Oleh: Firdaus Putra A. Seperti kalian, saya pernah mengikuti training ESQ. Saya angkatan ke-14. Bedanya, kalau tak salah, kalian membayar Rp. 320.000 sedang saya Rp. 1000.000 untuk kelas dosen dan guru. Syukurnya, saya digratiskan oleh pihak ESQ Purwokerto. Saat itu, hanya saya sendiri peserta training yang berstatus mahasiswa. Saya pikir tak ada perbedaan materi yang saya peroleh dengan materi training kalian. Tekniknya pun sama. Kalian masih ingat, LCD layar lebar, ruang yang dingin dan temaram, juga sound system yang menggelegar itu, masih ingat kan? Suasana seperti itu juga yang ditangkap oleh Daromir Rudnyckyj, antropolog dari University of Victoria. Dalam artikelnya dia melukiskan, “The sound in the hall was sometimes elevated to ear-splitting volume and the lights in the room were manipulated to maximize the dramatic effects of the points made. Further, the air conditioning was turned to its lowest setting”. Saya rasa kalian juga masih ingat dengan “Selamat Pagi!”, atau “B...