Oleh: Firdaus Putra A. Saya bayangkan beberapa bulan setelah film “Menculik Miyabi” dirilis, teman-teman kecil saya yang duduk di SD, teman-teman remaja yang duduk di SMP dan SMA dengan girang akan saling bertanya “Sudah nonton Miyabi?”. Ada dua kemungkinan yang mereka maksud dengan pertanyaan itu, pertama sudahkah menonton film “Menculik Miyabi” atau sudahkah menonton film porno Miyabi. Kemanapun pertanyaan itu berlabuh, nama Miyabi akan lebih santer diucapkan dibanding sebelumnya yang hanya ditemukan di pojok kamar gelap, bilik warnet atau disela cekikikan penikmat film porno. Sungguh saya penasaran mengapa Maxima Picture —rumah produksi yang akan menghelat film itu—mendatangkan Miyabi meski dengan ongkos yang besar. Secara ekonomis, mungkin mereka sudah menghitung Miyabi akan menaikan tingkat penjualan film sampai derajat tertentu. Ini sebanding dengan prinsip ekonomi, bahwa keuntungan harus lebih besar daripada ongkos produksi. Besarnya keuntungan dalam industri film tentu saja...