Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September 14, 2008

Menangis

Oleh: Firdaus Putra A. Tak ada manusia yang tak pernah menangis. Di hari awal ia lahir ke dunia, tangis merupakan pertanda nan membahagiakan semua orang. Awal kehidupan bermula dengan tangis. Tak kecuali akhir kehidupan. Berbeda di awal, akhir kehidupan sanak famililah yang menangis. Menangis merupakan aktivitas yang alamiah. Mungkin tanpa tangis, manusia kurang lengkap kemanusiaannya. Tanpa tangis, akan ada ekspresi perasaan yang hilang. Tangis merupakan kulminasi dari perasaan manusia. Terlalu bahagia ia akan menangis. Terlalu sedih juga akan menangis. Tangis tidak memandang jenis kelamin. Laki, perempuan, transkelamin, semuanya bisa menangis. Tangis adalah kodrat. Ia ditakdirkan lekat dengan manusia yang dhaif ini. Kedhaifan kitalah yang membuat kita lebih banyak menangis karena sedih daripada bahagia. Tangis merupakan sebentuk tanda kelemahan. Sedang tanda merupakan hasil konstruksi manusia. Saya sering menangis. Artinya saya tak malu atau tak segan untuk menangis. Saat se...

Bookholic

Oleh: Firdaus Putra A. Melekatkan “holic” pada kata “book” akan terbayang sosok manusia dengan kacamata tebal, potongan rambut cupu dan model baju yang a la kadarnya. Mungkin inilah makna “bookholic” yang pertama, kutu buku. Entah dari mana asal muasal peribahasa “kutu buku” untuk melukiskan orang yang gemar membaca buku. Aktivitas membaca menjadi cukup peyoratif dengan peribahasa itu. Jadilah orang tidak mau menjadi “kutu buku” khawatir lama-lama ia akan menjadi “kutu busuk”. Atau ada makna lain dari “bookholic” ini, yakni kegemaran membeli buku. Modusnya hampir sama dengan “shopaholic”, merujuk pada orang yang gemar berbelanja. Hingga muncul juga sebuah tempat di Yogyakarta, “shoping center”, pusat perbelanjaan buku. Pada makna yang kedua ini, bisa jadi aktivitas membeli buku sedikit bergeser dari tujuan semula, dalam rangka mengkoleksi untuk kemudian membacanya. Maksudnya, dengan membeli atau belanja buku orang memperoleh kepuasan tersendiri. Mirip dengan aktivitas belanja ket...

Savoir/Pavoir a la Foucault

Oleh: Firdaus Putra A. Diskursus (discourse) merupakan satu konsep yang dibahas secara panjang lebar oleh Foucault. Konsep ini mengacu pada cara menghasilkan pengetahuan, beserta praktik sosial yang menyertainya, bentuk subyektivitas yang terbentuk darinya, relasi kekuasaan yang ada di balik pengetahuan dan praktik sosial tersebut, serta saling keterkaitan di antara semua aspek tersebut.[1] Konsep tersebut merujuk pada kondisi-kondisi dimana suatu pengetahuan, peraturan, norma, nilai, dan sebagainya terbentuk. Foucault melihat bahwa proses produksi itu semua bersifat tidak bebas nilai (not value free). Penelusurannya yang cukup fenomenal adalah praktik (perbincangan) seksualitas ditabukan oleh masyarakat. Dalam bukunya, Seks dan Kekuasaan: Sejarah Seksualitas, Foucault menelusuri praktik pentabuan seks mulai zaman Victoria. Menurutnya, pada awal abad ke-17 seksualitas tidak ditutup-tutupi. Kata-kata bernada sesk dilontarkan tanpa keraguan, dan berbagai hal menyangkut seks tidak di...

Tiga Undangan

Oleh: Firdaus Putra A. Pagi ini (17/09/2008) saya menerima SMS dari Bung Wilson. Isinya undangan buka bersama Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) di Kantor Dewan Pers. Rencananya diadakan hari Sabtu, 20 September mendatang. Pukul tiga dini hari tadi, saya menerima SMS dari Kang Suroto. Isinya sama, undangan buka bersama Boersa Kampus (BK) di Restoran Seafood Asiatic. Harinya juga sama, Sabtu 20 September mendatang. Tentu jam dan maghribnya juga sama. Beberapa hari yang lalu saya memperoleh SMS dari pengurus Ikatan Mahasiswa Pekalongan-Batang (IMAKABA). Isinya sama dengan dua SMS di atas, undangan buka bersama sewarga Pekalongan. Waktunya sama, Sabtu 20 September mendatang. Tempatnya di Gedung SKB Purwokerto. Memang bulan Ramadhan musimnya buka bersama. Tak ada buka bersama selain di bulan ini. Puasa sunah di bulan Haji pun, teman atau rekan-rekan tak berhasrat untuk menggelar buka bersama. Namun saat Ramadhan, buka bersama menjadi salah satu agenda kegiatan. Banyak orang ...

Pelaku, Korban & Keadilan

Oleh: Firdaus Putra A. Beberapa minggu yang lalu saya mendengar cerita tentang kasus pencurian yang dilakukan anak kos. Ironisnya, si pelaku adalah seorang mahasiswi. Sebut saja, Nurani. Nurani dengan berani mengambil uang teman sekosnya. Jumlahnya memang tidak terlalu besar, sekitar 150.000. Yang menarik, kasus itu cepat diendus oleh penghuni kos. Proses pengendusan dilakukan, yang konon katanya, menggunakan penginderaan batin (ya ... mirip para normal gitu lah). Meski demikian, hasil penginderaan hanyalah hipotesis. Sifatnya sekedar menduga atau menunjukan gejala. Diperlukan langkah atau tindakan lain untuk membuktikan bahwa Nurani adalah pelakunya. Pendekatan seperti ini memang sering kita jumpai di masyarakat Indonesia, khususnya Jawa. Kita kenal praktik “puter giling”, dimana dengan ilmu atau mantra tertentu pelaku akan merasa kebingungan dan mengembalikan secara tidak sadar barang yang sudah diambilnya. Saat itu, ia berada dalam kuasa energi lain di luar kontrol tubuhnya. ...

V i r u s

Oleh: Firdaus Putra A. Dua hari terkahir (16/09/2008) saya harus berjibaku dengan virus. Menurut Mc Afee, virus itu teridentifikasi sebagai Win 32 Sality. Berbeda menurut AVG 8.0, nama virusnya Win 32 Heur. Terlepas dari identitas si virus, seumur hidup baru sekali ini saya menemukan virus sejahat itu. Modusnya sederhana. Ia menginfeksi flashdisk dengan membawa dua sel utama, Autorun.inf dan satunya lagi berganti-ganti nama. Selepas menginfeksi, dua sel itu tak bisa di-delete. Bahkan untuk diformatpun tak bisa. Bila kecolongan dan tak terpindai oleh anti-virus, maka bersiaplah komputer Anda jadi kandang ternaknya. Menggunakan AVG 8.0 harddisk saya terpindai 257 virus; Win 32 Heur dan Win 32 Tanatos. Sedangkan dengan menggunakan Mc Afee, komputer pacar saya terpindai lebih dari 700 virus. Parahnya, virus ini menyerang file system yang berekstensi .exe. Tentu saja file itu merupakan file aplikasi program. Seluruh copy master program saya menjadi rusak (corrupt). Dan sebagian yang ...

Lebih Produktif

Oleh: Firdaus Putra A. Para pengkhotbah menyampaikan ke kita, janganlah bermalas-malasan ketika bulan puasa tiba. Bahkan kalau bisa, lanjutnya, kita harus lebih produktif dari bulan selainnya. Puasa adalah bulan riyadloh, melatih disiplin, keimanan, juga ketahanan fisik. Sampai tanggal ini, 9 September 2008, kita sudah memasuki hari ke sembilan bulan puasa. Bisa kita sebut sebagai minggu pertama bulan puasa. Minggu dimana tubuh, ritus keseharian mengalami goncangan. Di situ pula, kita harus melakukan re-schedulling segala tetek-bengek kehidupan. Sarapan tadinya pukul enam atau tujuh, saat puasa diawalkan tiga-empat jam. Makan tadinya tiga kali. Di bulan ini, hanya dua kali (belum terhitung cemilan atau snack dan ta’jilan). Tidak hanya makan, tidur pun berubah. Bagi yang jarang qiyamullail, bulan puasa memberikan pengalaman baru. Udara dini hari yang dingin menusuk kulit. Bangun tidur, yang rasanya begitu rupa malasnya. Langsung makan sehabis bangun tidur. Serentetan ritual baru ...

Tanda Baca

Oleh: Firdaus Putra A. Pernahkah Anda ribut dengan pacar gara-gara tanda baca? Baru-baru ini saya mengalami. Pacar saya mengirim SMS, “Mas sms Ridwan ya?” Kalau kita membaca SMS itu secara tekstual, maka pacar saya sedang menanyakan apakah saya mengirim SMS ke Ridwan. Sayangnya, saya membacanya secara kontekstual. Beberapa kali sebelumnya (bahkan sering) pacar saya mengirim SMS, seperti ini, “Aku sudah bilang berapa kali mas, jangan ikut campur masalahku?” atau seperti ini, “Mas besok ke kampus yuk?” dan sebagainya. Mungkin yang dimaksud adalah “Aku sudah bilang berapa kali mas, jangan ikut campur masalahku!” atau “Mas besok ke kampus yuk.” Nah, ketika menerima SMS “Mas sms Ridwan ya?”, saya menduga kalau pacar saya sedang salah mengetik tanda baca. Dimana tanda tanya yang seharusnya tanda titik. Karena saya memahami SMS itu dengan cara demikian, akhirnya saya mengirim SMS ke Ridwan. Sebelum pacar saya SMS seperti di atas, saya justru tidak berpikir untuk SMS ke Ridwan. Karena s...

Keributan Kecil

Oleh: Firdaus Putra A. Apa yang Anda lakukan ketika suntuk dan kurang semangat? Tidur, nonton TV, memutar musik instrumentalis a la Kitaro, ke persawahan sembari memandang langit, atau lainnya. Saya tidak memilih itu semua. Siang tadi saya bersama pacar justru ke rumah makan, “Kintamani”. Tujuan awal sebenarnya ingin ke “Tantene”. Sayangnya rumah makan berkelas a la mahasiswa itu penuh. Maklum, siang tadi upacara wisuda sarjana S1 dan D3 baru saja selesai. Masuk di Kintamani sengaja saya memilih tempat lesehan. Di depannya ada sedikit areal persawahan. Tempat itu terbuka dan memudahkan lalu-lalang angin segar. Saya pikir, cukup lah untuk mengusir suntuk dan perut lapar. Sembari makan kami ngobrol tentang proses rapat semalam-pagi. Semalam kami mengikuti rapat Writing and Empowering Press ( WE-Press ). Rapat itu dimulai jam tujuh malam (on time) dan selesai jam 3.30 dini hari. Kalau dihitung kami bersembilan rapat selama tujuh sampai delapan jam. Anehnya sama sekali tidak mengant...

Kopi Break

Oleh: Firdaus Putra A. Judul di atas merupakan nama dari salah satu kafe di Purwokerto. Letaknya tak terlalu jauh dari kampus UNSOED, tepatnya di depan GOR Satria. Kafe itu berdiri dengan desain eksterior posmodern. Permainan warna merah, hitam, abu-abu, dan semacamnya. Ditambah posisinya yang bersebelahan dengan Maestro Billiard & Longue, membuat kafe “gaul abis.” Sore itu, jam 15.00, saya pergi ke sana. Bukan dalam rangka nongkrong atau kongkow, tetapi memenuhi undangan diskusi bedah buku. Kalau saya sebut, bisa jadi Anda heran, karena buku yang dibedah berjudul “Neoliberalisme Mencengkeram Indonesia”. Tentu saja menyoal neoliberalisme tak jauh-jauh dari masalah kapitalisme. Dan tentu saja, kafe ditambah pusat biliar merupakan sebentuk modus kapitalisme, ya, life style. Saya duduk di sebelah samping, dekat dengan jalan raya. Sebenarnya suara kendaraan cukup membuyarkan konsentrasi peserta. Tapi, “diskusi berat” di kafe nampaknya bisa mengurangi kesan “berat” itu sendiri. M...