Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret 3, 2013

The Day of Music

Oleh: Firdaus Putra Saya akan ajak Anda ke era 70an dimana Yesterday, Let it be jadi lagu favorit masa itu. Era itu kita kenal sebagai New Age. Era dimana individualisme akut dan masyarakat mengalami kegersangan secara sosial pun spiritual. Dan The Beatles, pelantun Yesterday itu, adalah anak zaman New Age.                                                          Lagu-lagunya bernuansa kebajikan, spiritualisme dan reflektif. Memang betul, mereka ingin mengembalikan kegairahan hidup pada kedalaman makna. Bukan sekedar lagu pop picisan.                                                                    Di Indonesia boleh jadi visi The Beat...

Tentang Pengabdian

Oleh: Firdaus Putra Saya lebih suka menyebutnya dengan “pengabdian” daripada “pemberdayaan”. Yang pertama mengisyaratkan bahwa pengabdi itu “lebih rendah” daripada yang diabdi. Yang diabdi tentu saja yang saya maksud adalah masyarakat. Oleh karenanya jadi benar, bahwa posisi masyarakat “lebih tinggi” daripada individu.                      Sedangkan “pemberdayaan” mengesankan bahwa masyarakat itu “tak berdaya”. Dan posisi pemberdaya tentu saja jadinya lebih tinggi. Kalau kita translasi ke bahasa Inggris, jadilah pemberdayaan itu dari “yang powerfull kepada yang powerless”.                                                     ...

Amor fati

Oleh: Firdaus Putra Berkata “ya” pada kehidupan, itulah terjemah bebas dari amor fati. Sebuah sikap penerimaan atas segala ihwal yang kita alami. Artinya menerima keadaan baik   suka-cita pun juga duka-cita.                                                 Amor fati mengajarkan hidup untuk senantiasa mencintai kehidupan berikut pernak-perniknya. Bukan sikap kekanak-kanakan yang “ya” pada suka-cita dan “tidak” pada duka-cita. Melainkan, keduanya.                       Namun, amor fati tak sama dengan menerima nasib begitu saja. Justru sebaliknya, di dalamnya terkandung makna proses “menjadi” yang terus-menerus (on being process). Karenanya, amor fati adalah sikap ketegaran di satu sisi dan optimisme di sisi lain.              ...

Guerin and Miss Lee

Oleh: Firdaus Putra Akar sejarah Hari Ibu di Indonesia lebih menarik dibanding di Eropa, misalnya. Di sebagian Eropa, Mother’s Day merupakan pengaruh dari tradisi Yunani pada pemujaan Dewi Rhea, ibu segala dewa.                            Sedang di Indonesia, sejarah hari ibu terkait erat dengan perjuangan perempuan dalam kemerdekaan republik ini. Sampai akhirnya pada 1959, Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden No. 316, bahwa 22 Desember sebagai Hari Ibu.                                                                   ...

Altruisme

Oleh: Firdaus Putra Soal altruisme sebenarnya saban waktu kita tonton. Misalnya melalui film-film genre Super Hero produksi Hollywood. Mulai dari Superman, Batman, Cat Woman, Iron Man dan tentu saja si Manusia Laba-laba. Semuanya berkisah ihwal pengorbanan untuk sesuatu yang dianggap mulia.                                                                                        Meski tren film Super Hero itu berkembang di Amerika sana, Robert N. Bellah dan Mac Intyre justru menemukan potret masyarakat moderen yang begitu individualis. Ada sekat sosial antara satu dengan individu yang lain. Sebagai anekdot, tak perlu berlelah teriak-teriak minta bantuan tetangga saat ada kejadian tertentu. Mereka cukup menekan 911 dan polisi akan datang.   ...

Siapa Kamu?

Oleh: Firdaus Putra Jika ditanya, “Siapa kamu?” banyak orang menjawab, “orang Jawa”, “orang Kristen”, “aktivis”, “mahasiswa” dan lainnya. Sedikit yang dengan spontan menjawab “orang Indonesia”.                                                                                 Pertanyaan itu memanggil ingatan tentang kedirian seseorang. Dan banyak orang tentu lebih ingat pada sesuatu “yang dekat” dengan dirinya. Ingatan tentang suku, agama, jenis kelamin atau kelas sosial tertentu. Dan “Indonesia”, nampaknya sesuatu “yang jauh”.            ...

Dare to Think!

Oleh: Firdaus Putra Sampai saat ini, saya merasa hanya baru beberapa kali berpikir secara serius. Serius dalam arti bahwa hasil pikir tersebut punya konsekuensi logis jangka panjang.                                                                   Misalnya, dulu saya memilih pindah sekolah saat kelas tiga SMA atas kemauan sendiri; Kemudian pilihan jurusan saat kuliah; Organisasi atau idealisme; Pilihan pekerjaan dan beberapa lainnya. Sisanya lebih sering let it flow.   Dulu saat hanyut dalam aktivitas kampus, orang tua sering bertanya kapan saya lulus. Dan saya masih ingat betul untuk jawab itu saya tulis surat yang kurang-lebih isinya pinta mereka tak perlu risau.                                       ...

Titik Balik Kebebasan

Isaiah Berlin, seorang filsuf, mendefinisikan kebebasan menjadi dua macam. Pertama adalah “bebas dari” dan kedua “bebas untuk”. Yang kedua menyaratkan adanya yang pertama. Karena yang pertama itu dasar bagi segala sesuatu.              Momen 45 membuat Indonesia bebas dari penjajahan, penindasan, kekangan, rasa takut dan seterusnya. Alhasil, bangsa ini menjadi bebas untuk “Membentuk suatu pemerintahan yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia; Memajukan kesejahteraan umum; Mencerdaskan kehidupan bangsa; Dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.                                                       ...

Greget Jadi Malaikat

Oleh: Firdaus Putra Di antara pemimpin perdana negeri ini, Bung Hatta adalah seorang pejuang sekaligus pemikir. Tak sedikit buku yang ia tulis. Salah satunya soal “Pengantar ke Jalan Ekonomi Sosiologi”. Dulu buku ini adalah pegangan mata kuliah Sosiologi Ekonomi.                                           Memang beliau sangat concern pada masalah pendidikan. Jika masih ingat, salah satu debat antara beliau dengan Bung Karno, juga pada isu itu. Bung Hatta ingin rakyat cerdas dulu baru merdeka. Sebaliknya, Bung Karno bilang, yang penting merdeka dulu baru upayakan pendidikan untuk mereka.                                 ...

Change!

Oleh: Firdaus Putra There is nothing permanent except change , kata Heraclitus, 500 tahun SM. Menariknya, tak semua perubahan berimbas baik. Namun tanpa perubahan, apa yang baik tak mungkin terwujud. Itulah premis soal perubahan. Ada resiko di sana. Bukan semata slogan, melainkan kalkulasi kenyataan dan harapan.              Persoalannya, banyak orang lebih suka kemapanan. Perubahan jadi sejenis ancaman atas zona nyaman. Karena memang begitulah perubahan, tak selalu janjikan keselamatan. Ia tak mewujud bagai Ratu Adil, melainkan laku yang butuh keberanian dan ketekunan. Keberanian pada saat awal melemparnya dan ketekunan untuk mewujudkan sesuai tahap-tahapnya.                                        Prof. Rhenald Kasali dala...