Dear Gita Gutawa, Kapur putih yang pucat, terasa penuh warna. Dan kelak ia enggan datang pun berpinang. Kertas putih yang pudar, tertulis seribu kata. Dan kuungkap semua yang sedang kurasa. Dengarkanlah kata hatiku, bahwa ku ingin untuk tetap di sini. Tak perlulah aku keliling dunia, biarkan ku di sini. Tak perlulah aku keliling dunia, karena ku tak mau jauh darimu. Dunia boleh tertawa, melihat ku bahagia. Walau di tempat yang kau anggap tak biasa. Biarkanlah aku bernyanyi, berlari, berputar, menari di sini. Tak perlulah aku keliling dunia, karena kau di sini. Tak perlulah aku keliling dunia, kaulah segalanya bagiku di dunia. Sahabatku Gita, pandanganmu masih saja sama seperti beberapa tahun yang lalu. Kamu benar-benar sosok yang romantis. Kamu sangat pandai menghayati masa lalu. Namun, Gita apakah kamu yakin akan senantiasa hidup dalam lingkaran itu? Gita yang baik, hari ini aku juga kamu hidup di zaman yang oleh para Sosiolog sebut era modern. Masa dimana bumi semakin menyempi...