Langsung ke konten utama

Keributan Kecil


Oleh: Firdaus Putra A.

Apa yang Anda lakukan ketika suntuk dan kurang semangat? Tidur, nonton TV, memutar musik instrumentalis a la Kitaro, ke persawahan sembari memandang langit, atau lainnya. Saya tidak memilih itu semua. Siang tadi saya bersama pacar justru ke rumah makan, “Kintamani”. Tujuan awal sebenarnya ingin ke “Tantene”. Sayangnya rumah makan berkelas a la mahasiswa itu penuh. Maklum, siang tadi upacara wisuda sarjana S1 dan D3 baru saja selesai.

Masuk di Kintamani sengaja saya memilih tempat lesehan. Di depannya ada sedikit areal persawahan. Tempat itu terbuka dan memudahkan lalu-lalang angin segar. Saya pikir, cukup lah untuk mengusir suntuk dan perut lapar. Sembari makan kami ngobrol tentang proses rapat semalam-pagi.

Semalam kami mengikuti rapat Writing and Empowering Press (WE-Press). Rapat itu dimulai jam tujuh malam (on time) dan selesai jam 3.30 dini hari. Kalau dihitung kami bersembilan rapat selama tujuh sampai delapan jam. Anehnya sama sekali tidak mengantuk dan sama sekali tidak membosankan. Perdebatan saat itu menurut saya sangat menarik. Khususnya ketika menyoal politik keredaksian. Maklum WE-Press bergerak di bidang penerbitan berita, pers.

Perdebatan mulai menghangat ketika mengkaji satu rubrik sebagai contoh kasus. Saya melontarkan ke pengurus WEP, bagaimana politik keredaksian pada rubrik life style atau fashion? Apakah eksplorasi atau pewartaan kita akan seperti media mainstream yang lebih bersifat informatif an sich? Pasalnya, WE-Press merupakan perpaduan antara pers dalam kerangka jurnalisme warga (citizen journalist), cultural studies, dan koperasi pekerja (worker’s coop). Ya, sebuah usaha pengawinsilangan yang cukup ambisius (dalam makna positifnya tentunya).

Malam itu saya berpendapat agar perspektif kita bukan semata informatif. Karena ketika semata informatif, yakni memblejeti perkembangan fashion atau mode yang sedang “in”, lantas apa bedanya dengan media mainstream? Padahal, seingat saya, semangat yang ingin digulirkan oleh citizen journalist dan cultural studies yakni kritik terhadap otoritas. Sederhananya saya katakan ke Wahyu, bagaimana caranya citizen journalist dan cultural studies memberi “suara bagi yang bisu” yang selama ini tidak pernah terekspos. Sedangkan informasi atau tren berbagai mode, fashion, dan sebagainya, sudah habis-habisan diberi ruang oleh media mainstream.

Tidak ketinggalan saya memberi contoh sinetron di Indonesia yang semakin tak mencerdaskan bangsa. Isinya hanya kisah percintaan berbalut keglamoran, kehidupan mewah, dan tentu saja, “bukan Indonesia banget gitu loch ...” Diperparah dengan berbagai reality show yang benar-benar vulgar dan banal. Misal saja, “HTS”, "Backstreet", “Pacar Usil”, “Playboy Kabel”, “Temu Seleb”, dan sebagainya. Semuanya hanya menjual citra, gaya hidup, impian, yang tak lain sekedar pemuasan hasrat; narsisme, eksistensialime, hedonisme, dan semacamnya.

Sedangkan Gery, teman akrab dan teman diskusi saya, berpendapat biarkan saja mereka menulis apa yang mereka hayati. Ya, ketika mereka menonton sinetron, ketika mereka memakai mode pakaian terkini, dan sebagainya. Biarkan saja mereka bercerita tentang pengalaman itu. Toh, cerita-cerita seperti itu selama ini cukup terpinggirkan. Senantiasa kita mencemooh mereka sebagai yang “belum sadar” dan perlu disadarkan. Poinnya, Gery mencoba mengafirmasi realitas yang sedang terjadi. Dalam bahasa yang lebih bombastis, cukuplah realitas hari ini kita rayakan tanpa perlu mengupayakan ke arah lain.

Saya cukup gusar dengan pendapat itu. Pasalnya, sepengetahuan saya cultural studies tidak sebegitunya dengan melepas-bebaskan realitas. Justru, cultural studies merupakan praktik yang mencoba memblejeti konstruksi apa yang sedang berlangsung. Gery mengafirmasi, sedang saya lebih sepakat dengan merefleksikan realitas. Saya pikir Gery sedang berbicara dalam perspektif posmodernisme yang men-serbaboleh-kan apa saja.

Obrolan itu mendadak terhenti beberapa saat. Di ruang lesehan sebelah saya, seorang gadis berseragam SMA tiba-tiba berteriak. Di depannya, seorang laki-laki, diam membisu. Si gadis, yang menggunakan seragam SMA 2 Purwokerto, mengumpat si laki-laki itu. Beberapa pengunjung yang lain nampaknya juga tersentak heran, kaget, atau bahkan terganggu. Seperti ekspresi bapak-ibu yang sedang makan tepat di samping kami.

Jujur, saya risih melihat keributan itu. Pasalnya, keributan itu terjadi di ruang publik. Dimana orang yang datang ingin menikmati makan siang dengan suasana serileks-sesantai mungkin. Saya berusaha memahami mengapa mereka—mungkin sepasang kekasih—bertengkar—atau bagi saya membuat keributan—di ruang publik itu.

Dengan berbisik saya katakan ke Wahyu, “Walah ... anak-anak SMA ini kebanyakan nonton sinetron.” Ya, guru mana yang mengajarkan itu di sekolah, bahwa bertengkar di ruang publik adalah pantas. Hanya sinetron dan reality show-lah yang mengajarkan itu. Mengumbar kemarahan, kevulgaran, ketelanjangan di sebuat tempat umum, dimana hasrat marah dan narsis sedang bercampur.

Dengan lamat-lamat saya dengar gadis itu berkata ke beberapa temannya, lima sampai enam orang, “Harusnya tadi saya tampar aja dia!” Ilmu dari siapa lagi yang mengajarkan bahwa pertengkaran perlu diselesaikan dengan tampar-menampar atau kontak fisik? Sekali lagi, bisa jadi ilmu dari “Playboy Kabel” yang mengumbar kekerasan di muka umum.

Kalau mengalami kejadian itu, saya pikir Gery juga akan merasa terganggu. Di sisi lain, bisa jadi dia akan merubah pandangannya dari sekedar mengafirmasi sampai ke merefleksikan realitas. Agar tentunya, teman-teman muda kita tidak asal ngikut sesuatu yang sebenarnya tak tepat-tak pantas untuk dilakukan.

Dan akhirnya, alih-alih menghilangkan rasa suntuk, dengan keributan kecil itu, suasana santai, tenang dan rileks belum saya peroleh. Mungkin di hari lain, ketika saya suntuk, saya akan memilih opsi; tidur, nonton TV, memutar musik instrumentalis a la Kitaro, ke persawahan sembari memandang langit, atau pilihan lain, selain makan siang berdekatan dengan teman-teman SMA. []

Note: Telah dimuat di http://we-press.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Ide itu Bermula dari Vacuum Cleaner

Dikisahkan secara subyektif oleh: Firdaus Putra, HC.  Beli Vacuum cleaner Pagi ini saya dapat pesan WA dari Pak Hadi, tukang gorengan yang mangkal di pinggir kampus FISIP, Unsoed. Ia mengirim, “Halo, Mas. Mohon maaf mengganggu waktunya, saya mau balikin vacuum cleaner punya PEDI, harus ketemu siapa?”. Lalu vacuum cleaner itu tiba di Kopkun. Dan pertama kalinya saya lihat dan menyobanya sejak pertama kali dibeli. Jadilah saya ingat memori yang menempel pada  vacuum cleaner itu. Tak ada yang spesial dari bentuk vacuum cleaner di atas. Dibeli sekitar tahun 2017 sebagai inventaris Kopkun Institute. Sebabnya, saat itu Kopkun Institute punya ruang pelatihan beralaskan karpet. Jadilah butuh vacuum cleaner agar bersih dari debu. Lalu Kopkun beli gedung di depan Unsoed, yang sekarang menjadi Kantor Pusat. Aktivitas direlokasi semua ke Kantor Pusat dari sebelumnya di Kopkun 3, Teluk, Purwokerto Selatan. Ruang pelatihan itu jadi tak terpakai, begitu juga si vacuum cleaner . Lahir Ped...

Omnibus Law Koperasi, Pendirian Cukup Tiga Orang

Oleh: Firdaus Putra, HC. Pemerintah sedang menyiapkan undang-undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. Tujuannya ciptakan lapangan kerja baru dengan membangun regulasi yang memudahkan masyarakat berbisnis. Pasal pada undang-undang yang dinilai menghambat akan dihapus. Diprediksi omnibus law akan menyelaraskan 82 undang-undang lainnya. Ini terobosan yang luar biasa. Saat ini bila masyarakat ingin mendirikan koperasi, maka harus mengumpulkan sedikitnya 20 orang. Itu mengacu UU 25/ 1992 tentang Perkoperasian. Artinya 20 orang itu harus sepemikiran untuk membangun perusahaan bersama. Tentu tidak mudah, bukan? Bandingkan dengan Perseroan Terbatas (PT) yang cukup dua orang. Menurut saya pasal tentang 20 orang ini perlu dimasukkan dalam omnibus law mendatang.   Mengapa 20 Orang Penjelasan pasal 6 UU 25/ 1992 menyebutkan alasannya karena masalah kelayakan usaha. Mari kita rekonstruksi kondisi pada saat undang-undang itu lahir. Tahun 1990an kondisi ekonomi Indonesia sangat ...

Dunia Banyak Belajar dari "Chicken Soup":

dari DiaryBlog ke JournalBlog Oleh: Firdaus Putra A. Anda pasti pernah membaca buku Chicken Soup Series pada sekuel hidup tertentu, bukan? Saya membaca buku seperti itu saat duduk di bangku SMA. Cerita-cerita di dalamnya sungguh inspiratif dan membangkitkan semangat. Seringkali, cerita di dalamnya adalah true story , meski tidak harus succes story . Di Indonesia, tetralogi Laskar Pelangi yang dihelat Andrea Hirata bisa digolongkan dalam konteks serupa. Laskar Pelangi dengan kisah pilu dan heroiknya, merupakan teladan nan inspiratif bagaimana si Hirata kecil berusaha menggapai mimpinya ke Paris. Oleh komunitas penulis, buku itu dikategorikan sebagai literary non-fiction . Yakni sebuah karya sastra yang berbasis kisah nyata (non-fiksi). Di luar negeri, banyak buku kisah yang kaya inspirasi serupa Chicken Soup . Salah satu penulis yang termasyhur adalah Paulo Coelho dengan The Alchemist nya. Buku itu berkisah bagaimana seseorang (Santiago) yang ingin mencari dan membangun Per...