Oleh: Firdaus Putra Bus melintas persis beberapa sentimeter di sebelah kanan saya. Dan di kiri, mobil dengan kecepatan yang hampir sama seolah mengimbangi lajunya. Dan saya berada di antara dua makhluk besar itu. Dalam kecepatan tinggi, saya sempat berpikir bagaimana kacaunya kita menghayati ruang dan waktu. Seharusnya saya menghayati sebuah ruang-waktu. Namun, dalam kecepatan tinggi itu, saya hanya sempat menghayati waktu minus ruang. Ruang berganti sepersekian detik di depan mata. Sehingga sulit mengatakan saya berada “dimana”. Pada detik ke lima, saya sudah berada di depan mobil dan bus tadi. Saya tak lagi berada di antara ruang yang dihimpit mobil dan bus. Pada detik kesekian saya sudah berada di ruang yang nyaris lengang. Tak ada yang menghimpit lagi, yang ada adalah jalan raya sebagaimana mestinya. Dalam sebuah perjalanan ruang menjadi kabur. Ruang menjadi serupa slide show yang diputar dengan kecepatan tinggi. Tak ada jeda atau spasi. Melainkan pergantian susul-menyusul ...