Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari 22, 2009

Cabe Kakus

Oleh: Firdaus Putra A. Melihat foto ini Anda sedang tidak berpikir kan kalau saya yang menanam cabe itu? Memang benar, saya dan teman-teman penghuni kos lainnya tak pernah menanam pohon itu. Pohon cabe itu sudah beberapa bulan tumbuh subur tanpa gangguan di kayu rangka pintu salah satu kakus kos saya. Hebatnya, pohon itu berbuah dengan ranum. Saya hitung ada delapan buah cabe ijo segar bergelantungan dengan bebas. Mari kita imajinasikan, bagaimana kiranya si pohon bisa mangkal di kayu rangka pintu kakus kos saya. Sekenario pertama, seorang teman cuci tangan di kran air dekat kakus sehabis menikmati makanan bersambal. Saat itu ada sebiji cabe yang nyelip di sela-sela jari. Air yang cukup kencang melempar si biji itu dan mendarat tepat di kayu itu. Ini masuk akal, bukan? Atau sekenario kedua, seorang teman berkumur-kumur lantaran kepedasan sambal cabe ijo. Tanpa sengaja atau karena memang jorok, ia memuntahkan air kumuran itu ke kayu rangka pintu kakus itu. Dibantu sisa makanan da...

Pringgolayan

Oleh: Firdaus Putra A. Rumah itu cukup, cukup kecil. Ukurannya hanya 3 x 4 meter. Di lantai pertama perkakas masak, bumbu dapur, pakaian kotor, almari makan, gelas-piring, dan berbagai barang lainnya tertata tak begitu rapih. Di pojok ruangan, dekat pintu, ada sekat dinding membentuk bidang L yang nampak seperti “kamar mandi”. Tidak ada daun pintunya. Bidang L itu barangkali hanya berukuran 50 x 50 cm. Ada tumpukan piring-mangkok kotor. Juga rendaman pakaian di ember kecil serta air di dua ember kecil. Dinding ruangan itu belum disemen. Terlihat jelas kotak-kotak batu bata nan merah. Beberapa sisinya terpasang poster atau kalender caleg-caleg daerah Solo. Sedang atapnya, adalah kayu papan yang ditata berjajar setinggi, mungkin, dua meter. Di sudut ruang terlihat anak tangga permanen dari balok-papan kayu. Tangga itu menuju lantai dua. Di lantai dua inilah bidang papan yang berjajar berubah menjadi lantai. Di atasnya kasur atau yang pasti alas tidur berikut bantal dan selimut ber...

Riset dan Hipnotis

Oleh: Firdaus Putra A. Kadang saya berpikir jahil. Misal, bukankah apa yang dikehendaki dari riset lapangan adalah sebuah jawaban yang jujur? Dengan jawaban jujur dari responden ini, maka realitas bisa terbaca dan terpetakan secara utuh. Jawaban jujur dari responden menjadi basis fundamen dari sebuah riset itu sendiri. Dalam rangka memperoleh jawaban-jawaban itu, disusunlah sebuah metode riset yang ketat. Ada uji validitas dengan berbagai cara; sumber, metode, peneliti. Atau triangulasi dari berbagai segi atau momentum. Riset kurang-lebihnya nampak sebagai cara untuk “menginterogasi” dalam rangka memperoleh pengetahuan yang benar. Nah, pikiran jahil saya bermula dari hal itu. Jika benar riset dalam rangka memperoleh pengetahuan yang benar dari jawaban-jawaban responden, mengapa tidak digunakan saja pendekatan hipnotis. Saya belum pernah merasakan dihipnotis. Hanya saja, menurut berbagai informasi seseorang yang dihipnotis dengan sendirinya akan berkata jujur. Apa-apa yang ada di...