Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September 18, 2016

Praktika yang Imanen

Oleh: Firdaus Putra, HC. Saya punya seorang teman yang gemar berbuat baik. Dia sering support berbagai komunitas/ kelompok sosial dalam isu apapun: perdesaan, pertanian, IT, koperasi, komunitas kreatif dan terakhir, korupsi. Suatu tempo yang bersangkutan mengajak saya untuk ikut Kopi Darat komunitas pertanian. Ia bilang, “Jangan cuma ngurusi koperasi, harus yang lain juga dong”, sindirnya. Saya jawab pesan WA dia saat itu, “Praktik yang saya lakukan itu kan imanen ”. Saya tak bisa asal grudug sana grudug sini hanya dengan jargon berbuat baik, karya sosial, membantu sesama dan seterusnya. Untuk sampai saya pada isu atau masalah tertentu, saya harus mengalaminya sebagai bagian keberadaan (karya-pekerjaan-aktivitas) saya saat ini. Sehingga saya tak bisa tiba-tiba bicara isu pendidikan, meskipun, itu hal yang baik. Itulah yang saya sebut sebagai kesadaran dan praktika yang imanen. Yakni sebuah kesadaran dan praktika yang menjejak pada kedirian kita dengan derajat proksimit...

Teologi Pembebasan

Oleh: Firdaus Putra, HC. Suatu tempo saya diundang Bappeda Banyumas menjadi salah satu pembicara dalam diskusi bersama kelompok perajin gula. Lalu Pak Jaka menyilahkan saya. “Saya kembali ingat sekira satu tahun lalu ketika masuk ke Ketanda, Sumpiuh ….”. Tiba-tiba tenggorokan saya tercekat dan saya menangis. Saya berusaha melanjutkan, namun tak juga suara keluar. Lalu saya minta Mas Edy yang mengisahkan. Hal serupa terjadi sekitar dua tahun lalu sepulang dari Ketanda untuk kali pertamanya. Pasca melakukan Analisis Sosial-Ekonomi bersama sekira 20  penderes  di sana, saya tak bisa tidur sampai pagi hari. Pagi itu saya begitu marah dan menangis di kamar kos. Saya begitu sulit menerima kenyataan bahwa ada pekerjaan dengan resiko yang begitu besar: patah tulang atau mati ketika jatuh dari pohon kelapa. Belum lagi, penghisapan yang begitu sistematis dari para tengkulak yang terjadi puluhan tahun lamanya. Pagi hari itu saya menulis status di Facebook mengisahkan bagaim...

No Pain No Gain

Oleh: Firdaus Putra, HC. Awalnya saya begitu tak percaya, “Saya itu kadang sama sekali tidak megang uang lho. Dan itu sudah biasa saja. Jadi kadang saya geli bila ada orang ngeluh”, kata salah satu mentor saya. “Serius?”, tanyaku. “Serius. Demi Allah”. Apa yang membuat saya takjub adalah bagaimana ia melalui hari tiap hari dengan tenang. Dulu saya bayangkan paling tidak seluruh biaya-biaya untuk dirinya dan rumah tangganya sudah tercukupi dari kerjaan tetapnya. Belum lagi ditambah aktivitas lain yang secara langsung atau tidak, mendatangkan pemasukan. Namun ternyata persepsi saya keliru selama ini. Bagaimana tidak, dengan kapasitasnya dan jabatan top management di perusahaannya, hal itu harusnya tidak terjadi. Lantas ia kembali mengingatkan, “Dulu saya pernah cerita kan bagaimana tiap bulan saya harus menutup hutang puluhan rupiah gegara bisnis saya hancur. Dan mengangsur itu masih saya lakukan sampai sekarang. Jadi sudah biasa saja kadang saya tak megang uang sama sek...