenangkan, dan secara tak langsung mendidik keluarganya. Seperti ketika kemenakannya mengirim surat, Gramsci membalasnya dengan kritis. Ia mengomentari, kenapa tulisan tangannya masih buruk. Padahal sekarang sudah dua tahun berlalu. Artinya si kemenakan sudah beranjak kelas lima sekolah dasar. Juga terlihat ketika ia membalas surat kakaknya yang kedua, adik iparnya dan keluarga lainnya. Ia menegaskan bahwa kita harus tangguh, kuat. Penjara hanyalah salah satu dari konsekuensi perjuangan. Tidak ada yang salah atau memalukan. Seorang intelektual sebesar Gramsci tetap memperhatikan detail-detail yang kecil dan halus. Ia tidak melupakan untuk mendidik dan menguatkan keluarganya di tengah-tengah fisiknya yang semakin rapuh di penjara. Perjuangan p...