Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni 21, 2009

Menyayur Bayam

Oleh: Firdaus Putra A. Siang tadi aku masak sayur bayam. Kalau orang Jawa biasanya bilang sayur bening. Mungkin Anda bertanya-tanya, iseng banget masak sayur bayam? Beli saja lebih pratis. Atau Anda menduga kalau saya kebanyakan nonton film Popeye. Begini ceritanya, kemarin siang saat perut lapar dan mau makan di warung sebelah ada ibu penjual sayur keliling. Mungkin karena sedang lapar, rasanya ingin sekali makan sayur-sayuran. Aku lihat dan tanya berapa harganya satu set bayam untuk disayur. Si ibu tertawa dengar pertanyaanku, “satu set”. Yang kumaksud itu bayam lengkap dengan bumbu-bumbunya untuk sekali masak. Harganya murah, Rp. 2000 sudah termasuk seikat bayam yang banyak sekali, satu wortel, bawang merah, bawang putih, daun bawang, kencur dan daun seladri. Nah sampai kos ternyata ada yang kelupaan, air PAM diblokir dari hari kemarin karena tiga bulan belum bayar. Maklum anak kos. Hehehe. Jadinya si bayam tidak kumasak langsung. Hari ini nampaknya waktu mendukung. Tidak ada ...

"Jalan Kesehatan"

Oleh: Firdaus Putra A. Tadi petang saya iseng mencicipi “Jalan Kesehatan” di kampus FISIP. “Jalan Kesehatan” itu sepanjang 20 meter dengan batu koral/ kerikil di atasnya. Saya lepas sandal. Mulailah langkah pertama dengan hati-hati. Rasanya tidak sesakit yang saya bayangkan. Bolak-balik saya berjalan di tengah kampus yang sepi itu. Kalau tak salah ada 10 menit saya mencicipinya. Kesimpulannya, setelah itu kaki terasa ringan dan plong! Saya pernah dengar sehatnya jalan di atas bebatuan atau kerikil. Ibu dulu pernah melakukannya secara rutin di kala pagi berjalan telanjang kaki di jalan desa yang belum teraspal. Konon katanya berjalan di atas kerikil/ bebatuan/ koral merupakan salah satu teknik pijak refleksi pada syaraf-syaraf kaki. Saat di Madinah, Ayah juga menggunakan sandal kayu yang “berduri-duri” dan membawanya ketika pulang. Sebenarnya dulu saya sering jalan kaki. Dari kos ke kampus. Kampus ke kos teman. Kampus ke fakultas lain dan seterusnya. Sampai-sampai kalau sekarang i...

Cinta dalam Sepotong Roti

Oleh: Firdaus Putra A. Ada tiga lakon dalam novel itu, Harris, Mayang dan Topan. Mereka tiga sekawan semenjak kanak hingga dewasa. Seperti masa kanak lainnya, Mayang demen pengantin-pengantinan. Si Harrislah yang jadi pengantin pria-prian. Sedang Topan, sebagai penghulu dan penyedia berbagai perlengkapan pengantin-pengantinan. Begitulah, Fira Basuki membuka novelnya dengan kisah kocak itu. Tiga anak kecil yang bermain-main dengan kesakralan. Saat mereka bertiga sama dewasa, pengantin-pengantinan menjadi nyata bagi Harris dan Mayang. Ia menikah dengan pangeran itu, pangeran yang baik terhadap dirinya. Sayangnya, si pangeran pujaan hati tak mengerti betul perasaannya sebagai perempuan. Salah satunya, perasaan perempuan saat di ranjang. Mengeluh pada angin, Mayang mengatakan: Angin, angin. Jangan sampaikan. Pada ia atau yang lain. Aku bermain sendirian. Duduk di lantai. Ditemani kegelapan. Bermesraan. Sendirian. Dengan tangan. Milikku sendiri, yang perempuan. Kesepian. Ke...