Oleh: Firdaus Putra “Langit dan bumi bertemu pada tapal batas horizon di laut nun jauh” Saya akan menyebutnya pernikahan multikultural. Misalnya, seorang Indonesia bersuku bangsa Jawa menikah dengan orang Hongkong bersuku bangsa China. Yang satu beragama Islam dan yang lain beragama Kristen. Yang satu berasal dari keluarga menengah-bawah dan yang kedua berasal dari kelas atas. Yang Indonesia hidup di kota kecil dan yang Hongkong hidup di pusat metropolitan Asia, Singapura. Ya, demikianlah saya akan menyebutnya untuk mendeskripsikan tentang pernikahan yang latar belakang pasangannya multi background. Perbedaan itu begitu beragam. Membentang hingga menjadi “different list” yang bisa disusun dari angka satu dan seterusnya. Dan pada ketertarikan emosionallah mereka bertemu dan memadu kasih. Inilah dunia kehidupan yang sangat alamiah. Dimana perasaan cinta yang merupakan manifestasi dari rasa kemanusiaan melampaui tapal batas apapun. Pertanyaannya, bagaimana semua perbedaan itu da...